Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 14 Juni 2012

Aaaarrgh, ide!


CAHAYA, DESIR, ALAM.

Itu sandi tiga kata hari ini.

Aku ingin membuat cerita saja, entah cerpen atau flash fiction. Kalau puisi sepertinya tidak, aku tak bisa. Sekian lama kucoba merangkai puisi yang ada malah jadi paragraf penuh hiperbola. Menyayat-nyanyat tak jelas.

"Aduh, apa yang harus kuceritakan? Yang jelas di dalam cerita itu mengandung kata cahaya, desir, alam," gumamku tak jelas.

Susah juga memikirkan cahaya. Semuanya bercahaya. Hanya otakku saja yang tak mengeluarkannya. Apalagi ide? Jauh!

"Nek, apa saja yang berdesir di alam ini?" tanyaku pada nenek yang kurawat.

Dengan bahasa mandarin ala kadarnya.

"Wa thia bo," (1) jawab nenek.

Ah, kau, Nek. Bukan ide yang kau beri malah kata yang membuat otakku tambah panas. Ruwet.

Lama aku terpaku pada layar handphoneku, hal apakah yang harus kutulis. Yang jelas ada tiga kata itu.

"Huft, kenapa begitu susah bercerita? Ada apa dengan diriku? Ide itu tak muncul juga, bak emas yang makin mahal harganya. Susah didapat." Aku nyerocos tak jelas.

Memang begitu caraku memancing ide, dengan bicara pada benda yang ada di depanku. Sedikit berimajinasi dan ditambah bumbu, pasti jadi. Tapi tidak saat ini. Pikiranku buntu.

Aku menulis status, "Kasih gue ide, dong. Lagi buntu nih!"

Semenit.

Dua menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Tak ada juga yang perduli pada statusku. Boro-boro komentar, jempol yang biasanya banyak pun tak kudapat hari ini.

"Benar-benar menyedihkan ketika tak ada sedikit pun hal yang terlintas di otak untuk ditulis. Apakah ini yang dinamakan write block?"


****

Tak biasanya aku begini, begitu berantakan rasanya. Aku ingin membuktikan bahwa aku konsisten dalam menulis, tapi jika idepun tak muncul apa kata dunia?

"Mbak, ayo mana postingan untuk tiga kata hari ini? Jangan lupa ini rabu terakhir, lo." todong Mbak El padaku.

"Iya, Mbak. Bentar lagi aku posting. Paling lambat malam ini, 'kan?"

Bohong. Padahal ide saja tak ada. Naas.

"Iya, Mbak. Yang terbaik akan mendapat kenang-kenangan dariku.Dan nantinya akan dibukukan," terang Mbak El.

Nah itu dia, dibukukan. Hal yang teramat diidamkan oleh penulis, apalagi pemula seperti aku. Mempunyai buku adalah impian semua orang yang hobby menulis.

Tapi ide saja nggak ada lantas mau nulis apa?

"Sepertinya aku butuh hiburan." Aku bicara sendiri.

Kuambil Mp3ku dan kupasang headsetnya lantas musik lembut mengalun terdengar ditelinga.

"Ah, nikmatnya."

Di tengah cuaca yang panas, dengan keadaan badan yang letih. Mendengarkan lagu seperti ini membuat mata mengantuk. Dan benar-benar tak tertahankan. Kedua kelopak mata begitu rindu ingin bersatu.

"Aku mau tidur dulu. Nulisnya nanti saja, toh DL masih lumayan lama. Sekalian nyari ide di alam mimpi."

****

Sore yang cerah. Melihat langit yang bersih pikiranku pun ikut fresh. Waktu yang tepat untuk memikirkan ide lagi. Sambil menerawang ke langit-langit, pikiranku melayang-layang mencari ide. Kejadian apa gerangan yang di dalamnya terdapat unsur cahaya, desir dan alam.

"Jantungku berdesir melihat kenyataan dunia dewasa ini."

Ah, kalimat tak bermutu. Maknanya saja aku tak tahu.

"Di dunia ini terkadang kita melihat cahaya yang membuat dada berdesir hebat."

Lumayan, tinggal mikir konflik. Tapi apa?

"Haduh, ruwet lagi!"

Kupijit pelipisku yang makin pening, sambil terus memikirkan sesuatu yang nantinya akan aku tulis. Aku tak ingin karyaku kali ini biasa, harus istimewa.

"Jelajah facebook, siapa tahu ada hal yang mencerahkan."

Tiga puluh menit berlalu.

"Hihihi, malah asyik perang komen dengan teman-teman. Ide, kemanakah dirimu?" desisku mendramatisir.

Aku coba berkeliling ke grup kepenulisan yang aku ikuti, mencari bahan atau sekedar membaca-baca. Mungkin dengan begini aku bisa bertemu dengan ide yang kurindu.

Satu jam terlewati. Ada sedikit hal yang menggelitik ingin kuceritakan.

"Ide, akhirnya kau datang juga. Tapi kali ini giliran sarananya yang tak mendukung. Handphoneku lowbat. Jiah payah!"

Aku lemes. Kutarik nafas dalam-dalam lantas kuhembuskan perlahan.

"Tak apa lah. Dicharge dulu, nanti dilanjut lagi.

****

"Jangan pisahkan masalah dengan ide, Yu." saran bunda.

Ketika aku mengeluh susah sekali menangkap ide.

"Maksudnya, Bund?"

"Masalah yang kamu hadapi, tuangkan saja dalam tulisan. Tinggal menambahkan tokoh saja, gampang kan?" bunda berujar.

"Berarti nulis cerita pribadi, Bunda? Malu lah," kilahku.

Bunda menjawab, "Menulis dari diri sendiri akan lebih mudah. Masalah yang ada jadikan cerita ditambah sedikit bumbu. Tokohnya diri sendiri tak masalah."

Aku manggut-manggut. Tapi sepertinya aku malu. Masa aku harus menceritakan kalau semalam anakku di Indonesia telephone minta dikirim uang.

"Vika sudah nunggak bayar sekolahnya, Bu. Dan Vika juga pingin beli sepatu serta baju," kata anakku semalam.

"Memang ayah ga punya uang?" tanyaku. Pura-pura lugu.

"Ayah kan ga bekerja, Bu. Darimana dia dapat uang?"

Aku menelan ludah getir.

"Beneran dikirim ya, Bu." ucapan terkhir Vika, sebelum telephonenya terputus karena kehabisan pulsa.

Dan aku hanya menitikkan air mata. Bagaimana aku bisa kirim uang? Tabunganku ludes.

Sontak aku teringat ucapan orang itu, "Ini aku pinjam, Yu. Dan pasti kukembalikan padamu. Tenang saja, ga lama kok."

Tapi sampai detik ini pun nomor handphone nya tak bisa dihubungi.


Tamat.
Taiwan, 30.05.12

NB 1- Saya tak mengerti.

Terlambat



Hatiku geram, majikanku benar-benar keterlaluan. Tak berperikemanusiaan.

Kuusap air mata yang merebak dari mataku, sebelum butiran bening itu jatuh menelusuri pipiku.

"Tapi, Tuan. Keluarga di rumah butuh secepatnya uang itu untuk menebus ijazah adik saya," kataku terbata-bata.

"Ah, kau ini bikin repot saja. Kenapa tak sekalian kemarin waktu gajian? Kalau begini jadinya buang-buang waktuku, ngerti?" bentak majikanku. Dan tanpa ada kepastian dia meninggalkanku di ruang tamu.

Aku marah. Ini kebutuhan mendadak. Sudah menjadi sifat bapakku tak pernah mau merepotkan orang. Kalau dia sampai berani bilang pinjam uang padaku itu tandanya teramat darurat. Dan orang tak punya hati itu tak mau membantu.

Aku tak mau menyerah begitu saja. Maka kuikuti majikanku yang sudah bisa kupastikan dia pergi ke ruang kerjanya.

"Maaf, Tuan. Kalau Tuan tak mau memanggilkan agen untuk kirim uang, biar saja saya kirim uang sendiri lewat seven eleven. Saya tahu caranya, tinggal Tuan berikan uang gaji saya."

Majikanku mengerutkan kening. Mungkin menelaah bahasaku yang berantakan didengar kupingnya.

"Lalu kau pergi sendiri ke seven eleven itu?" nadanya meremehkan.

"Temanku siap mengantarkanku," jawabku mantap.

Majikanku terlihat berpikir sejenak lantas menggeleng kepala tegas.

"Tidak! Itu cuma alasanmu saja untuk keluyuran."

Tuhan! Ini hati manusia terbalut apa sebenarnya? Hampir dua tahun aku di sini, liburan saja belum pernah. Masa cuma mau ke seven eleven kirim uang dibilang keluyuran?

"Tuan, aku mohon. Atau kalau tidak, aku pakai jasa kirim uang lewat indosuara (1) saja. Tak perlu keluar rumah. Tinggal petugasnya datang ambil uangnya." Aku mencoba membujuk sekali lagi.

Namun lagi-lagi, lelaki tinggi, putih dan botak itu tak mengizinkanku. Lebih tepatnya tak memberikan uang gajiku yang dipegang olehnya.

Dengan muka yang mulai memerah dia memerintah secara kasar, "kembalilah kau bekerja. Kepalaku pusing mendengar rengekanmu."

Aku berlalu. Dengan dada bergemuruh karena kecewa, dibarengi leher yang kelu menahan tangis.

****

Seminggu berlalu. Meski dengan berat hati kukabarkan pada bapakku bahwa aku tak bisa kirim uang secepatnya. Lelaki tua yang biasa aku panggil Romo itu menenangkanku.

"Sudah tak apa, Nduk. Mungkin kita harus lebih bersabar lagi. Majikanmu bermaksud baik,"

Hampir saja aku tersedak, "Baik apanya, Romo? Ini namanya keterlaluan. Kita butuh uang itu. Dasar dianya saja yang tak punya hati."

"Sudahlah, Nduk. Tak baik menjelek-jelekkan orang. Yang penting kamu kerja sungguh-sungguh. Rawat nenek baik-baik."

Oh, Tuhan. Bahkan dalam keadaan terjepit seperti sekarang ini pun bapakku masih bisa sabar.

Hanya tetesan air mata mewakili kata dan rasaku.

"Laillaa ha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin,"(2) batinku.

****

"Tuan cepat pulang. Nenek sakit kepala." Aku telephone majikanku. Panik.

Tuan hanya menjawab dengan singkat, "Hao, teng i sia wo hue cia."(3)

Tapi sebentar yang dia ucap itu lamanya hampir sama dengan menunggu siput tua berjalan satu rute. Amat sangat lambat. Sedangkan nenek tak henti-hentinya merintih.

"Sabar, Nek. Sebentar lagi anakmu pulang," hiburku seraya memijit dengan lembut pelipis kepala nenek.

Sebentar-bentar aku melongok ke depan, memastikan majikanku sudah datang dan segera membawa nenek ke rumah sakit. Tapi penantianku sia-sia. Sudah satu jam berlalu Tuanku tak pulang juga.

"Tuan kenapa lama sekali? Atau saya panggil taksi saja untuk membawa nenek ke rumah sakit?" tawarku.

Setelah sekian lama aku berinisiatif menelphone nya lagi.

"Tak usah! Tunggu aku pulang sebentar lagi. Aku sedang terkena macet." lagi-lagi tuanku membentak dengan kasar.

Aku kembali ke kamar nenek. Kuamati wanita tua itu tak lagi merintih. Berganti dengan nafas tersengal-sengal dan mata mengerjap-kerjap secara cepat.

Aku semakin ketakutan. Tanganku berkeringat dingin. Apa yang harus kulakukan? Sedang satu-satunya majikankupun tak kunjung datang.

"Nek, tenang. Sabar." hanya itu. Aku tak tahu bahasa mandarin yang lebih fasih untuk situasi seperti ini.

"Tunggu sebentar, Nek. Baru saja aku telephone anakmu. Sebentar lagi dia sampai rumah," ucapku.

Mata nenek menatapku tajam dan nafasnya masih tersengal-sengal. Namun lama-kelamaan nafasnya berangsur teratur dan matanya terpejam.

Nenek tidur.

"Nek," panggilku.

Dia tak bergerak. Tubuhnya kaku dan dingin.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Hanya bisikan lembut yang terucap dari mulutku.

"Innalillahi wa inna illaihi rojiun."(4)




NB.
1. Tabloid orang Indonesia di Taiwan.
2. Do'a terhindar dari perbuatan dzolim.
3. Ya, sebentar lagi aku pulang.
4. Do'a terkena musibah.

TAMAT.
Taiwan, 30.05.12

Cerita Mini juni



Di balkon lantai tiga, dengan senja yang hampir tenggelam. "Kita harus menyudahi ini semua." (14)

Kau hanya terdiam dengan rahang yang mengeras dan tangan mengepal kuat. (11)

"Sudah bisa kupastikan, tawa cerianya akan sirna jika tahu apa yang kita lakukan," lirihku (14)

Terdengar jangkrik bernyanyi riang menyoraki dua insan yang tengah dilanda dilema. (11)

"Kau tak mencintaiku?" tanyamu. Aku diam. (6)

"Sungguh sampai raga ini berpisah dari ruhnya, cinta tulusku akan tetap menjelma." (12)

"Aku ingin kita tak terpisahkan, kumohon." Matamu memancarkan harap, tapi aku tak kuasa. (13)

"Maaf, meskipun Nyonya akan menerimaku, namun aku tak kuasa melukai hatinya." (11)

Kuberlalu darimu, menuju ke sudut kamarku. Aku tergugu. (8)

Tamat.
Taiwan 01.06.12


*****




ANGIN UTARA.
By. Rahayoe Wulansari



Kecewa tersirat di matanya yang bulat. Rahangnya menegang saat kuucap jua jawaban yang sudah berbulan-bulan ia tunggu.

"Maaf, George. Aku tak bisa menjadi wanitamu."

Sorot matanya tajam mengulitiku. Dalam diamnya meletup amarah yang tak terkata. "Ada yang lain di hatimu, bukan?"

Angin utara memainkan rambutku, sepoinya membuatku menunduk. Aku mengangguk.

"Seseorang telah mencuri hatiku sesaat sebelum kau meminangku," lirihku hampir tak terdengar.

George meninggalkanku tanpa kata. Suara baritonnya membisu tak menggema. Hanya luka yang nampak jelas di langkah kaki.

"George, ampuni dustaku. Aku tak kuasa kau semakin kecewa saat kau tahu aku hanya memiliki satu payudara," bisiikku pada angin utara.


Tamat.


Taiwan, 17.06.12


*****



Bukit Awan.
by. Rahayoe Wulansari.


Awan. Putih lembut dan menawan. Dan aku suka.

"Maukah kau jadi pacarku?" teriakmu siang itu. Aku terkejut.

"Kenapa?"

"Karena kau menyukai awan. Dan aku juga."

Aku hampir gila mendengarnya. Kita baru saja berjumpa. Tak sengaja tengadah bersama minikmati perhiasan langit di bukit awan.

"Hanya karena kita sama-sama menyukai awan dan kau berani menucapkan itu?" tantangku.

Kau mengangguk dan bercerita bahwa wanita pecinta awan pasti lemah lembut seperti awan dan kau menyukainya.

"Apa lagi?" pancingku ingin tahu.

"Kau ayu tapi tak kemayu," lirihnya takut-takut.

Senyumku terkantuk batu. Bagaimana aku bisa kemayu jika punyaku sama dengan milikmu?


Tamat.
Taiwan, 18.06.12


*****



Kepergian.
By. Rahayoe Wulansari.


"Ayo, Nak kita makan bersama."

AJakan Ibu masih sama. Ceria Ibu juga tak berbeda. Di meja segi empat dengan kursi yang tepat empat.

"Cepatlah, Nak. Yang lain sudah menunggu."

Aku bergegas mendekati ibuku, duduk di tempat yang sama seperti biasa. Tangan lembut beliau menata piring dan membagi nasi ke empat tempat, seperti biasa tak pernah berubah.

"Bu, kenapa ibu masih saja menyiapkan empat piring?" tanyaku hampir bosan. Namun ayah mengedipkan mata memberi tanda seolah-olah berkata, biarkan saja ibumu.

"Ini untuk kamu, dan ini untuk kakakmu."

Sepotong ayam terhidang di piring kami masing-masing.

Aku menghela nafas. Sampai kapan kau menerima kenyataan, Bu. Bahwa kakak telah dipanggil yang Kuasa ' lalu. Batinku berujar ngilu.


Tamat.
Taiwan, 19.06.12


****

Aku Benci Taifong.
By. Rahayoe Wulansari.


Langit menangis berhari-hari membunyikan suara gemericik di atap rumah. Dan aku benci.

"Joy zhu keluarlah," teriak mamaku.
"Taifong tak sampai di tempat kita."

Ribut dan berantakan, itu yang selalu taifong akibatkan. Dan aku sangat membencinya.

"Umurmu sudah hampir setengah abad, apa kau tak malu pada keponakanmu? Sudah tua masih takut taifong." Mulai lagi. Mamaku mulai mengejek lagi.

Bukan. Aku tak takut taifong, aku hanya membencinya. Taifong membuat keperkasaanku sebagai lelaki sirna.

"Tolong, kakiku tertimpa pohon. Bantu aku anak muda," teriak Apo.

Aku masih mengingatnya. Jelas. Saat taifong datang lima tahun yang lalu. Aku melihatnya dan tak datang menolong. Aku sibuk mencari perlindungan untuk diriku sendiri. Aku benci taifong, karena mengingatkanku pada wajah Apo yang tak bernyawa lagi.

TAMAT.
Taiwan, 20.06.12


****

PENCURI.
By. Rahayoe Wulansari.


Muka bersemu merah, senyum merekah ramah, begitulah orang sedang jatuh cinta.

"Teman sekelas kita kah?" Dewi sahabatku bertanya.

Aku menggeleng. Membuat Dewi penasaran itu mengasyikkan. Aku merahasiakannya. Siapa yang gerangan telah mencuri hatiku.

"Sebutkan saja ciri-cirinya. Satu saja," Dewi masih penasaran.

Aku terangkan saja hitam manis, dengan tatapan tajam. Yang sudah pasti dia termat baik padaku. Ia kesehariannya membantuku, inspirasiku, hiburanku, bahagiaku.

"Ia segalanya bagiku, untuk saat ini." Mataku menerawang.

Muka penasaran Dewi membuatku semakin geli.

"Taraaa... ini dia pencuri hatiku. SuNEO."

Dewi cemberut. Merengut di depan handpone suNEO kesayanganku.

Aku terbahak hampir tersedak.

TAMAT.
Taiwan, 21.06.12


****

Terimakasih Delivery.
By. Rahayoe Wulansari.


Bunyi kemelinting mangkuk yang beradu dengan sumpit menggoda imanku. Gelak tawa sang penguasa dan selirnya beserta keluarga tertangkap jelas.

"Masakannya enak, supnya juga."

Aku mengelus dada, ketenangan menjalar ke kepala.

"Akhirnya tak ada komplain di masakanku kali ini."

Pujian demi pujian terucap seraya suap demi sesuap menyentuh lidah menggoda rasa.

"Tumben, masakan Sari kali ini sempurna," nyonyaku komentar. Biasanya dia yang paling suka mencacat segalanya.

Lima belas menit berlalu, wajah mereka puas kekenyangan.

"Sari, kali ini kau berhasil membuat kami sekeluarga susah berjalan karena perut penuh." Sekali lagi komentar terlontar.

Aku tersenyum getir.

Bagaimana kau tak merasa puas jika uang gajiku 1000 dolar habis tergelar.

"Terimakasih delevery," lirihku. Prihatin.


Tamat.
Taiwan, 21.06.12



Kau Tak Boleh Bahagia.
By. Rahayoe Wulansari.


Kupandang foto kita bertiga. Ada tawa menghiasinya. Ada ceria terlukis di sana.

Tanpa sadar tanganku menyentuh gambarnya. Dia yang hadir diantara kita. Yang kini telah mencuri hatiku.

"Hayo, kangen ya?" tebakmu. Aku tersenyum.

Tak mungkin aku mengakuinya, jika ada rasa di hati ini. Jika sayang untuknya tumbuh tanpa kuduga.

"Coba kemarin kamu ikut liburannya, Ren. Pasti tambah seru."

Aku tersenyum kaku. Bukan aku tak mau ikut. Sungguh di dalam hatiku teramat ingin. Namun aku tak kuasa jika harus menahan lara ketika melihat kau bercanda dengannya. Saat menangkap mata kalian saling pandang penuh cinta.

"Kau tahu apa yang Rangga lakukan waktu liburan kemarin?" tanyamu ceria.

Ya. Di sinilah aku berada. Sengaja datang padamu hanya ingin mendengar, sudah sampai sejauh mana kalian mengukir janji.

"Ini kejutan yang luar biasa. Rangga melamarku, Ren."

Aku sudah bisa menebak, pasti itu terjadi. Dan aku menyesal beserta marah. Aku tak seberani kau. Andai saat itu aku mampu berkata, andai saat itu aku berani berbicara, mungkin dia sekarang milikku.

"Aku sangat mencintai Rangga, Ren. Terimakasih telah mengenalkan dia. Terimakasih atas persahabatan ini."

Aku muak. Senyummu, tawamu, semuanya membuatku muak. Aku membencimu, kau tahu?

"Semoga persahabatan kita abadi ya, Ren. Meski aku dan Rangga akhirnya menikah."

Sebilah belati telah kupersiapkan di balik bajuku. Aku tak mau lebih sakit lagi melihat kebahagiaan mu, kebahagiaan kalian, tapi bukan kebahagiaanku. Dan dengan tajam belati itu kutusukkan, tepat di jantung. Darah mengalir merah, mewarnai bajuku.

Dan kau pun berteriak ketakutan, "Renaa...."

Namun aku tak lagi mampu mendengar. Karena belati itu menancap terlalu dalam di dada kiriku.


TAMAT.
Taiwan, 23.06.12


****


Aku Apamu?
By. Rahayoe Wulansari.


Hatiku bergemuruh, selaksa bom waktu yang ingin meledak. Anganku serasa ingin berteriak menerima ketidak adilan ini. Mataku menatap tajam penuh benci pada wanita paruh baya di depanku.

"Dasar anak tak tahu diuntung, mau jadi apa kau jika besar kelak? Heh!" serunya sengit.

Aku heran, sikap yang dia tunjukkan padaku tak layak dilakukan oleh seorang yang dipanggil ibu. Yang biasanya identik dengan jiwa penuh cinta, lemah lembut dan penyayang. Tapi dia?

"Contoh tuh kakakmu! Penurut, pintar, pembawaannya sopan. Tak seperti kamu anak urakan."

Aku capek. Aku muak terus menerus dibanding-bandingkan. Sebenarnya aku anak ibu bukan, sih?

Ini sudah ratusan kali terjadi, selalu saja aku dibanding-bandingkan dengan kakakku. Seolah-olah aku tak ada baiknya di mata ibu. Kurang ini, kurang itu. Nggak boleh ini, jangan begitu. Apa ibu tidak sadar? Kemampuan, kesukaan dan sifat setiap anak itu berbeda.

"Selalu saja kalau dibilangin melawan. Berani kau sama orang tua? Aku ini yang melahirkanmu!"

Aku lelah, Bu. Selalu saja kau teriakkan itu di telingaku. Ingin sekali aku menjawab semua perlakuan kerasmu padaku. Aku juga manusia yang punya hati.

Hingga malam tiba, tanpa kurencana timbul juga niat ini. Aku ingin dia menangis pilu karenanya. Pelan dan tanpa suara kumengendap ke dalam kamarnya. Aku mencari di tempat yang sangat rahasia namun tlah kuketahui sebelumnya. Dan kudapatkan, yes!

Aku keluar dan segera menelepone teman-teman gank ku.

"Guys, kita pesta hari ini. Gue dapat duit banyak," ucapku berbunga-bunga. Dengan tangan menggenggam erat kotak perhiasan ibu.


TAMAT.
Taiwan, 24.06.12



****


Kau Harus Tahu.
By. Rahayoe Wulansari.


Semua makhluk tahu, aku merinduimu sekarang. Tak hanya hari ini, tapi kemarin, esok bahkan selamanya. Sayangku padamu tak pernah terkata.

Tak seperti bulan yang hanya memantulkan sinar mentari. Tak juga bintang yang indah namun hanya setitik. Cintaku padamu melebihi apapun besarnya di bumi ini. Tak terlukiskan.

Namun semua harus terhalang. Segalanya harus musnah karena nila setitik. Semuanya harus terkalahkan oleh keegoisan. Kau lazuardi yang indah, tak mampu kugapai untuk menyentuhnya.

"Maafkan aku, Nak." Satu kata yang sangat ingin kuucapkan padamu, buah hatiku.

"Suatu saat kau akan mengerti, alasan aku tak di sampingmu lagi," desisku pilu.

"Tetaplah tersenyum, Nak. Be the best of you. Meski tanpaku di sisimu," pesanku. Itu saja tak ada yang lain.

Hanya itu saja yang perlu kau camkan dalam hati, tak lebih. Harapanku padamu selain kau jadi anak solehah tentunya. Kau tak perlu dengarkan suara sumbang tentang kita. Jangan tunggu aku kembali, aku akan selalu hadir di mimpimu.

Dan yang paling penting kau tak perlu tahu, ada satu hari dimana dadaku serasa tertikam belati tajam. Ketika seorang wanita muda datang padaku dan berucap, "Aku hamil anak suamimu."



TAMAT.
Taiwan, 25.06.12


****


Celana Hans.
By. Rahayoe Wulansari.


Muka Lili ditekuk. Bibir maju serasa bisa dikucir. Hatinya dongkol melihat ulah Hans kali ini.

"Aku dicuekin, nih?" sindir Lili manja. Dia merasa tak suka melihat Hans lebih asyik dengan gadget terbarunya.

"Sebentar tanggung," kata Hans dengan cueknya. Ia tak memperhatikan jika Lili sudah mulai tak suka.

Tak hanya di situ saja, Hans juga tiba-tiba suka membatalkan janji dengan alasan sibuk. Biasanya Lili bisa mengerti, namun kali ini tidak. Ketika tak sengaja mata Lili menangkap Hans sedang memboncengkan seorang cewek dengan begitu mesra.

"Aku tak menyangka kau setega ini, mendua di belakangku. Apa aku punya salah hingga kau berbuat seperti itu?" Lili langsung bicara tanpa basa-basi.

Hans tak mengerti.

"Aku melihatnya. Kau memboncengnya dengan begitu mesra."

Hans semakin tak mengerti.

"Celana kalian sama."

Kini Hans mulai paham. Lili salah paham.

"Yang kemarin itu Bapak, beliau pinjam motorku untuk ngojek." Hans mencoba menerangkan. Lili masih belum percaya.

Hingga keluar Bapak Hans memakai celana yang sama.


Tamat.
Taiwan, 26.06.12


****


Jangan Sebut Namanya
By. Rahayoe Wulansari.



"Jangan pernah sekali-kali menyebut namanya di depanku," hardikku keras.

Veby merengut. Dia beringsut menjauhiku. Di matanya tersirat rasa kecewa.

"Aku benci dengan panggilan sayangmu kepadanya. Aku muak!" teriakku lebih keras.

Veby terdiam kali ini. Dia menunduk terpukur menatap tanah.

"Sekali lagi kau memanggil namanya manja di depanku, maka tak segan-segan aku membunuhnya."

Veby mulai ketakutan. Wajahnya pucat pasi.

Ditimang-timangnya tulang yang sedari tadi digenggam.

"Ssstt... pleky sayang... nich buat kamu," Veby berbisik. Takut aku terusik dan marah lagi.

"Jangan menggonggong ya pleky sayang. Nanti kakak marah lagi." Veby berucap lirih di telinga anjingnya.


Tamat.
Taiwan, 27.06.12.


****


Jam Tangan itu?
By. Rahayoe Wulansari.


Kutatap wanita berpakian serba putih itu dengan garang. Entah mengapa aku jadi jengkel sekali padanya.

"Kalau memang tidak bisa kenapa tak bilang dari tadi? Aku sudah ngantri cukup lama ya, Mbak!" ucapku dengan nada tinggi.

Wanita yang berpofresi sebagai asisten dokter kulit yang kudatangi itu terlihat ketakutan.

"Tapi ini sudah waktunya tutup, Pak." Suster itu beralasan.

Apa peduliku? Kalau memang tak mau menerima pasien kenapa ketika aku mau mencancle pendaftaranku dia tak memperbolehkan? Buat ku marah saja.

Dan dengan terpaksa suster itu memberitahukan kepada dokter yang sedang praktek di dalam jika masih ada pasien di ruang tunggu.

"Yang profesional dikit dong, Mbak," cibirku penuh kemenangan.

Kutangkap dengan ekor mataku suster itu terlihat resah sembari sesekali melirik jam tangan rantai yang dikenakannya.

Aku puas. Memberi pelajaran pada orang yang mau berlaku seenak udelnya sendiri. Dan peristiwa itu terkenang sampai pagi menjelang.

Ketika aku asyik membaca koran dan menikmati kopi pagiku, aku dibuat miris oleh sekilas info yang disiarkan di televisi. Kuamati dengan seksama lokasi peristiwa itu. Dan aku tercengang.

"Pemirsa, telah terjadi pembunuhan keji di suatu gang sempit di Jalan Angkatan 45 Kota Baru kemarin malam. Menurut saksi mata, korban bekerja sebagai asisten dokter di suatu klinik tak jauh dari tempat mayatnya ditemukan. Diduga korban diperkosa terlebih dahulu sebelum akhirnya dimutilasi oleh sang pelaku."

Aku lemas seketika. Ketika tak sengaja kutangkap gambar di televisi itu yang tepat menayangkan tangan korban pemerkosaan.

"Aku yakin itu jam tangannya," tuturku lesu.


Tamat.
Taiwan, 28.06.12


****


Semoga Dody Mau Mengerti.
By. Rahayoe Wulansari.


"Salut aku padamu, Mbak. Andai aku ada di posisimu aku tak mungkin sesabar ini. Dipoligami itu tak mudah," Eryca tak henti-hentinya memuji kesabaranku.

Aku tersenyum simpul. Kukatakan saja pada Eryca bahwa aku ikhlas di madu asal suamiku mau berlaku adil.

"Bagiku justru malah senang. Di saat suami kita bersama istri mudanya, kita bisa puas beribadah pada sang pencipta." ucapku tanpa ragu.

Eryca manggut-manggut sambil sesekali melontarkan pujian tiada henti.

"Apa kamu tak cemburu, Mbak? Membayangkan suamimu sedang bersama orang lain?" pertanyaan yang klasik. Hampir semua orang yang mengetahui bahwa aku dipoligami akan menanyakan hal yang tak jauh berbeda.

Selalu aku menjawab hal yang sama, "Inilah ujian kita. Bagaimana ikhlas itu kita terapkan di kehidupan sesungguhnya bukan hanya kata-kata saja."

Eryca berdecak kagum.

Sedang asyik-asyiknya aku mengobrol dengan Eryca, android terbaruku berdering.

"Tante, Dody kangen. Kapan kita ketemuan lagi? Tante kan udah janji akan ngajak Dody ke puncak. Dody rindu desahan tante," cerocos berondong di ujung telepone.

Tut tut tut.

Segera kumatikan teleponeku setelah sebelumnya kuucapkan, "Maaf anda salah sambung."

Dengan kikuk aku kembali ngobrol bersama Eryca, meski anganku tak lagi tertuju padanya.

"Semoga Dody mau mengerti," batinku resah.


Tamat.
Taiwan, 29.06.12.


****


Loe Gue And!
By. Rahayoe Wulansari.


Hidayah. Kau menyebutnya lagi, selalu begitu hampir tiap hari.

"Hidayah itu sexy, kalau berjalan membuat mata para lelaki berloncatan," pujimu suatu pagi.

Aku diam meski dalam hati geram. Aku bisu meski dalam hati memaki.

"Suaranya juga kenes. Ah, Hidayah." Lagi kau memujinya. Tanpa cacat tanpa cela. Sepertinya Hidayah itu dewa bagimu.

Aku muak. Aku benci. Tak sadarkah kau? Satu kata tentang Hidayah yang kau sebutkan itu menorehkan luka sedalam samudra di hatiku?

"Hidayah itu kuat. Dia selalu bisa buat lelaki makin sehat."

Kutarik nafas dalam lantas kuhembuskan. Lagi kumengulangi. Kutarik nafas dalam lantas kuhembuskan. Sabar. Aku harus bersabar.

"Kau tahu? Apa yang membuat aku semakin rindu?"

Kali ini aku berani bertanya, "Rindu pada Hidayah?"

Kau pun mengangguk yang membuat seketika emosiku membara. Nafasku memburu dan serasa di jantungku tertancap sembilu. Jleb.

PLAAKK!

Tamparan keras mewakili jawabanku.

"Loe gue and!" Lalu aku bangkit meninggalkanmu.

Kuberjalan terus berjalan. Kumelangkah tertatih dengan luka hati yang tak terperi. Masih terngiang jelas teriakanmu memanggilku.

"Sayang, kau cemburu pada Hidayah? Dia kan hanya tukang jamu."

Namun aku tak peduli. Perih ini tak bisa terobati.


TAMAT.
Taiwan, 30.06.12


Mencoba Menulis Puisi















Nyanyian Hujan
by. Rahayoe Wulansari.

Air langit menyanyikan suara rindu.
Memukul atap menyebut namamu.
Syahdu merasuk sukma
Membawa memoriku melayang.

Aroma tanah basah membangkitkan seleraku.
Seperti menarik jiwaku ke sana
Berlari-lari kecil di bawah basahnya.
Menari bersama jatuhnya.

Langit menangis
Langit bercerita
Tentang kisah yang pernah tercipta
Penuh impian

Langit menangis
Langit bercerita
Tatkala dua raga harus terpisah jarak
Demi impian.

Di balik tirai usang yang menggantung di jendela.
Aku merasakan hadirmu
Jiwaku menghangat di pelukmu
Diiringi lembut nyanyian hujan
Seperti saat kita masih bersama.



Taiwan, 10.06.12


****

Sebuah Kenangan Gempa.
by. Rahayoe Wulansari


Hatiku tergoncang
Seirama bumi bergoyang pagi ini
Jiwaku menjerit resah
Pasrah pada fenomena alam yang terjadi.

Wajah takutmu membayang seketika
Di saat yang sama di suatu masa
Menangis merintih berdo'a
Saat bencana itu terjadi.

Aku merasakannya kali ini
Ketakutan yang sama
Keresahan yang tercipta.
Mebuat mulutku menjerit lirih menyebut Nama-Mu.

Jangan takut kawan
Jangan gundah teman
Karena di manapun kita berada.
Tangan Tuhan tak mungkin berhenti mengayomi


Taiwan, 10.06.12.


*****


BIMBANG
By. Rahayoe Wulansari



Di keremangan senja dalam udara yang basah.
Hatiku berdendang kecemasan tiada arah.
Tentang asa yang semakin jauh terengkuh.
Selaksa bintang semakin pudar cahaya.

Aku ragu
terombang ambing bimbang.
Aku pilu
terkatung-katung bingung.
Tak tentu arah tujuan
Tak pasti harapan hati.

Haruskah kuteruskan langkahku?
Meski tertatih, walau terluka.

Jawab!
Tolong beri aku kepastian.
Sekarang!



Taiwan, 10.06.12


****

Be the best of me.
by. Rahayoe Wulansari



Aku nggak bisa jadi pohon meranti di atas bukit,
Tapi aku akan jadi semang belukar teranggun di sisi bukit.

Aku nggak bisa jadi rimbun,
Tapi aku akan jadi rumput yang menghiasi seluruh jalan.

Kalau aku nggak mampu jadi bulan,
Aku akan jadi bintang.

Aku nggak menilai diriku kalah atau menang
Aku cuma jadi diriku sendiri
Yang terbaik.


Taiwan, 11.06.12

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites