Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 05 Agustus 2012

Kusam




Wajahnya kusam. Rania paling tidak suka dengan wajah kusam yang selalu ditunjukkan Kukuh setiap hari. Wajah kusamnya seperti rumah-rumah di lingkungan tempat tinggal mereka.

Dahulu Kukuh tak begitu. Dahulu Kukuh selalu ceria. Dahulu Kukuh selalu tersenyum lantas muncul dekik di pipi kanannya. Dekik itu yang Rania suka.

"Aku kehilangan sesuatu," ucap Rania. Namun Kukuh tak peduli. Ia tetap menunjukkan wajah kusamnya hari ini.

"Aku kehilangan dekik di pipimu itu. Yang dulu membuatku naksir," Rania mencoba sekali lagi.

Kukuh tetap diam. Kukuh tetap tak bereaksi. Wajahnya kusam seperti rumah-rumah di sekitar tempat tinggal mereka.

"Apa ini soal Bapak lagi?" tanya Rania mencoba menebak.

Kukuh mengangguk lesu. Parut wajahnya kuyu.

"Bapak semakin menjadi-jadi," Kukuh berujar lirih. Matanya sayu.

Rania menghela napas seolah paham apa yg tengah dirasakan Kukuh.

"Tapi cemberutmu sungguh tak akan mengubah apa pun. " Canda Rania.

Sekejap Rania mengira Kukuh akan ikut tertawa. Ternyata tidak. Kukuh malah melemparkan pandangan tajam padanya.

"Kau tak akan mengerti, Ran." geram Kukuh.


****

"Semalam aku melihat Bapaknya Kukuh bersama seorang perempuan," bisik Karni. Sepulang mengaji di langgar.
"Pakaian perempuan itu sangat seronok. Menor pula wajahnya."

Rania menyimak dengan cermat. Namun tak berani berkomentar.

"Ada baiknya kamu berpikir untuk mencari ganti," Karni berbisik lagi. Kali ini berbau hasutan.

"Biasanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya."

Rania tertawa. Rania mencoba tak peduli. Meskipun di dalam hatinya mulai terusik.

"Kau mengenal wanita itu, Kar?" Rania penasaran.

Gelengan kepala Karni memberi jawaban. Meski dari bibirnya lantas berbisik, "Banyak yang sering menjumpai wanita itu di lokalisasi."

"Bersama Bapaknya Kukuh?" Karni pun tahu Rania merasa risih dengan pemberitaan ini.

Karni mengedikan bahu, "Entahlah, aku tak berani memastikan."

Di keheningan malam jalan kampung. Dengan lampu lima watt sebagai penerangnya. Rania mencoba tak menghiraukan perasaannya. Pada Kukuh yang tiap hari semakin menunjukkan wajah kusamnya.


****


Kukuh mengajak Rania ke pinggir kali. Tempat biasa mereka bersama. Kadang bercanda, kadang menyanyi bersama, kadang pula hanya terdiam.

"Tak ada salahnya kamu memperingatkan Bapak." hati-hati Rania berucap.
"Kasihan Ibu," lanjutnya.

Kukuh tengadah memandang langit. Melawan matahari sore yang lumayan menyengat kulit.

"Justru aku kasihan terhadap Bapak," terang Kukuh seraya tangannya menghalau matahari yang menyilaukan mata.

"Ibu terlalu egois," Kukuh melanjutkan bicaranya.

Rania terheran-heran akan ucapan Kukuh barusan. Bagaimana mungkin wanita pendiam seperti Ibunya dikatakan egois?

Peluh yang membasahi wajahnya tak ia hiraukan. Alisnya bertaut menandakan keheranan yang tiada batasnya.

"Sudah jelas-jelas Bapakmu yang salah. Hampir semua warga kampung tahu Bapak suka main perempuan."

Kukuh menggeleng tegas. Kukuh memprotes ucapan Rania.

"Kamu tak mengerti, Ran." Wajah Kukuh semakin kusam dan mengkilat.

"Kamu tak mengerti perasaan Bapak."

Lalu begitu saja Kukuh meninggalkan Rania sendiri. Di pinggir kali yang airnya coklat keruh. Seperti pikiran Rania saat ini.


****


"Kemarin aku mendengar mereka bertengkar hebat," suara Mbok Jum tukang sayur keliling lamat-lamat terdengar.

Rania menajamkan telinga. Ia begitu penasaran.

Ibu-ibu yang doyan bergosip terlihat bersemangat.

"Wanita menor juga ada di rumahnya," Bu Jamal sambil memilih sayur bersama itu pula menyebarkan berita.

"Kasihan Minah menangis meratap di kaki suaminya," Ibu yang lain ikut menyumbang berita.

"Kabarnya mereka mau bercerai."

"Cerai?" Rania menelan ludah. Lalu bagaimna dengan Kukuh? Apa mereka tak memikirkan perasaannya?

"Semuanya jauh lebih buruk dari apa yg mereka perbincangkan, Ran." ujar Kukuh ketika Rania menceritakan apa yang ia dengar hari itu juga.

"Cobalah bicara dengan keduanya." saran Rania.

kukuh terdiam.


****


Wajah Kukuh semakin kusam. Apalagi ketika tak sengaja Rania memergoki pertengkaran antara Bapak dan Ibu tadi sore. Di pelataran rumahnya yang kusam tak jauh beda dengan wajah Kukuh.

"Kini kau telah tahu, 'kan?" Pelan Kukuh bertanya. Ia takut sekaligus malu.

"Aku tak bisa menyalahkan keduanya, Ran." Kukuh mencoba memberi penjelasan.

Rania terdiam. Ia masih membisu. Dicobanya perlahan-lahan mengerti keadaan sebenarnya.

"Pokoknya aku tidak mau jika harus mempunyai anak lagi. Satu kesalahan saja itu sudah membuatku tersiksa." Terngiang ucapan Bapaknya Kukuh yang begitu kerasnya. Rania heran, ia semakin tak mengerti.

"Aku mohon, Mas. Beri aku anak perempuan." Dan isak tangis pun terdengar pilu. Dari mulut seorang Ibu.

"Jadi..." Rania meminta penjelasan.

"Kau tahu? Ibuku tak bisa hamil lagi. Namun dia ingin anak perempuan."

Rania menyimak dengan seksama. Ia tak ingin menyela Kukuh berbicara.

"Ibu ingin wanita menor itu hamil anak Bapak."

Rania tersentak kaget. Rasanya tak masuk akal melihat seorang istri menyuruh suaminya menghamili orang lain.

"Bapak teramat mencintai Ibu. Bapak berada pada pilihan yang sulit. Andai Bapak tak menuruti kemauan Ibu, mungkin keluargaku benar-benar berantakan seperti yang orang-orang itu bilang."

Rania memeluk Kukuh dengan eratnya. Rania mencoba memberi kekuatan pada kekasihnya. Dengan sayang yang semakin erat, seerat pelukannya. Agar tak ada lagi wajah kusam Kukuh yang sangat dibencinya. Agar dekik yang membuat dia naksir itu kembali tercipta.


Selesai.
Taiwan, 04.07.12

Persembahan Dirty




Dirty galau. Mukanya murung. Setiap hari wajah putihnya selalu ditekuk, kusut masai. Tak pernah sekalipun ia tersenyum. Bibirnya terkatup rapat.

"Come on, Coy. Mengapa kau tak pernah ceria akhir-akhir ini?" Lincak teman karibnya menegur.

Dirty tetap diam. Ia tak menyahut perkataan Lincak. Bahkan kini Dirty duduk membelakangi sahabatnya.

"Kalau ada masalah cerita saja, Dirty. That's what friend are for." Lincak mencoba melunakkan hati sahabatnya.

Disentuh bahu Dirty dengan penuh kasih, namun dengan sekali gerakan, Dirty mengibaskan tangan Lincak dari pundaknya.

"Biarkan aku sendiri, Lin. Aku butuh ketenangan," ucap Dirty pada akhirnya.

Lincak mengedikkan bahu pasrah. Dia berpikir mungkin Dirty sedang tak ingin diganggu.

"Kalau kau butuh tempat curhat, aku siap menjadi telinga untuk semua masalahmu," tutur Lincak sebelum akhirnya dia pergi. Memberikan ruang pada Dirty untuk menenangkan diri.

"Kau memang teman yang baik, Lincak. Namun entah mengapa hatiku iri padamu," lirih Dirty setelah dia memastikan Lincak tak ada di sebelahnya lagi.


****


"Untuk apa aku ada kalau tak berguna, Bom?" Isak lirih mewarnai ucapan Dirty kali ini. Bomway sahabatnya yang lain terharu melihatnya.

"Jangan suudzon begitu, Dirty. Tak mungkin Tuhan menciptakan makhluk itu secara sia-sia," bijak Bomway bertutur. Ia tak tahu harus bagaimana menghibur Dirty.

"Tapi nyatanya?" tantang Dirty, Bomway terdiam.
"Hanya aku yang tak diikut sertakan dalam setiap upacara perjamuan," lanjutnya. Tangisnya kini pecah.

Bomway bingung. Memang belum pernah sekalipun Dirty diikutkan dalam kelompoknya.

"Mungkin belum saatnya," ucap Bomway pada akhirnya.

Dirty tetap menangis. Dalam hatinya semakin diliputi rasa dengki pada teman-temannya.

Aku benci. Aku tak suka pada kalian semua, batin Dirty.

Dia semakin sedih, saat semua teman-temannya dimandikan untuk diajak ke upacara perjamuan malam ini. Dirty hanya mampu menggigit bibir saat mendengar riuh rendah kawan sebangsanya bercanda di bawah pancuran air.

"Kapan aku bahagia bersamamu kawan?" batinya kelu.


****


Merupakan kebanggaan tersendiri jika diikut sertakan pada upacara perjamuan tiap pekannya. Selain karena menjadi insan pilihan, juga karena akan bertemu Titi, gadis manis pemilik kulit putih dan bertangan lentik.

Hampir semua teman-temannya pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana mulusnya kulit Titi. Bahkan tak jarang dari mereka merasakan sentuhan jari lentiknya. Hanya Dirty saja yang belum pernah mengalami semua itu.

"Tuhan, tak Kau ijinkan kah aku menikmati lembutnya tangan idolaku barang sebentar?" tanya Dirty galau.

"Aku benar-benar terpesona olehnya, Tuhan," lanjutnya.

Lantas tiba-tiba saja Dirty mempunyai ide. Dia akan protes pada penguasa bagian.

"Kalau tidak diijinkan juga aku ikut perjamuan, maka aku akan mengajukan ritual sati," ancam Dirty.

Tentu saja itu membuat penguasa bagian kaget, "Hati-hati bicaramu, Dirty. Suatu aib jika salah satu anggota bagian ini melakukan ritual sati."

"Biarkan saja aku membusuk, daripada hidup tapi tak berguna." Dirty putus asa.

Kenyataannya penguasa bagian tak memberikan solusi. Dirty benar-benar kacau. Dia tak tahu lagi cara apa supaya dia bisa mengikuti upacara perjamuan.

"Titi, dengarkah kau rintihan hatiku?"

Lagi-lagi Dirty menangis pilu.


****


Matahari bersinar terik. Dirty berjalan gontai penuh peluh di wajahnya. Dahulu mukanya yang putih bersih kini sudah mulai menghitan. Namun ia tak menyesal, dengan semangat 45 dia terus berjalan penuh harapan pada satu tempat yaitu pabrik perubah nasib.

"Meski aku tak pernah diajak upacara perjamuan, tapi aku tak patah semangat," tegas Dirty. Keringat semakin membanjiri tubuhnya dan itu mengakibatkan dagingnya berkerut.

"Aku persembahkan jiwa dan ragaku untukmu Titi." Dengan bangga Dirty tertawa. Meski fisiknya kini semakin melemah. Ia tahu, pabrik perubahan nasib itu akan meminta nyawanya sebagai persembahan pada sang nirwana.

Sapuan angin sepoi-sepoi memberi efek dingin pada tubuh Dirty yang semakin layu. Sudah dipastikan lagi umurnya tak akan panjang. Matahari adalah salah satu pantangan Dirty untuk bertahan hidup.

Di tengah-tengah dia meregang nyawa, masih sempat-sempatnya dia berpantun.

Tak ada orang yang menyukai beludru
Mereka lebih suka pada kain batik
Kan kuucapkan terimakasih untuk sahabatku
Si Lincak Daun Bawang yang cantik.

Kain batik itu berwarna biru
Dilukis lilin oleh sang penguasa
Aku juga tak akan melupakan jasamu
Untuk Bomway Kol yang bijaksana.

Berbahagialah kalian mandi di pancuran
Jangan pernah ada air mata menitik
Aku yakin kalian sedang upacara perjamuan
Dimasak sup oleh Titi bertangan lentik.

Disini aku meregang nyawa
Terbakar ganas api dunia
Mungkin aku tak pernah ikut upacara
Namun aku akan jadi kripik yang terhidang di atas meja.

Kalau kalian upacara perjamuan
Jangan lupa senyum terpampang
Aku menyayangi kalian semua kawan
Salam dariku Dirty Jamur Yang Malang.


Tamat
Taiwan, 17.07.12

Girl on The Window


Girl on the window, aku menjulukinya seperti itu. Gadis yang kuperkirakan seumuran denganku itu selalu berdiri di balik jendela setiap aku berangkat kuliah. Rambutnya ikal sebahu dengan warna coklat. Matanya bulat namun tatapannya kosong, dengan bibir pucat terukir tipis di bawah hidungnya yang mancung.

Layaknya pagi yang lain, pagi ini pun kulihat gadis itu berdiri di balik jendela. Baju tidur warna hitamnya menarik perhatianku. Setelah kuingat-ingat, setiap kali aku melihat gadis itu dia pasti mengenakan baju warna hitam.

"Jangan menatapnya," bisik Randu, teman satu kostku.
"Jangan sampai bersitatap dengannya, atau kau akan mendapati hari sial," lanjut Randu.

Aku ingin bertanya, namun isyarat mata Randu mengurungkan niatku.

Setelah sampai di halte tempat biasa kami menunggu mobil jemputan kampus, aku baru berani bertanya.

"Aku penasaran pada gadis itu. Aku menjulukinya girl on the window," paparku. Randu tak merasa heran. Dia mulai membuka komik doraemon kesayangannya.

"Kenapa kau bilang tadi akan sial?" lagi aku tanya. Rasa ingin tahuku begitu besar.

Randu menutup komik bawaannya. "Namanya Husna. Asma'ul Husna. Menurut cerita dia peramal yang handal."

Aku terkesiap. Untuk nama seindah itu berprofesi sebagai peramal? Mustahil.

"Namun dia menjadi gila, sesaat setelah mengetahui ajalnya tak berapa lama lagi."

Mataku membulat tak percaya. "Kau bercanda," tangkisku.

Namun Randu mengedikan bahu, " Terserah mau percaya atau tidak. Menurut cerita yang kudengar seperti itu."

Aku terdiam. Hatiku menangkal apa yang kudengar. Tak mungkin gadis secantik Husna jadi peramal dan sekarang gila. Ini tak masuk akal.


****


Masih sama. Aktivitas Husna tak jauh berbeda. Berdiri di belakang jendela dengan tatapan yang tetap kosong. Agak sedikit beda hari ini karena baju hitam berenda-renda yang dipakainya dilengkapi dengan kain panjang penutup kepala warna hitam senada. Mungkin itu jilbab, batinku.

Husna terlihat lebih manis jika seluruh auratnya tertutup seperti sekarang. Meski masih agak pucat, tapi menarik bagiku.

"Astaghfirullahaladzim," cepat-cepat kupindahkan pandanganku dari wajahnya.

Bukan karena takut menemui hari sial seperti yang Randu bilang, namun aku tak mau menikmati wajah lawan jenis yang bukan mahromku.

Jujur, terkadang ada rasa takut jika harus melewati jalan samping kost ku ini sendiri. Suka merinding ketika tanpa sengaja kudapati Husna tertawa cekikikan, atau saat tak kutemui dia berdiri di balik jendela dan lamat-lamat kudengar suara jeritan histeris.

"Dia lagi kumat," biasanya Randu akan berucap seperti itu.
"Husna sedang diruwat dan yang menjerit itu setan yang ada di dalam tubuhnya." Komentar asal Randu.

Aku tak pernah begitu saja percaya ucapannya. Pemuda kocak teman kost ku itu memang suka berkelakar.

Sebenarnya ada jalan lain selain jalan samping kost ku ini. namun aku jarang sekali melewatinya. Selain karena rutenya memutar dan akan lebih jauh untuk mencapai halte tempat biasa aku menanti bus jemputan kampus, tapi juga jalan alternatif lain itu banyak sekali preman yang suka mangkal malak anak kuliahan seperti aku. Bukan berarti takut, tapi cari aman saja.

Dan juga, aku jadi lebih tahu kebiasaan-kebiasaan rutin Husna, girl on the window penarik perhatianku.

Seperti hari ini, aku tahu jadwal Husna untuk diteraphy. Lebih enak kusebut begitu daripada diruwat seperti kata Randu. Ada seorang Ustadz dilihat dari pakaiannya serta sorban di kepalanya akan selalu datang ke rumah Husna. Sudah kuhafal luar kepala Ustadz itu akan menanti bus di halte yang sama denganku.

"Baru dari rumah Mbak Husna ya, Ust?" kuberanikan diri bertanya.

Ustadz itu memandang sebentar ke arahku dan kemudian tersenyum ramah. Tak lama berselang, obrolan akrab telah terjalin di antara kita. Dari beliaulah kutahu Husna tidak gila.

"Mbak Husna suka sekali mendengar lantunan ayat suci. Itu akan mengingatkan pada tunangannya," tutur Pak Ustadz itu.

Aku yakin sekali Husna tidak gila. Hanya sedikit terganggu jiwanya karena kata Pak Ustadz, tunangannya pergi pas di acara lamaran yang diadakan.

"Dia sedang mengalami NADIR dalam hidupnya," lanjut Pak Ustadz.

Aku mengangguk-angguk. Masuk akal memang.


****


Sore yang cerah aku tak ada kegiatan. Tak ayal mendadak aku ingin menulis. Memang laki-laki teman sefakultasku jarang yang masih memiliki diary sepertiku. Ah, apa salahnya? Meski terlihat seperti hobby perempuan, yang penting aku suka. Cukup itu saja.

Dari ujung gang depan kost ku samar-samar kutangkap dua orang berjalan mendekat ke arahku. Baju hitam itu. Aku tak asing pada baju hitam itu. Baju yang sama seperti milik Husna.

Saat sudah agak dekat baru kuyakini tebakanku benar. Dia Husna bersama wanita paruh baya, mungkin beliau adalah ibunya. Ini pertama kalinya aku melihat Husna bukan melalui bingkai jendela, namun melalui tatapan langsung. Husna benar-benar memukau.

Aku tersenyum mengangguk sebagai bentuk ramah tamah. Bukan senyum balasan malah yang ada amukan mengerikan.

"Pergi kau dari hidupku! Penipu!" Terang saja aku kaget. Husna merebut buku yang sedang kupegang, merobek kertas di dalamnya dan membuangnya begitu saja.

"Eh, maaf. Maafkan anakku, Nak." Ibu Husna berucap tak enak hati. Aku tersenyum menanggapi. Kukatakan aku tak mempermasalahkan hal ini.

Dan merekapun pergi. Tak sengaja kutangkap sinar ketakutan dan trauma yang mendalam dari mata Husna.

"Rumor yang beredar, dulu Husna bisa menuliskan kematian," terang Bapak kostku. Seketika itu juga setelah Husna dan ibunya menghilang aku bercerita tentang apa yang baru saja terjadi.

Alisku mengeryit, "Berarti benar kalau Husna peramal?"

"Konon dia mendapatkan buku ajaib itu dari seorang peri. Apapun yang ditulis Husna pada buku itu, maka esoknya hal tersebut akan terjadi."

"Seperti sihir," bisikku lirih.

"Entahlah, aku sebenarnya tak percaya. Sebelum..."

"Sebelum apa, Pak?" kejarku.

"Sebelum akhirnya aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Husna menjerit seperti kesetanan tepat di hari pertunanganmya."

Aku tak berkomentar. Aku sedikit berpikir, kalau memang Husna yang menuliskan kegagalan pertunangannya sendiri, mengapa ia harus gila? Ini janggal.


****


Penasaranku pada Husna semakin menjadi-jadi lantas berubah menjadi simpatik. Seharusnya ia bisa belajar IKHLAS.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertemu dengan Husna lagi. Aku ingin berbicara dengannya. Aku bersaha membujuk ibunya untuk mengijinkanku bertemu Husna dan IKHTIARku berhasil. Meski dengan wanti-wanti yang tak berkesudahan, ibu Husna memberikan aku waktu untuk melihat Husna.

"Kalau Husna mulai tak suka, kamu segera menjauh saja," pesan ibu Husna.

Aku mengangguk. Lantas aku mengikuti langkah wanita paruh baya itu menuju teras belakang rumahnya. Tempat favorit Husna begitulah keterangan yang dipaparkan Ibu Husna.

Aku melihatnya. Aku menyaksikan Husna sedang asyik memberi makan pada ikan di kolam kecil di hadapannya. Aku melihatnya. Dia tetap memakai baju warna hitam. Husna tetap diam meski dia menyadari aku ada di sebelahnya.

"Maafkan atas kejadian kemarin, Nak." Teguran ibu Husna mengagetkanku. Aku mengangguk takzim.

"Kamu percaya apa yang orang-orang itu bilang tentang Husna?" tanya Ibu Husna lagi, aku menggeleng.
"Aku yang salah, Nak. Dan aku menyesal karena keegoisanku Husna mengalami hal ini," lanjutnya.

Dalam hatiku terkejut, tapi aku berusaha menguasai keadaan. Kutunggu Ibu Husna melanjutkan penjelasannya.

"Aku yang mengarang cerita tentang Husna dan buku itu. Aku malu karena pertunangan Husna harus gagal karena kekurangan Husna. Tapi aku tak pernah berpikir jika akibatnya anakku jadi begini." Ada sendu di bola mata Ibu Husna. Ada penyesalan yang dalam pada setiap kata-katanya.

"Calon tunangan Husna tak mau jika ia mendapati calon istri yang mengidap epilepsi. Dia tak datang, tak pernah datang. Di saat yang bersamaan di hari pertunangan itu, penyakit Husna kambuh disaksikan tamu undangan."

Aku memperhatikan dengan seksama. Kuamati Husna yang tetap asyik dengan ikan-ikannya.

"Aku yang menulis di buku itu. Aku yang menyebarkan berita bahwa Husna bisa menuliskan kematian. Aku yang menyebabkan Husna gila, Nak. Dan aku menyesal."

Aku terharu. Tak tahu kata-kata apa yang tepat untuk memberi kekuatan pada Ibu Husna.

"Bu, bolehkah aku mengkhitbah Husna?" tanyaku lirih.

Ibu Husna memangdangku tak percaya. Dan akupun menunduk. Aku tak tahu kata yang tepat untuk menenangkan mereka. Hanya kata itu yang aku ucapkan. Cukup kata itu.


Tamat.
Taiwan, 18.07.12

Jumat, 13 Juli 2012

Cerita Mini Juli



MALAM MINGGU KELABU.
By. Rahayoe Wulansari.


Mia panik ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 6.30 malam.

"Omaigaat! Aku bisa terlambat, nich!" pekiknya.

Mia bingung. Mia kebakaran jenggot.

"Sebentar lagi Rizky akan menjemputku dan aku belum berdandan sedikitpun?"

Mia bergegas beranjak dari ranjangnya. Segera ke kamar mandi dan membersihkan badan seperlunya.

"Aku tak mungkin tampil berantakan di depan Rizky," Mia kembali panik. Dengan ekstra cepat dia sapukan bedak dan sekawanannya ke mukanya yang sembab.

Mia bergegas keluar kamar karena melihat jam sudah menunjukkan tepat pukul tujuh. Diluar kamarnya keluarga Mia sedang berkumpul bersama beberapa orang tetangga.

"Mia kau mau kemana, Nak?" tanya Ibu Mia lembut.

"Ini kan malam minggu, Bu. Sebentar lagi Rizky pasti menjemputku. Kita sudah janjian makan di luar."

Seketika itu juga air mata luruh terjatuh di pipi Ibu Mia. Kesedihan juga terpancar dari wajah semua orang yang menyaksikannya.

"Sadarlah, Nak. Ikhlaskan Rizky pergi," tutur Ibu Mia sambil membimbing Mia masuk kamar.

Dan semua orang pun berduka. Dan semua orang pun berdo'a. Memberi kekuatan pada Mia yang depresi akibat ditinggal Rizky tepat 100 hari yang lalu.


Taiwan, 01.07.12


****


ANAK KITA.
By. Rahayoe Wulansari.


"Ssstt! Jangan berisik! Anakku sedang tidur!" bentak seorang wanita.

Lusuh mukanya.

"Berikan anak itu padaku, Mirna." seorang lelaki membujuk. Sama lusuhnya dengan sang wanita.

"Ssstt! Jangan berisik! Aku sedang ingin menggendongnya." lagi wanita berucap kini dengan senyum menghiasi wajahnya.

"Lihat, Arman. Mukanya sangat mirip denganmu," lanjutnya dengan berbisik.

Dengan mengendap-endap dua orang berjalan di belakang sang wanita. Dan dengan sigap menyergap sang wanita.

Lelaki mengetahui peluang itu dengan segera merebut bayi di gendongan Mirna.

Ia meronta. Ia berontak.

"Tidak! Kembalikan anakku. Dia sedang tidur jangan diganggu!"

Sang lelaki memberikan bayi itu kepada yang lain.

"Sadar, Mirna. Anak kita harus segera dikuburkan."


Taiwan, 02.07.12


****


PENA BERBICARA.
By. Rahayoe Wulansari.


BRAAAKK!

Ayah mendobrak meja dengan kerasnya. Tania kaget. Spontan buku yang sedang dibacanya terlepas dari tangan dan dengan sigap dia mengelus dadanya. Jantungnya berasa mau loncat.

"Tak bisakah kau hentikan kegiatan leha-leha mu itu? Kau terlihat seperti pemalas, Tania!" bentak Ayahnya.

Tania diam. Tania ingin menjawab, namun lidahnya kaku tak bergerak.

"Pergilah ke kebun, atau mencangkullah di sawah! Itu lebih berarti ketimbang kau bergumul dengan buku dan pensilmu setiap hari!" Lagi suara sengit Ayah dengarkan di telinga Tania.

"Eh, ah, eh." Tania mencoba menerangkan. Dibantu tangannya memberi isyarat.

"Apa? Kau mau bilang apa? Tak usah membela diri. Sekuat apapun kau berusaha mencapai impianmu, wanita sepertimu itu akan kembali ke dapur. Jadi jangan terlalu muluk dalam bermimpi, cukup bisa baca tulis saja sudah beruntung." Ayah kembali dengan pikiran kolotnya. Dan Tania geram.

Tiba-tiba saja ia berdiri. Menyobek kertas dengan kasar dan cepat-cepat dia menulis. Tangan mungilnya menari lincah berdansa dengan sang pena. Beberapa detik kemudian diserahkannya kertas itu kepada Ayah.

Lelaki kurus itu membaca dengan terbata-bata.

"Jangan halangi saya menulis, Yah. Karena dengan menulis, saya bisa menjadi berarti. Memang saya gadis cacat, tapi saya berani bermimpi. Tolong hargai cita-cita saya, Yah. Kau tahu? Gadis tuna wicara seperti saya hanya bisa bicara melalui pena."

Taiwan, 03.07.12


****


BISIK RINDU.
By. Rahayoe Wulansari.


Senyumnya masih sama, manis seperti biasa. Matanya juga, coklat dengan pandangan tajam seperti dulu. Suara baritonnya masih tegas mengetarkan kalbu.

"Apa kabar?" tanyanya padaku.

Kujawab dengan sangat hati-hati agar tak terlihat ada getar rindu yang tak tertahankan dari suaraku.

"Kamu tambah cantik saja." Entah dia memuji atau hanya basa basi. Yang jelas hatiku berbunga-bunga karenanya.

Aku sadar, perlakuan lembutnya itu yang membuatku jatuh cinta.

"Ibu sehat saja, 'kan?"

Aku mengangguk halus. Cepat-cepat kualihkan suasana. Aku tak ingin akhirnya dia tahu perasaanku.

"Mbak Dini di mana, Mas?" tanyaku kemudian.

Dia tersenyum seraya menunjuk dapur tempat keberadaan Kakak perempuanku. Dan aku segera pamit menemui Mbak Dini, sebelum aku pingsan karena terlalu terpesona padanya. Kakak iparku.

"Maaf, Mas. Cinta ini masih bersarang indah di hatiku. Meski kau tak pernah datang lagi ke kamarku seperti waktu kita masih tinggal satu atap. Aku merindukan malam-malah penuh desah itu." Batinku berbisik rindu.


Taiwan, 04.07.12


****


SURAT DARI TAIWAN.
By. Rahayoe Wulansari.

"Sebentar lagi anakku pulang," Mak Marni lagi-lagi berucap dengan riang.

Memberitakan pada setiap orang yang ditemuinya di manapun dia berada.

"Nanti kalau dia pulang, aku mau mengadakan selamatan." Kali ini ada nada pamer di ucapannya.

Hampir tiap orang tahu. Hampir semua orang mengerti. Akan ulah Mak Marni yang terlalu membangga-banggakan anaknya.

"Dia pasti bawa oleh-oleh buat kalian semua. Anakku bilang akan membawa banyak barang dari Taiwan."

Namun semua orang diam tak menanggapi. Mungkin jengah atau pula miris melihat ulah Mak Marni.

"Lihat, nih. Surat dia dari Taiwan. Dia bilang sebulan lagi akan pulang." Dan Mak Marni pun tertawa terbahak-bahak. Suaranya keras membahana.

Setiap orang telah paham. Hampir semua orang telah membaca surat anak Mak Marni. Yang di dalamnya bertuliskan, "Anak Ibu mengalami kecelakaan kerja di Taiwan dan meninggal dunia. Jenazahnya akan segera kami pulangkan ke Indonesia."


Taiwan, 05.07.12


****



AGUSTUS, AKU BENCI.
By. Rahayoe Wulansari.


Badanku memang gemuk dengan lengan yang besar, paha yang tak kalah besar, pantat yang lebar dan perut yang buncit. Pipi tembem dan hampir semua bagian tembem.

Aku tak suka bentuk tubuhku, bahkan aku benci. Sebenci aku pada bulan yang akan datang. Agustus.

"Besok ada lomba tarik tambang, kamu ikut ya, Mbem." Rani bicara padaku lengkap dengan panggilan khasnya untukku.

"Atau kau mau ikut lomba makan kerupuk?"

Aku menggeleng tegas. Rani sejenak memandangku dari atas ke bawah dengan seksama.

"Kalau kamu ikut balap karung aku yakin pasti kalah. Badan kamu terlalu..." Rani tak melanjutkan kata-katanya.

Aku tahu kelanjutannya. Aku sudah bisa menebaknya. Tapi aku tak perduli.

"Pokoknya aku nggak mau ikut lomba apapun. Aku benci bulan Agustus." Aku pun berlari.

Terus berlari tak berhenti. Seperti air mata ini yang terus mengalir. Aku benci bulan Agustus dan semua lomba-lombanya. Karena ketika semua orang sibuk mempersiapkan peringatan kemerdekaan itu maka aku sangat bersedih. Tepat ketika semua orang rumah menonton lomba, aku yang sedang demam di rumah bertambah menggigil karena digagahi oleh ayahku sendiri. Ayah tiriku.


Taiwan, 06.07.12


****


HANDUK KERAMAT
By. Rahayoe Wulansari.


Anita selalu marah jika handuk hijau garis-garis putih itu kupakai. Apalagi jika handuk itu sampai basah. Dan aku heran karenanya.

"Gunanya handuk itu untuk mengelap badan, ya pasti basah lah," kilahku. Di suatu pagi yang sejuk di hari Minggu.

Anita cemberut. Dengan sigap dia memasukkan handuk kesayangannya ke dalam mesin cuci. Dan 'klik' handuk hijau itu berputar-putar bersama air dan detergen.

"Memangnya ada cerita sejarah apa to dari handuk itu?" tanyaku.
"Sepertinya keramat sekali," lanjutku menggoda.

Anita terdiam lalu menangis.

"Loh, apa aku salah ucap?" Aku kebingungan sendiri. Mungkin kata-kataku menyinggung perasaan Anita.

Kuraih gadis itu kepelukanku, "Maafkan aku, An. Aku janji nggak akan pakai handuk itu lagi."

"Bukannya keramat, tapi itu handuk khusus untuk Acay."

Kini gantian aku yang cemberut, karena kutahu Acay adalah anjing yang baru dipungut Anita di pinggir kali sebulan yang lalu.


Taiwan, 07.07.12


****


HUSH PERGILAH KAU!
By. Rahayoe Wulansari.


Kau datang lagi. Mengusik ketenanganku. Mengganggu kenyamananku.

Padahal sudah berulangkali kuingatkan kau, jangan kembali padaku.

"Atau jangan pernah datang lagi di hidupku selamanya!" teriakku terakhir kali kita bersama.

Namun sepertinya kau sudah bebal akan hardikkanku setiap kau kembali.

"Tak punya malu kau!" lagi dengan kasar aku mengumpat di depan matamu. Namun kau hanya diam.

Seperti biasa kau hanya menatap tak peduli padaku. Yang lain dari kali ini adalah kau mengotori daerah kekuasaanku.

CROOT.

Dan kau meninggalkan kotoranmu kali ini.

"Ayam sialaaann!"


Taiwan, 08.07.12


****


SENYUM PUCAT KAMBOJA.
By. Rahayoe Wulansari.


Apa yang kau katakan itu sungguh-sungguh? Apa benar kau ingin tahu kabarku? Aku tak yakin.

"Aku baik-baik saja," dustaku.

Ya, aku harus begitu. Aku harus berdusta padamu agar kau tak merasa bersalah.

"Kapan kau akan menikah?" Satu pertanyaanmu yang tak bisa kujawab.

Bukan lantaran tak ada lelaki yang melamarku, namun entahlah, aku masih mengharap waktu bisa diputar kembali.

"Secepatnya." Lagi-lagi aku berbohong padamu. Dan sepertinya kau tahu aku tak jujur. Ketika tak sengaja kupergoki matamu yang tajam menatap cincin di jari manisku.

"Dia pasti lelaki beruntung. Dia pasti bisa membahagiakanmu." Ucapanmu membuat mataku meremang seketika.
"Pergilah..."

Aku menggeleng. Batinku berteriak, bolehkah aku memelukmu? Untuk yang terakhir kalinya. Kumohon.

Namun kau memalingkan wajahmu, "Dia telah datang. Dia telah menjemputmu."

Seketika aku sadar, calon suamiku sudah menunggu. Lantas aku pun cepat-cepat berlalu darimu.

"Sudah ziarahnya, Honey?" sambut Alfarizy tunanganku sesaat setelah aku dekat dengan dia berdiri.

Anggukan kecil mewakili. Dan kamboja pun menjadi saksi, senyum pucatnya mengiringi langkahku.


Taiwan, 09.07.12


****


SUARA HATI
By. Rahayoe Wulansari.


Aku sedang ingin menulis. Apa saja yang ada di otakku. Yang sudah pasti aku sedang rindu. Kau yang ada di belahan dunia lain.

"Aku rindu," selalu kuteriakkan itu.

Apa kau ingat padaku? Apa kau memikirkanku? Apa kau peduli padaku? Kalau iya, kenapa kau diam saja?

"Apa kabar?" mungkin itu yang pertama kali kutanyakan padamu. Sehatkah kau di sana?

"Cantik. Kau pasti bertambah cantik. Aku yakin itu." Dan begitu saja air mata ini luruh. Runtuh bersama rindu yang semakin mengembang. Membasahi foto buram dirimu di pangkuanku. Satu-satu.

Tetes air mata itu membentuk banyak bulatan tanya, mengapa kau tega melakukan ini padaku?

"Ibu, kapan kau pulang?"

Lalu Ayah masuk kamarku. Beliau bilang, "Sudahlah, Nak. Pasrahkan saja sama Tuhan. Semoga Ibumu cepat mendapat bantuan. Aku yakin Ibumu tidak salah, aku jamin itu. Dia hanya membela diri, saat majikannya ingin menggagahi."


Taiwan, 10.07.12.


****


KECEWA
By. Rahayoe Wulansari.


Menunggu itu membosankan. Sangat membosankan. Waktu serasa berjalan sangat lambat. Aku bahkan bisa menghitung detik per detik yang ada.

"Huff, kenapa belum datang juga?" ucapku resah. Pintu dan jendela menjadi pemandangan favoritku.

"Padahal sudah lewat dari jam nya," gusarku.

Ah, aku jadi semakin resah. Marah. Mulutku cemberut, dadaku berkerut.

"Kalau satu jam lagi tak datang, maka aku akan...."

Kring kring kring.

Dan kudengar suara itu. Maka tanpa ba bi bu lagi kuberlari menyongsongnya.

"Bang, es tong-tong nya satu. Yang rasa coklat," sebutku tanpa basa-basi.

"Maaf, Neng. Saya bukan tukang es. Ini ada paket atas nama Bapak Soekadjar, apa betul ini rumahnya?"

Dalam hatiku menggerutu, yah.. kukira tukang es langganan.


Taiwan, 11.07.12


****


MENYESAL.
By. Rahayoe Wulansari.


"Dah tobat nih, Girl?" Rara menatapku aneh. Dengan gamis yang kupakai, jilbab panjang menutupi dada. Hanya cadar saja yang belum.

"Kesambet setan apa kamu, Girl?" Rara masih saja menggoda. Aku diam.

"Atau karna ketemu ustadz yang ganteng dan gaul kamu jadi ingin memakai jilbab?" Aku tersenyum simpul.

"Ini sudah menjadi kewajiban muslimah untuk menutup aurat, Ra." Aku menjawab dengan bijaksana.

Cukup itu saja yang aku jadikan alasan. Biarkan Rara hanya tahu kalau aku sadar karena mendapat hidayah. Memang kenyataannya aku merasa aman dan terlindungi ketika seluruh tubuhku tertutupi. Aku tentram karenanya. Cukup sampai disitu saja Rara mengerti, tak perlu yang lain lagi.

"Kenapa kau melakukan ini, Om? Bukankah aku anak dari kakakmu?" Tiba-tiba kejadian malam itu kembali teringat. Memaksa untuk keluar merajam penyesalan ke tubuhku.

"Bagaimana aku tak tergoda? Jika setiap kali kau berpakaian sexy di hadapanku? Aku laki-laki normal."

Air mata begitu saja luruh, membasahi lekuk pipiku. Dan aku menyesal.

Taiwan, 12.07.12





MAS PRIYO.
By. Rahayoe Wulansari


Semua orang marah, semua keluargaku menyalahkanku. Semua orang mengatakan aku bodoh, tatkala aku memgambil keputusan ini.

"Kurang apa Priyo di matamu, Ning?" desis Ibuku. Jelas saja beliau tak terima aku minta cerai pada Mas Priyo suamiku. Dalam silsilah keluargaku, tak ada yang bercerai barang satupun.

"Apa Ayah kurang dalam mendidikmu, Ning? Sehingga kau punya pemikiran yang kurang waras seperti ini?" Amarah kali ini terucap dari bibir Ayahku yang pendiam.

Semua orang tahu Mas Priyo orang yang baik, pekerja keras. Hampir semua orang mengakui Mas Priyo orangnya cakep, gagah, tapi tak pernah mau main perempuan.

Bahkan aku pun mengakui kalau Mas Priyo memang tampan, salah satu alasan mengapa aku mau saja menerima lamarannya tiga tahun yang lalu. Meski aku belum pernah mengenal Mas Priyo sedikitpun.

"Jangan-jangan karena kau punya simpanan," Ibuku menuduhku. Aku menunduk. Diam.

Mas Priyo orangnya baik, terlalu baik malah. Sudah barang tentu semua orang suka padanya. Simpatik. Saat aku tiba-tiba meminta cerai, hampir semua keluargaku menganggap aku gila. Tak waras.

Lantas meskipun Ayahku telah memberi ultimatum, andai aku tetap pada pendirianku, maka beliau tak menganggap aku anaknya lagi.

Namun aku tetap bergeming. Aku tetap melayangkan gugatan ceraiku ke pengadilan. Aku tak tahan. Aku bukan wanita tegar seperti pahlawan. Aku manusia biasa yang membutuhkan kasih sayang.

"Ayah, Ibu, maafkan Nuning. Terpaksa Nuning tetap mau bercerai."

Ayah terdiam, Ibu geram. Aku tetap pada bisiku. Biarlah mereka menilai aku yang keterlaluan, atau apapun pikiran mereka terhadapku.

Mereka tak perlu tahu aku masih perawan meski sudah tiga tahun menikah. Karena di malam pengantiku Mas Priyo berucap jujur, "Maafkan aku Dik Nuning. Aku tak bisa menafkahi batinmu selayaknya suami istri, karena tujuanku menikahimu supaya aku bisa dekat dengan Mas Ardi, kakakmu. Terus terang aku mencintai kakakmu."

Tanpa kusadari tanganku mengepal erat menahan sakit yang tak terperi.


Taiwan, 13.07.12


****


TENANG.
By. Rahayoe Wulansari.


"Bagian tubuhmu mana yang nggak sakit, sih?" tanyaku geram. Nenek terdiam.

"Begini sakit, begitu sakit." Aku marah. Aku bosan.

Hampir setiap detik nenek yang kurawat mengeluh. Sepertinya setiap inci dari tubuhnya tak ada yang nyaman.

"Kau bisa diam tidak?" bentakku kali ini. Sudah cukup panas telingaku mendengar keluhannya. Dari ujung kaki sampai ujung rambut, apapun yang kusentuh pasti dia teriak nelangsa.

Namun hari ini lain. Namun hari ini nenek tak berteriak lagi, meski kupijit kakinya cukup keras, meski kuangkat tubuhnya dengan cepat. Dia tenang saja.

"Nah, begini lebih bagus." Aku berbisik lega.

Kutatap wajah nenek yang tenang dan aku tersenyum tertahan. Ingin memekik gembira tapi kutahan.

Nenek diam. Karena diam-diam obat tidur berdosis tinggi itu kumasukkan dalam sup makan siannya.


Taiwan, 14.07.12.


****


CEMBURUKU TAK KELIRU.
By. Rahayoe Wulansari.


"Kalau status dia bukan mantanmu, mungkin aku tak akan mempermasalahkannya!" Tenggorokanku serak. Aku berharap teriakanku ini mampu menyadarkanmu jika aku tak suka padanya.

Kau malah terbahak. Kau menganggap sikapku ini kekanak-kanakan. Tak dewasa.

"Cemburumu keliru. Aku dan dia hanya teman saja," elakmu.

Leherku kelu menahan amarah. Dadaku berdegup kencang tak beraturan. Aku kesusahan untuk mengutarakan. Aku tak mampu menyadarkanmu. Bukan hanya karena ingin cintaku diakui.

Hanya saja masih kuingat jelas kata-katanya, " Aku mau berteman dengannya itu bukan karena aku masih sayang, tapi dia kaya dan aku butuh uangnya."

Aku yakin cemburuku tak keliru.


Taiwan, 15.07.12


****


TERLANJUR JANJI
By. Rahayoe Wulansari.


Maaf, jika lebih dari teman yang kau mau aku tak bisa menurutinya.

"Apa kau tak tahu, perhatianku selama ini karena aku suka kamu?" Hanya diam jawabanku.

"Aku tunggu sampai senja, jika kau tak bicara juga maka kuanggap kau ingin aku pergi."

Perang batin terjadi di dadaku. Sungguh, betapa ingin aku teriak mengucapkan, "Ya, aku mau."

Lantas kita tertawa bersama, menyambut senja terindah kita.

Tidak seperti sekarang. Membisu tak bergeming melihat kau melangkah pergi setelah mentari ditelan cakrawala.

Aku tak akan begini, sebelum kudengar dari mulut Talita, "Aku suka padanya, Kak. Teman Kakak yang hampir setiap hari datang itu. Hatiku diam-diam telah tercuri sebelum benar-benar dicuri."

Aku akan dengan senang hati memelukmu, menyambut cintamu jika tak ingat janjiku pada ibu dulu, "Jaga Talita sebaik mungkin. Kasihan dia, orang tuanya tega membuangnya di tempat sampah. Tepat di depan rumah kita."

Dan aku terlanjur berjanji.


Taiwan, 16.07.12


****


AMARAH IBU
By. Rahayoe Wulansari

Terang saja ibu tak suka. Terang saja ibu marah. Sudah berkali-kali aku dinasehati, masih saja bengal.

"Apa susahnya memanggil dia Ayah? Toh selama ini dia yang mencari uang." Ibu geram. Ibu berteriak emosi.

"Kurang baik apa dia padamu, heh?" Aku membisu.

"Apa ini yang diajarkan Bapak kebanggaanmu itu? Untuk melawan orang tua?"

Rahangku mengeras, gigi gerahamku gemelutuk saling beradu. Tanganku mengepal di balik punggung.

"Kamu dan Bapakmu itu sama-sama bermuka tebal." Kututup telinga rapat-rapat.

Tidak. Aku benci Ayah. Aku tak suka padanya. Dia bukan Ayahku. Dia lelaki tak tau malu, karena tega meniduriku saat ibu pergi ke pasar waktu itu.

Taiwan, 17.07.12

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites