Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 12 Mei 2012

JANJI UNTUK ASTIKA

"Bunda, Gladis kangen."

Tak sengaja kudengar rintihan putriku. Gadis kecil berumur 7 tahun itu sedang terpaku menatap foto Bundanya, Istriku.

"Andi jahat sama Gladis, Bunda. Andi bilang, katanya Gladis ga punya Bunda lagi. Karena Ayah mau cari Mama baru. Gladis ga mau Mama baru, Gladis mau Bunda!"

Begitu lirih isakan dari putri kecilku hingga membuat hatiku tersayat kala mendengarnya. Ingin ku masuk dan memeluk anakku tapi aku tak kuasa. Yang kulakukan hanyalah berdiri mematung di balik tembok dengan gigi geraham yang saling mengadu. Buah hatiku itu tak tahu apa-apa, namun harus merasakan akibatnya.

Ah, ini semua karena ego!

Tanganku mengepal dan kutinju tembok di hadapanku. Bagaimana aku bisa bertahan dan terus diam saja melihat buah hatiku menangis?

"Pulanglah, Astika!"

Lalu teringat kembali pertengkaran malam itu.

"Aku ingin kau berubah!" jerit Astika masih sama seperti yang sudah-sudah.

"Aku sudah berusaha sekuat tenaga! Ini semua ga mudah, tahu!"

"Semua tergantung niatmu, Mas. Mau sampai kapan kau begini?"

Aku mendengus kesal. Lama-lama cerewet juga istriku. Banyak tuntutan.

"Kau sekarang terlalu banyak menuntut. Lihatlah, siapa dirimu? Ga usah sok alim!"

Astika mulai menangis.

"Huh! Nangis lagi. Muak aku!"

"Salahkah aku menginginkanmu berubah, Mas? Berhentilah minum alkohol, itu tak baik untuk kesehatan. Malu mas sama tetangga!"

Jiah, sejak kapan Astika peduli akan kesehatan? Seperti kader posyandu saja. Dan juga dia bilang apa? Tetangga?

"Halah peduli amat sama tetangga! Toh aku beli umben pakai uangku sendiri. Aku juga minum di rumahku sendiri. Yang penting aku tak mengganggu mereka, kenapa musti mikir omongan mereka?" kilahku.

Astika semakin terisak.

"Heh, sudahlah! Sumpek aku melihatmu bisanya cuma menangis saja. Bikin tak betah di rumah!" bentakku.

Sukses cari alasan untuk cepat berlalu. Malas terus berdebat dengan Astika, bikin puyeng!

Dan kukira semua berlalu seperti yang sudah-sudah. Astika akan baik lagi padaku, menganggap hal ini tak terjadi. Namun aku salah, ketika kusadari Astika tak kutemukan di rumah paginya begitu aku pulang.

"Kalau kamu mau merubah semua kelakuan burukmu, aku pun akan pulang. Tapi kalau tidak, jangan harap aku mau kembali ke rumah. Silahkan saja bertahan dengan egomu, kuyakin kau akan menyesal!" ancamnya lewat telfon kala itu.

Aku tersinggung? Jelas! Aku kepala rumah tangga. Tak seharusnya seorang istri mengatur untuk begini begitu. Uang belanja lancar itu sudah cukup. Dan ini sampai berani angkat kaki dari rumah, Istri macam apa dia?

Menyesal? Heh, jangan harap! Aku hanya kasihan pada putriku, setiap hari menangis menatap foto Bundanya. Padahal di depanku gadis kecilku itu tak berkata apa-apa. Sepandai itukah anakku menyimpan kepedihannya? Atau karena aku yang terlalu tak punya waktu untuk putriku satu-satunya?

"Astika, pulanglah! Kumohon!"


@@@


"Sms dari siapa, Say?" tanya Ine. Gadis hitam manis yang kini tengah dekat denganku, atau lebih tepatnya aku pacari.

"Dari Mbak Wiwin," jawabku acuh.

Tanpa kusangka, Ine merebut handphone yang aku pegang lantas secepat kilat dia mengetik balasan sms untuk Mbak Wiwin.

"Aku ga suka kau terlu dekat dengan janda genit itu!" runtuknya.

Aku tersentak. Sejak kapan dia berhak mengatur aku boleh dekat dengan siapa saja? Dia bukan istriku, kita hanya dekat karena mau sama mau.

"Hey, apa hak mu melarangku? Astika yang sah istriku saja ga pernah protes!"

Benar! Bahkan meskipun Astika tahu aku dekat dengan Mbak Wiwin lebih dari sekedar teman. Pun begitu dia tak pernah marah, juga tak berani mengecek handphoneku.

"Karena istrimu itu bodoh! Mau-maunya diinjak-injak!"

"Jaga mulutmu!"

"Kenyataan, 'kan?"

Tidak! Astika tidak bodoh. Dia hanya menjaga perasaanku. Aku tahu dia teramat tersakiti akan semua perilakuku. Namun dia hanya diam saja. Menyimpan semua sakit akibat perbuatanku di dalam hati. Aku tahu pasti itu, karena terkadang di tengah malam kumendengar isak tangisnya dalam sujud panjang. Dan terselip diantaranya do'a tulus untukku, Suaminya.


"Pilih aku atau janda genit itu!" ucap Ine kemudian.

"Loh? Kenapa jadi begini? Bukankah kita memang tak ada apa-apa? Untuk apa aku harus memilih?"

Ine mendelik marah ke arahku. Matanya yang bundar itu seperti mau keluar.

"Maksudmu?"

"Terserah aku mau sama siapa saja, tho?"

Ine mendengus kesal.

"Lantas kau anggap apa aku selama ini? Peneman tidurmu saja saat istrimu minggat dari rumah?" makinya penuh murka.

Aku tak pernah memaksa dia mau tidur denganku. Kenapa sekarang menuntut untuk dipilih? Memangnya dia siapa?

"Dapat untung apa jika aku memilih, hah?"

Ine mendesis.

"Kau benar-benar lelaki egois! Aku tak habis pikir, pakai ilmu pelet apa sehingga istrimu itu bisa betah hidup serumah selama bertahun-tahun dengan lelaki macam kau!"

"Lancang bicaramu! Aku tak pernah memakai ilmu pelet!" Aku terpancing emosi juga.

Berani-beraninya Ine mengatakan aku mengguna-gunai Istriku. Aku dan Astika itu saling mencintai, sehingga kita bisa melewati semua bahtera rumah tangga sampai bertahun-tahun

Mendadak ragu muncul di hatiku, apakah benar begitu? Kenyataan sekarang Astika pergi dariku. Mungkinkah dia sudah tak cinta lagi padaku?

Gusti, baru aku menyadari ternyata hanya Astika yang bisa mengerti aku. Dengan semua perilaku burukku. Tanpa banyak protes, tanpa segudang tuntutan. Dia hanya menginginkan aku menjadi orang baik-baik dengan cara taubat dari sifat jahiliyah. Apa itu salah, Tuhan? Namun ego mengajarkan aku untuk menyakitinya lagi.

"Astika, maafkan aku."


@@@


Hari ini perasaanku benar-benar tak enak. Ada orang tak dikenal berjalan mondar mandir di depan rumah. Dilihat dari pawakannya, ada kemungkinan dia polisi, atau bisa jadi reserse. Matanya tak pernah lepas dari rumahku. Aku terus mengamatinya dengan perasaan was-was. Mau apa dia terus-terusan mengintai rumahku? Sesekali nampak dia menelfon dengan telepon genggamnya entah menghubungi siapa dan bicara apa. Sudah barang tentu aku tak bisa jelas mendengarnya.

Keringat dingin membasahi wajah dan leherku. Jantungku begitu cepat berpacu. Bagaimana tidak? Semalam aku mendapat kabar dari Junot tentang penggrebekan bandar narkoba wanita yang selama ini dicari.

"Kamu jadi DPO, Hen," ucap Junot padaku lewat telfon.

Begitu mendengarnya aku langsung lemas seketika.

"Kenapa aku? Aku tak ikut mengedarkannya, cuma make aja. Pun itu bareng-bareng lo juga kan, Not?"

"Iya, tapi Wiwin tak tahan gertakan polisi. Dia bilang kamu yang terdekat dengannya."

Shit! Janda itu semakin menyusahkanku saja. Dulu dia yang merayuku memakai barang haram itu. Aku begitu susah lepas darinya. Dia melilitku seperti ular. Dan sekarang? Setelah dia ketangkap polisi pun bisa ularnya masih kurasakan. Aku jadi kena getahnya.

Masih kuingat jelas nasehat Astika tentang Mbak Wiwin waktu itu. Saat aku curhat bahwa antara aku dan Mbak Wiwin cuma sekedar teman bisnis. Padahal aku yakin Astika tahu hubunganku lebih dari yang kuceritakan. Namun Astika menyembunyikan kesakitan hatinya di balik senyum hangatnya untukku.

"Mas, kalaupun kau memang berniat baik dengan menjalani bisnis bersama dengan Mbak Wiwin, aku yakin Tuhan melancarkan jalanmu. Jangan takut karena Mbak Wiwin itu janda dan seperti yang kau bilang suka menggoda. Asal niatmu baik, pasti dimudahkan Tuhan."

Astika, kau begitu pintar menjaga hatiku.

"Aku percaya padamu, imamku." kata-kata Astika yang membuat bibirku kelu.

Beginikah imam yang kau ikuti, Astika? Pantaskah aku kau hormati? Sebagai kepala keluarga, aku tak pernah mau peduli cukup atau tidaknya nafkah yang kuberi untukmu. Meski begitu kau pun tak pernah mengeluh kekurangan.

Aku tahu kau menginkan aku sembuh dari sifat burukku. Minum alkohol, mabuk narkoba, bermain perempuan, judi dan semua perbuatan maksiatku. Hanya itu yang kau tuntut dariku, Astika. Dan itu semua juga demi kebaikanku. Entah mengapa aku tak bisa, atau tak mau menuruti satu permintaanmu. Hanya satu, Astika. Lantas sekarang, belum terlambatkah jika aku kembali ke jalan-Nya?

Oh, Tuhan! Masihkah Engkau mau mendengar rintihanku? Terlalu banyak dosa yang kuperbuat. Dan apa kata mereka jika seorang Hendra bertaubat? Pastilah nyinyir.

Seketika kuingat ucap Astika, "Hidup di dunia itu hanya sementara. Yang hakiki justru hidup setelah mati. Di sana nanti tak ada yang bisa menolong kecuali perbuatan baik diri sendiri."

"Astika, aku membutuhkanmu. Kembalilah!"


@@@


Aku harus berubah. Semua ini kulakukan untuk kebaikanku. Jikalau terus menerus aku bertindak tak bermoral, mungkin nasibku tak akan jauh seperti Mbak Wiwin, naas di penjara. Aku tak mau itu terjadi. Terlebih lagi aku tak mau kehilangan Astika lebih lama. Cukup dengan tak tahu kabar keberadaannya sampai sekarang pun sudah membuat aku hampir mati lemas. Jujur kuakui, ternyata aku mencintainya dan juga membutuhkannya. Tak ada orang yang mau menerimaku selapang dada Astika. Tidak Ine, Wiwin, teman-temanku bahkan keluarga besarku. Mereka hanya pura-pura mau mendukungku meski aku tahu tak ada yang tulus seperti Astika. Hanya istriku itu yang tanpa pamrih melakukannya untukku.

"Astika, aku pasti berubah. Demi kebaikan kita bersama terutama kebaikanku. Aku tak akan menyakitimu lebih lagi. Kembalilah, Astika! Akan kupastikan aku bisa menjadi imam yang kau harapkan."

Akan kutinggalkan maksiat yang melumuri hidupku selama ini. Tak perduli cemo'oh teman-temanku saat aku menolak ajakan mereka.

"Hahaha, bener mau tobat lu, Hen? Ga nyesel, lu?" cela Junot ketika aku absen dari pesta miras di rumahnya.

Kenapa aku harus menyesal? Semua kebaikan juga aku sendiri yang merasakan, bukan mereka, bukan orang lain. Toh andai aku celaka pun orang lain tak akan ada yang peduli. Malah yang ada hanya tersenyum mengejek seraya berseru, "Rasakan akibatnya. Itulah ganjaran yang harus diterima manusia bejat seperti Hendra!"

Manusia bisanya cuma mencibir dengan mulut nyinyir. Tobatkupun tak jauh dari gunjingan miring yang ketika mendengar membuat hatiku semakin ciut. "Hendra tobat itu takut digebreg sama polisi dan bernasib mengenaskan seperti gundiknya, Wiwin. Nanti kalau polisi sudah tenang tak menjadikan Hendra DPO lagi, dia juga akan balik seperti semula. Tak mungkin dia sungguh-sungguh berbah. Itu hanya pura-pura saja!"

Biarlah orang mau bilang apa. Yang ada dan yang kuyakini dalam hati adalah, aku harus tobat. Aku tak mau terus menerus terpuruk dalam jurang syaiton. Akan kubuktikan pada mereka bahwa Hendra bisa menjadi manusia berakhlaq.

Ini hanya sedikit halanganku untuk maju. Aku percaya Tuhan Maha Kuasa. Pastilah nanti aku diberi kemudahan dalam setiap jalan jika aku tetap berpegang tegung terhadap-Nya. Tuhan tak pernah tidur.

Ucapan sinis Ine pun akan selalu kujadikan semangat. "Kamu mau insyaf, Say? Semoga betah, ya! Aku yakin dalam waktu beberapa hari lagi kau akan mencariku. Lelaki macam kau mana betah hidup kesepian?"

Tidak! Aku tak mungkin kesepian. Ada Allah yang siap mendengar keluh kesahku, bahkan Dia lebih kekal dari siapapun. Dan lagi, aku akan menanti Astika kembali ke pelukanku. Karena hanya dia yang tak pernah merendahkanku meski aku manusia rendah. Walaupun Astika tak melihat kalau aku sudah berubah, tapi aku yakin hatinya merasakan semua ini. Cinta lah yang menbuat ikatan batin antara kita begitu kuat.

"Astika, akan kupastikan kau tak menemukanku yang dulu. Hendra yang lalu telah mati, berganti dengan Hendra yang siap menjadi imammu dan akan menuntunmu ke jalan yang diridhoi Allah seperti harapanmu. Meski termat susah aku akan bisa dan berusaha sekuat tenaga. Janjiku Astika, kan kubawa engkau menuju kebahagiaan yang kau impikan."

Kebahagiaan pasti akan bisa kurengkuh meskipun tanpa barang-barang yang selama ini memberiku kenikmatan semu. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya bagiku adalah tatkala aku melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia karena perubahanku.


Tamat.
By
Rahayoe Wulansari

IBU ADA DIHATIKU

Bagi kebanyakan orang mungkin begitu mudah menggambarkan sosok seorang Ibu. Menceritakan kehangatan kasihnya, menuliskan betapa cintanya tak pernah berakhir, serta melukiskan pengorbanan seorang ibu yang tak terukur. Tapi tidak begitu denganku. Aku tak pernah bisa menceritakan kasih ibu, entah hanya menggunakan kata tak bermakna atau kalimat indah para pujangga.

Bukan berarti aku tak mencintai ibuku, namun karena aku tak tahu bagaimana kata yang tepat untuk mengisahkan tentang ibuku. Bagiku, seorang ibu lebih indah dari kata para pujangga. Ibuku adalah hatiku.

Semenjak kecil, aku tak pernah melihat wujud ibuku. Beliau wafat sesaat setelah berjuang melahirkanku ke dunia. Aku tak pernah mengenal suara ibuku, bagaimana lembut kasihnya, hangat peluknya, cinta tak bersyaratnya. Yang kurasa ibuku ada dalam hatiku, itu saja.

Terkadang aku iri melihat mereka menceritakan tentang sosok ibu. Pernah juga sakit hati karena aku tak bisa merayakan hari ibu. Mempersembahkan kejutan kecil lantas dengan sayang mencium pipi ibu sembari berucap, "Selamat hari ibu."

Yang bisa kulakukan hanya berdo'a, semoga ibuku diterima di sisi-Nya.

Ayah pernah membawaku ke pusara ibu. Aku begitu terkejut kala melihat keadaan tempat peristirahatan terakhir orang yang telah berkorban untukku. Beginikah rumah ibuku? Hanya sebuah gundukan tanah penuh rumput dan daun-daun kering tanpa nisan tanpa bunga-bunga. Sebagai penanda kalau itu makam hanyalah sepotong patok kayu yang hampir habis dimakan rayap. Tak ada nama tertera di sana, tahun meninggal atau apapun seperti layaknya pusara lainnya. Betapa gersangnya peristirahatan terakhir ibuku? Oh, Tuhan! Ini sangat memprihatinkan.

Semenjak hari itu aku selalu terbayang-bayang akan keadaan rumah ibuku. Aku berjanji dan bertekad dalam hati akan mencari uang untuk mempercantiknya. Karena meski aku tak mengenal sosok ibu, tak pernah bercengkrama dengan beliau, tapi ibuku adalah hatiku.

Singkat cerita aku bekerja sebagai Buruh Migran Indonesia di Taiwan. Setiap bulan gaji yang kudapatkan aku tabung dan kukirim ke keluarga di Indonesia. Saat itu aku berpesan pada keluargaku, "Tolong, sebelum uang ini digunakan untuk yang lain, aku minta satu persyaratan. Bangunlah pusara ibuku."

Hingga pada suatu malam perasaanku teramat gundah. Ah, mungkin keluarga di Indonesia rindu kepadaku. Tetapi rasa tak tentram ini terus menerus terjadi bahkan sampai tengah malam. Perasaan tak enak di hati terus bergelayut sampai-sampai aku susah memejamkan mata. Tak terasa menjelang dini hari aku terlelap dan bermimpi.

Dalam mimpiku itu aku merasa didatangi seorang wanita berambut panjang dengan memakai gaun warna biru. Beliau membawa payung kecil lantas tersenyum ke arahku. Aku merasa tak mengenalnya dan terheran dengan perilaku wanita itu. Dia berjalan pelan mendekatiku, mengusap keningku dengan lembut dan berujar, "Kamu sekarang kurus sekali, Nak?"

Aku hanya terdiam tanpa kata. Tak pernah lepas pandanganku dari wanita itu. Dia benar-benar aneh, namun lebih anehnya lagi aku merasa bahagia karenanya. Tanpa sadar aku pun menitikkan air mata. Tangan wanita itu terjulur mengusap butir bening di pipiku lantas menarikku dalam pelukannya. Dengan lembut dia berbisik di telingaku, "Terima kasih ya, Sayang!"

Aku terbangun.

Siapa wanita itu? Kenapa dia berterimakasih padaku? Dan juga aku begitu merasa nyaman berada di pelukannya. Aku benar-benar penasaran dan tanpa pikir panjang saat itu juga aku menelfon keluargaku di Indonesia serta menceritakan perihal mimpiku itu.

Subhanallah, aku benar-benar terkejut dan spontan menangis tersedu. Ternyata di Indonesia baru saja selesai diadakan selamatan pembangunan pusara ibuku. Setelahnya kuketahui bahwa wanita yang datang di dalam mimpiku itu adalah ibuku. Kerena tak lama kemudian Ayah mengirim MMS foto ibuku. Meski kurang jelas, aku yakin wanita dalam foto itu adalah orang yang sama dengan sosok yang mendatangiku dalam mimpi.

"Ya, Allah. Terimalah ibuku di sisi-Mu. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu, dan jauhkanlah ia dari api neraka-Mu," do'aku malam itu.

Sekarang, tak perlu lagi aku iri atau bahkan sakit hati karena tak bisa seperti mereka yang masih memiliki ibu. Bagiku, meski tak pernah bertemu, tak pernah bercengkrama, namun ibu ada di hatiku.

Tamat.
By
Rahayoe Wulansari



Biodata :
Rahayoe Wulansari adalah Buruh Migran Indonesia di Taiwan. Wanita kelahiran kota kecil di kaki gunung sindoro ini teramat mengidolakan Andrea Hirata. Tepat di tanggal 30 bulan Maret 26 tahun silam, dia mulai merasakan indahnya dunia. Menulis adalah salah satu hal yang sangat disukai selain membaca dan mendengarkan musik. Meskipun pekerjaannya sekarang teramatlah menyita waktu, namun ia tetap menyempatkan menulis, karena menulis baginya sudah seperti kebutuhan. Penyuka warna hijau tersebut mempunyai motto hidup yang simple yaitu, 'Hidup hanya sekali, namun jika dijalani dengan baik, sekali hidup pun cukup'.
Email : venoluv@gmail.com
Facebook : @Rahayoe Wulansari

Mawar Hati

Seharusnya Nenek ada di sini. Di samping jendela ruang tamu, memandang lepas ke langit jingga yang mempersembahkan senja. Dia selalu saja begitu, teduh memandang cakrawala dengan senyum tua yang tetap menawan. Tak lupa dari bibir keriputnya terkadang lirih terdengar senandung lagu mocopat * dandang gula* atau asmaradhana*.

Namun tidak dengan sanding kala* kali ini. Nenek tak lagi berlaku lembut seperti biasanya. Bersenandung lagu jawa pas menjelang maghrib dengan ditemani secangkir kopi pekat dan cerutu klembak menyan*. Sore ini Nenek duduk manis di depan televisi menyaksikan dengan khidmat drama korea yang sedang booming akhir-akhir ini. Wanita yang melahirkan ibuku itu menatap takjub tak berkedip ke layar kaca berukuran 21 inchi di ruang keluarga. Bahkan kopi pekat yang telah kupindahkan ke sampingnya pun tak disentuh sama sekali. Ini suatu hal ganjil mengingat Nenek tak pernah bosan akan kebiasaannya menikmati senja. Langit sore berwarna jingga dihiasi awan seputih kafan.

"Nek, kopinya diunjuk*," tegurku.

Tak kusangka beliau meminta suatu hal yang di luar kebiasaannya. "Tolong buatkan aku teh tubruk* dengan dua sendok teh gula."

Kusebut tak masuk akal. Dari dulu nenek selalu menolak jika kubuatkan teh. Beliau lebih suka kopi pekat dengan gula aren* peneman cerutu klembak menyan nya.

"Tumben, Nek," komentarku.

Nenek menyunggingkan sebaris senyum di bibir tuanya dan mata merona berbinar. Kupikir Nenek sedang bernostalgia dengan secangkir teh tubruk di masa lalu. Kudengar dari cerita ibu, kakek gemar sekali ngunjuk teh di pagi hari.

Tanpa banyak kata lagi, kupergi ke dapur memenuhi permintaan nenekku. Keheranan yang sempat menyeruak kutepis begitu saja. Mungkin Nenek ingin hal berbeda kali ini, batinku.

"Ini teh nya, Nek." ujarku seraya menaruh cangkir di samping Nenek.

"Itu namanya siapa, Nduk*?" tanya beliau kemudian. Tangan keriputnya menunjuk seorang aktor drama korea yang sedang tayang di televisi.

"Kirana kurang tahu, Nek. Jujur saja Kirana ga suka drama korea," ulasku.

Nenekku hanya mengangguk maklum. Meskipun ada sedikit kekecewaan dalam anggukannya, namun bibirnya tetap terlukis senyum mengembang dengan mata penuh sorot terpesona.

"Mirip," lirihnya.

Mirip? Dengan kakek kah?

"Mirip siapa, Nek?" Aku mengajukan pertanyaan tetapi hanya dijawab dengan senyuman tertahan oleh nenekku.

Aku hanya bisa menggeleng perlahan melihat ulah nenekku kali ini. Akankah beliau sedang mengenang seseorang? Atau hanya ingin mencari suasana baru saja? Aku tak tahu.


****


Delapan puluh lima tahun yang lalu beliau ada di dunia ini, Ibu dari ibuku. Tumbuh sebagai kembang desa yang cantik, cerdas dan cekatan. Tak ayal para jejaka banyak sekali yang menaruh hati pada nenekku, begitulah sedikit kisah di masa silam yang pernah kudengar. Pantas saja, meski sudah 3/4 abad lebih umur beliau, namun sisa-sisa kecantikan itu masih terpencar di wajahnya. Bentuk serta warna kulitnya yang terlihat terawat sempurna meski sekarang telah dihiasi kerut, adalah suatu bukti bahwa nenek dulu rajin merawatnya.

Banyak cinta yang menanti untuk dibalas sang dewi pujaan, ternyata kesederhanaan kakek lah yang memenangkan hati si kembang desa. Nenek pernah bertutur, tak pernah sekalipun kakek merayu untuk mendapatkan cinta nenek dahulu. Tak seperti pemuda lain yang mengobral janji setiap hari, kakek hanya berani memandang nenek dari jauh dan akan berlari sembunyi jika nenek menyadarinya.

Kesetiaan terpegang teguh sampai maut memisahkan. Nenek dan kakek seperti contoh mimi lan mintuno* buatku. Mereka tetap seiya sekata menyusuri bahtera rumah tangga hingga nyawa terlepas dari raga, saling mendukung dan saling membantu. Meskipun kakek telah lama tiada, nenek masih saja setia dengan kebiasaan yang telah mereka lakukan berpuluh-puluh tahun yang lalu. Pergi ke ladang merawat beberapa tanaman palawija, makan bersama di bawah pohon pisang sambil melepas lelah, dan ketika senja hampir tercipta berdua menyusuri pematang pulang ke peraduan sambil menikmati eloknya langit jingga.

Padahal sudah sering sekali Ibu menegur nenek, "Jangan terlalu lelah di ladang, Nenek itu sudah sepuh,* sudah saatnya istirahat."

Namun tak pernah diindahkan oleh nenek. Beliau tetap saja pergi ke ladang. Meskipun di sana nenek hanya duduk menyaksikan pemandangan burung-burung terbang dan hijaunya alam. Tak seperti dahulu ketika kakek masih hidup, mereka berdua mencangkul atau sekedar menyiangi tanaman.

"Nenek bisa merasakan kehadirannya di sini, menumpahkan rindu yang selama ini terpendam tanpa harus tahu kenyataan Kakek telah berkalang tanah," begitu jawaban nenekku saat aku menanyakan alasan mengapa ia sangat suka menghabiskan waktu di ladang.

Aku memakluminya, karena sejatinya wanita tak mudah berpindah ke lain hati seperti mudahnya membalikkan telapak tangan. Butuh waktu yang lama untuk bisa menyingkirkan posisi belahan jiwa dari hati.

Bahkan hari ini, ada setangkai mawar terjuntai di dalam vas bunga mungil di samping ranjang nenek. Aku berpikir, mungkin kakek dulu diam-diam menyukai bunga mawar, sehingga nenek berlaku begitu sekarang.

"Wah, cantik sekali bunganya, Nek?" Iseng aku bertanya.

Beliau hanya senyum dikulum, "Dia suka memberiku bunga mawar jika kita bertemu."

"Hhmm, romantis juga ya, Nek?"

"Lelaki pemberani,"

Salut aku akan keberanian kakek yang membuat nenekku mengenangnya sampai sedalam sekarang. Pastilah sangat berkesan.


****


Ada kemungkinan aku terlalu paranoid akan perilaku nenek. Di lain sisi aku bisa memaklumi jikalau dia sedang bernostalgia, namun di sisi lain aku teringat istilah jawa nganeh-anehi yaitu berlaku aneh sebagai pertanda akan meninggal dunia. Perilaku nenek sungguh di luar kebiasaan.

Layaknya pagi ini, beliau memakai kebaya kuning gading, dengan kain jarik* terbaiknya serta sedang berpatut di depan cermin berhias diri. Hanya senyum kekhawatiran yang bisa kulukis, "Jangan-jangan nenek akan..."

Apa lagi ketika tak sengaja kutangkap percakapan ibu dan nenek di kamar.

"Cantik sekali mau kemana, Nek? Bajunya juga bagus, kok aku belum pernah melihatnya?" goda ibuku.

Nenek terus saja merapikan sanggul di rambut ubannya. Meskipun sudah teramat sulit melakukannya karena rambut yang nenek miliki sudah tak sebanyak dahulu, beliau tetap berusaha membuat sanggul itu jadi sempurna.

"Hhm, bunga mawarnya juga harum. Aku tak pernah tahu kalau Kakek pencinta bunga mawar, Nek?" tanya ibuku lagi.

"Dia lelaki yang baik, selalu penuh kejutan," ujar nenekku.

Ibu berlalu dari kamar nenek untuk melanjutkan pekerjaan. Tetapi tidak denganku, ini sudah terlalu tak biasa. Firasatku ada yang lain dari nenek kali ini, semoga saja ketakutanku tak terjadi. Kenyataan yang baru saja kudengar, bukan kakek pecinta mawar itu.

"Nenek mau kemana?" tanya yang kuajukan ketika kulihat nenek telah selesai berdandan dan bergegas akan pergi.

"Mau ke ladang, Nduk," ucapnya sambil lalu.

"Ke ladang pakai baju bagus begitu?" Tegurku lagi.

Nenekku terdiam dan tetap berlalu pergi. Sebenarnya aku ingin mengikutinya untuk memastikan nenek tak melakukan hal yang rawan, namun kuurungkan niatku ketika kusadari nenek benar-benar pergi ke ladang. Karena hanya ada satu jalan ke tanah pekarangan belakang rumah yang biasa digunakan nenek untuk berkebun.

Meskipun umur nenek sudah hampir penuh se abad, tetapi ingatan beliau tak ada yang terganggu, tak seperti kebanyakan orang tua lain yang menjadi pikun. Oleh karena itu aku yakin sekali nenek tak salah mengambil baju dan tahu betul apa yang dilakukannya.

Semoga nenek baik-baik saja, batinku.

Meskipun hati tetap tak tenang karena senandung yang terucap dari bibir nenek tak lagi asmaradhana namun semacam lagu dangdut jaman dahulu. Terlalu drastis berubah.


****


Pergi ke ladang, cerutu klembak menyan, kopi pahit, bersenandung lagu jawa, sekarang ini tak pernah nenek lakukan. Beliau lebih sering asyik di depan televisi jika drama korea itu tayang. Lantas dengan seksama mengikuti tiap episodenya tanpa terlewat. Setelah selesai, nenek akan pergi ke kamar mematut di depan cermin dengan melontar senyum penuh arti kepada bunga mawar yang setiap hari diganti.

Aku pernah membicarakan kepada ibu tentang keanehan nenek, namun beliau menjawab itu hal yang wajar mengingat usia nenek sudah udzur.

"Sudah jadi hal yang lumrah, Kirana. Orang kalau sudah tua akan kembali lagi seperti anak-anak," begitu kata ibuku.

"Tapi Bu, ini lain. Kirana takut Nenek. ..." sengaja kugantung kalimatku. Aku tak ingin dicap sembrono* karena mengatakan nenek berlaku nganeh-anehi

"Sudahlah, Nduk, lebih baik kamu teruskan saja belajarmu. Maklumi saja tingkah Nenek," kata yang diucapkan ibu untuk mengalihkan perhatianku.

Sungguh aku tak khawatir jika nenek berlaku seperti hari-hari biasa. Andaikan beliau sedang mengingat seseorang di masa lalu pun aku bisa mengerti, melihat kesetiaan yang nenek tunjukkan selama ini. Semua bertambah mengkhawatirkanku ketika suatu hari nenek meminta padaku sebuah gambar sang aktor drama korea yang ada di majalah bawaanku.

"Untuk apa gambar ini, Nek?" ujarku heran. Tetapi tetap saja kuberikan kepadanya gambar itu. Aku takut beliau akan tersinggung.

Setelahnya kutahu gambar aktor drama korea itu ditempel rapi di almari nenek bersanding dengan selembar foto hitam putih. Kuamati dengan seksama, namun di dalamnya tak begitu jelas foto siapa. Aku penasaran. Diam-diam kubawa selembar foto hitam putih itu kehadapan Ayah.

"Apa ini foto kakek, Yah?" langsung saja kuajukan pertanyaan begitu sampai di depan ayah.

Lelaki tulang punggung keluargaku itu mengerutkan dahi, mengamati dengan jelas foto yang kuulurkan.

"Dapat dari mana foto ini, Kirana?"

"Dari almari Nenek," kataku jujur.

"Tak jelas ini foto siapa, tetapi Ayah yakin bukan Kakek."

"Perkiraan Kirana, lelaki ini yang dulu suka memberi Nenek bunga mawar, dan akhir-akhir ini muncul di memori ingatan Nenek. Terlalu aneh karena terkadang Nenek menitikkan air mata."

Ayah mengelus rambutku dengan sayang, "Sudah, jangan terlalu kau risaukan, Kirana. Mungkin itu cuma suatu kebetulan."

Semua orang menganggap kelakuan nenek itu sudah biasa tapi tidak denganku. Aku merasa takut dan agak penasaran tentang hal yang bisa membuat nenek tersedu seraya berucap, "Aku terlambat datang kala itu, dia menyadarinya. Mawar-mawar itu buktinya dan aku takut."

Takut? Kepada siapa?

Sungguh aku tak bisa mengatakan ini hal yang wajar dilakukan oleh orang setua nenek. Terlalu dalam untuk dianggap hal sepele.

****

Tak puas rasanya dengan jawaban yang diberi Ayah dan Ibu. Tentang lelaki bernama Atmo, yang pernah disebut nenek ketika aku menanyakan tentang foto itu.

"Atmo? Paman kurang tahu, Kirana," jawaban yang sama diutarakan pamanku ketika kutanya menyangkut orang di masa lalu nenek.

Aku pikir anak bungsu nenek ini tahu cerita tentang Atmo. Nenek bilang, "Si Kumis dulu Nenek menjulukinya."

"Apa Kakek punya kumis, Paman?"

Adik ibuku itu tertawa. "Kamu ini ada-ada saja, Kirana. Kakekmu tidak pernah memelihara kumis setahu Paman. Apa Atmo itu berkumis?"

Aku mengangguk mantap. "Perkiraanku begitu."

Hanya gelengkan kepala heran ketika kukatakan kepada paman akan firasatku dan segala macam keanehan tingkah nenek. "Percaya saja sama Allah. Jodoh, mati, rejeki itu sudah ada yang mengatur. Mungkin saja Nenek benar-benar bernostalgia," tutur paman.

Lagi-lagi aku harus menelan kecewa karena tak ada yang mengidahkan firasatku, juga karena tak ada yang tahu siapa Atmo itu. Padahal aku yakin ini ada hubungannya dengan mawar-mawar yang kian bertambah jumlahnya.

"Sudahlah, Kirana, jangan berpikir yang bukan-bukan. Selalu berdo'a saja, agar apa yang kamu pikirkan tak terjadi," tegur pamanku.

Ada benarnya juga. Kemungkinan aku yang terlalu berlebihan menyikapi perilaku nenek. Bukan apa-apa, hanya saja aku trauma pada kehilangan, meskipun hal itu pasti akan terjadi.

"Anggap saja Nenek mulai berlaku seperti orang tua lain yang sudah pikun," lanjut pamanku.

Aku mengangguk kecil, "Yah, meskipun seharusnya tak sedrastis ini perubahannya." batinku.

"Iya, Paman. Mungkin Kirana terlalu berlebihan,"kata yang akhirnya kuucap. Walaupun dalam hati masih terus saja was-was.

Ya, Allah. Lindungilah Nenekku.


****


Fajar mulai merekah melahirkan semburat merah di ufuk timur. Sang Raja hari menampakkan diri keluar dari persembunyiannya. Ketika udara masih berbau embun basah, aku menyaksikan nenek seperti terburu-buru ingin pergi. Lengkap dengan sanggul hampir sempurna di rambut ubannya, baju kebaya berenda hitam, serta kain jarik yang telah diwiron* di bagian ujung. Mustahil jika beliau hanya ingin ke ladang.

"Nenek mau kemana? Sekarang masih terlalu pagi untuk ke ladang," cegahku.

Beliau hanya memandangku sekilas, "Nenek mau minta maaf."

Penuturan yang singkat seketika membuatku tersentak.

"Minta maaf sama siapa, Nek? Apa nenek telah berbuat salah?" kejarku. Perasaanku yang sudah agak tenang kemarin kini bergejolak lagi.

"Semoga dia mau memaafkanku." Dan Nenek pun berlalu.

Kali ini aku tak mungkin menganggap ini hal wajar. Dari pancaran bola matanya, beliau nampak serius dengan apa yang diucapkan. Dan tak mungkin pula aku bisa tenang, menganggap nenek bertingkah kekanak-kanakan karena faktor usia.

Tanpa pikir panjang lagi aku mengikuti beliau dari belakang. Siapakah gerangan yang membuat nenekku begitu resah ingin segera minta maaf? Laju langkahnya menuju ke suatu tempat yang sudah ku hafal. Makam keluarga besar kami.

Di tempat yang sunyi dan cukup luas itu, kulihat nenek berjongkok pada pusara tanpa nama. Sedikit menaburkan bunga dan berdo'a dalam hati.

Aku mengamati dari jauh. Sebenarnya makam siapa itu? Bahkan Ayah dan Ibu juga tak mengetahui siapa yang dimakamkan di situ.

Nenek berdiri kemudian setelah mengusap lembut patok tanpa nama penanda makam itu. Dahulu patok itu menjadi bahan pertanyaanku kepada ayah, "Kok patoknya jelek, Yah. Seperti bukan keluarga kita," ucapku lugu.

Aku yang waktu itu masih duduk di bangku sekolah dasar penasaran, mengapa makam ini tak ditaburi bunga seperti yang lain? Bahkan keadaannya juga mengenaskan.

Dan sekarang nenek menyambangi makam itu. Meski hanya sebentar lalu beranjak dan melangkah menuju makam kakek.

Perlahan aku mendekati nenek yang kini sedang menangis di samping makam suaminya. Lirih kudengar beliau bertutur, "Maafkan aku, Kek. Aku mengingatnya lagi. Mawar itu tak bisa gugur dari dalam hati. Tapi aku janji ini yang terakhir, aku tak akan menemuinya lagi."

"Nek?" Panggilku.

Beliau mendongak dan agak sedikit terkejut mendapati aku telah berada di hadapannya.

"Kenapa Kirana ada di sini?"

Aku berjongkok di depan pusara kakek, "Tadi Kirana mengikuti nenek. Kenapa nenek bilang ingin minta maaf? Kepada siapa?"

"Kepada kakekmu," jawab nenek singkat.

"Makam tak bernama itu sebenarnya punya siapa, Nek? Baru kali ini Kirana melihat makam itu ditaburi bunga. Biasanya juga tidak pernah. Apa yang dimakamkan di situ masih keluarga kita, Nek?"

Nenekku terdiam sejenak lantas berujar, "Itu makam Atmo."

Bersama dengan menitiknya butiran bening dari sudut mata nenek, beliau melanjutkan penjelasannya.

"Atmo dan Kakek dulu adalah sahabat baik. Tapi nenek melakukan kesalahan. Mawar-mawar itu saksinya. Tanpa bisa dihindari, telah bersemi di hati nenek cinta terlarang untuk Atmo, Si Kumis."

"Lantas apa Kakek marah?" tanyaku.

"Tidak, Kakek tidak marah. Dia hanya sedikit curiga pada mawar-mawar itu. Hingga ajal menjemput Nenek tak berterus terang padanya. Dan itu membuat Nenek merasa bersalah karena telah mengkhianati cinta suci kami."

Hening tercipta kemudian.

"Maafkan aku, Kek."

Aku berdiri lantas kupeluk nenekku yang bergetar menahan isak. "Nenek, Kirana yakin Kakek sangat mencintai Nenek. Dan Kakek akan memaafkan Nenek bahkan sebelum Nenek minta maaf. Karena Kakek adalah orang tersabar dan terbaik yang pernah Kirana kenal."

Cinta suci itu bukan yang tanpa adanya onak dalam perjalanan menuju sakinah. Tapi justru cinta suci adalah yang bisa saling mengerti dan menggenggam erat jemari pasangan yang melukai diri dengan onak itu baik sengaja ataupun tidak.



Yang bertanda *
-mocopat : lagu bahasa jawa
-dandang gula : salah satu judul mocopat
-asmaradhana : salah satu judul mocopat
-sandhing kala : waktu mendekati maghrib
-klembak menyan : bahan pembuat rokok
-diunjuk : diminum
-teh tubruk : teh yang diseduh bersama daunnya tanpa disaring
-gula aren : gula jawa dari sari pati aren
-nduk : panggilan untuk anak perempuan jawa
-mimi lan mintuno : Hewan laut yang slalu hidup barsama tidak pernah terpisahkan. Dan bila ingin memakannya pun harus keduanya kalau tidak akan beracun. Mimi lan mintuno ini sering digunakan sebagai simbol kesetiaan dan kerukunan dalam budaya Jawa.
-sepuh : tua
-jarik : kain panjang yang digunakan sebagai pengganti rok
-sembrono : kurang ajar
-diwiron : dilipat di bagian ujung untuk memberi kesan manis

TAMAT.
Jeet Veno_Mena Ayu.

Rabu, 30 November 2011

Waroeng-koe: Jangan Tanya Orang Yang Tidak Suka Membaca

Waroeng-koe: Jangan Tanya Orang Yang Tidak Suka Membaca: Kesalahan ini kerap dilakukan calon penulis atau penulis pemula. Bertanya pada orang yang tidak suka membaca soal kebagusan karya mereka? H...

Senin, 03 Oktober 2011

Fiksi Seksi ¤G.A.L.A.U¤ by Nina

Hujan tlah berubah jadi rintik malam ini, tapi Nina masih belum bosan menunggu. Jarum jam sudah menunjuk di angka satu. Tetapi bunda, seseorang yang Nina tunggu belum juga pulang. Ia ingin memberi kabar bahagia kepada bundanya tentang cerpennya yang memenangkan lomba. Sepertinya belum ada tanda-tanda bunda mau pulang.

"Hooaaamm, kesel aku ngenteni" kata Nina pada angin malam.

Dia celingukan di dalam rumahnya, tak tau mau mengerjakan apa untuk mengusir bosan menunggu bundanya pulang.

"Chating aja aahh"

Nina meraih notebooknya dan langsung berselancar ke dunia maya. Dilihat siapa saja temen Nina yang OL malam itu, dan ada satu nama akhir-akhir ini sering share dengan Nina masalah apapun, meskipun Nina tak mengenalnya. Namun Nina merasa cocok dan nyambung bila ngobrol dengannya.

Diketuk-ketukkan jari Nina di keyboard dengan lincah mulai chating
Nien : Mas broooww!
Zetha : Ooiii, lom tidur Neng?
Nien : Lg nunggu bunda lom pulang ;-(
Zetha : Udah jam 1 padahal.
Nien : Hu'uh, aku pgn kasih tau kalo cerpenku menang. *berbinar-binar
Zetha : Wow, congratz yak, cerpen yang mana nih?
Nien : Thanks, yg judulnya 'Bunda' ^^
Zetha : Juara berapa?
Nien : Cuma ke-dua ;-(
Zetha : Uhuuy hebat oey. *jabat erat
Nien : Gue gitu... :-D *tepuk dada mulai sombong
Zetha : Bunda pasti bangga ;-)
Nien : Semoga. ^^
Zetha : Lom coba telfon beliau?
Nien : Takut ganggu ;-(
Zetha : Sms ajah.
Nien : Udah, tapi nggak dibales ;-(
Zetha : Berarti emang sibuk ^^
Nien : maybe.
Nien : Kupi-kupi mau?
Zetha : Mo mo dong, enak nich ujan-ujan ngupi ;-)
Nien : Uke dach, satu gelas goceng :-D
Zetha : Mahaaall amaattt! *kaget mau pingsan.
Nien : :-D :-D :-D
Zetha : Btw Otw Busway kabar sohib lo gimane?
Nien : Yoga?
Zetha : Hu'uh *angguk2
Nien : Katanya kemaren ketemu ama Restu.
Zetha : Trus-trus *siap menyimak.
Nien : Dia bilang seperti yg gue saranin suruh ngerahasiain. Katanya Restu marah.
Zetha : G kaget, jelas marah lah Nduk.
Nien : Lah dia kan da mo merit.
Zetha : Gimana juga dia da hamil anak Yoga.
Nien : G yakin.
Zetha : Maksudnya? *mengerutkan dahi.
Nien : Menurutku g jelas anak siapa.
Zetha : Kok? *muka heran
Nien : Gue da tau Restu g beres, pernah liat dia keluar motel pagi-pagi.
Zetha : Hah? Yoga tau?
Nien : G lah mas brow, aku da coba sindir-sindir tapi Yoga g percaya ;-(
Zetha : Bentar ada tamu. don't go anywhere ^^
Zetha : Nduk...
Nien : Yaaaa Paakk
Zetha : hihihi kembali ke laptop *ala tukul
Nien : *gubrak pingsan. G suka Tukul, le le lebih se se seneng a a azis
Zetha : hahaha *guling2 ketawa.
Nien : Stop ketawa! masih mo lanjut g?
Zetha : Uke, siap menyimak.
Nien : G cuma itu aja, kata temenku pernah liat Restu di kelab malam *ngeri
Zetha : WOW
Nien : Apanya yang WOW? *gondok
Zetha : LOL
Nien : Ketawa terus gue jitak *plethax
Zetha : adoow sakit tauukk... ya deh maap.
Nien : Bersyukur aja Restu g jd ama Yoga, kasihan sahabatku.
Zetha : Sepertinya... *mencoba menebak.
Nien : Apaa!
Zetha : Kamu suka Yoga ya, Neng?
Nien : Hah! LOL
Zetha : Prediksiku cieh :-P
Nien : Dia sobatku dari kecil, sayangku ke dia tu da lebih dari sodara tauuk. :-D
Zetha : hihihi masih ada peluang dunk *horee
Nien : Peluang pa an?
Zetha : Kali aja Mas brow mu ini boleh ngisi atimu dikit xixixi
Nien : Jerigen kaleee diisi minyak :-P
Zetha : Hehe ^_^ kembali lagi ke lap...
Nien : Toop.
Zetha : Lanjut ceritanya.
Nien : Aku pingin kasih tau aja ke Yoga, tapi ntar dia malah marah. Takut cz aku g ada bukti.
Zetha : Emang cieh, tapi kalau kamu yang ngomong masak Yoga g percaya kalo Restu g bener.
Nien : Yoga da cinta bgt ma Restu mas broow. Jadi ya gitu dech, ngerti kan?
Zetha : Emang cinta membutakan segalanya.
Nien : Ember...mpe g bisa berpikir jernih, coba ni mas broow, Yoga ketemu Restu kan 1 bulan yang lalu. Tapi da hamil katanya 2 bulan, gitu juga Yoga g ngerasa aneh.
Zetha : Mungkin sebelum itu mereka udah gitu kale *nelen ludah ngebayanginnya :-D
Nien : Tau lah mas broow, g mau terlalu nyampurin juga. Meskipun da sobatan kan harus ada batas2nya juga.
Zetha : Yupz betul.
Nien : Mas broow aku ngantug.
Zetha : Loh g nunggu Bunda pulang?
Nien : G lah, mata da protes mulu *whoaamm
Zetha : xixixi ya dah sana bubuk
Nien : Thanks ya mas brow mau jadi tempat sampah :-P
Zetha : Sama-sama nduk, koleksi tempat sampahku banyak kok :-P
Nien : Aku merem dulu yak.
Zetha : Uke ^^
Nien : Jangan chat mpe pagi lo hehe
Zetha : Siap!
Nien : Dada bubye
Zetha : Bubye *melambaikan tangan.
Nien : Offline.

Dimatikannya notebook Nina dengan sempurna, gadis itu melirik ke arah jam.

"Udah jam 3 Bunda belum pulang juga? set dah" Nina ngomong sendiri.

Dia beranjak masuk ke kamarnya untuk beristirahat. 'Soal cerpennya besok pagi aja kasih tau bunda' batin Nina. Dimatikan lampu kamarnya dan ia mencoba bermimpi.

"Zzz zzz zzz"




Kisah selanjutya??
Nanti Okey...

Kamis, 29 September 2011

Fiksi Seksi ¤G.A.L.A.U¤ by Rama.

"Ram, sini turun Nak. Papa mau bicara"

Aku mendengar panggilan Papaku. Sepertinya dari ruang baca. Segera kurapikan sajadahku dan bergegas pergi ke arah Papa.

"Ya Pa. Rama dipanggil?" Tanyaku berdiri di depan pintu.

"Masuk Ram, duduk" Perintah Papa.

Aku menurut. Ku kelilingi sofa three in one di ruang baca itu dan aku memilih duduk di dekat rak buku.

"Ada apa, Pa?" tanyaku kemudian.

Laki-laki yang kupanggil Papa itu tersenyum. Lesung pipinya masih ada sampai sekarang. Gurat-gurat kelelahan tampak di keningnya. Meskipun rambutnya sudah beruban tapi selalu tersisir rapi ke belakang. Dia selalu tampak berwibawa di mataku.

"Bagaimana menurutmu calon yang papa pilihkan"

"Maksud papa Restu?" Tanyaku memastikan. Begitu banyak calon yang papa ajukan untukku.

"Ya, kamu tidak lupa kan?"

"Iya Pa, Rama ingat"

"Cantik ya"

Memoriku mem flash back kejadian 1 bulan silam, saat kami sekeluarga berkunjung ke rumah Restu bermaksud ta'aruf. Cantik dan sexy itu yang tertangkap pertama kali melihat Restu. Calon yang di pilihkan Papaku.

"Kalian masih berhubungan kan?"

Papa mengagetkanku dengan pertanyaannya. Aku tersenyum dan mengangguk.

"Papa harap kali ini cocok. Tak enak sama Pak Gunawan andai kali ini gagal, Ram"

Ada perasaan bersalah menyembul di dadaku. Aku menghargai usaha papa ku mencarikan jodoh, tapi dari kesemua calon yang ada, belum satu pun yang 'sreg' di hati.

"Cantik memang, tapi..."

"Rama, papa bingung sama kamu. Sudah banyak calon yang papa ajukan terhadapmu dan kesemuanya tidak buruk tapi kamu selalu tidak cocok. Yang begini lah, kurang ini lah, terlalu begitu lah" papaku mulai dengan keluhannya.

Aku jadi merasa tambah tak enak.

"Bukan begitu Pa, Rama sudah dewasa biarkan Rama memilih jalan hidup Rama sendiri" kataku menjawab kegundahan Papaku.

"Mau sampai kapan kamu memilih, Ram? ingat umurmu" kata Papaku.

"Rama tau Pa, berikan Rama waktu"

"Papa lihat Restu anak yang baik, sopan, pendidikannya tinggi, cantik pula. Cocok bila bersanding denganmu, Ram" kata papaku kemudian.

Pikiranku menerawang kemudian. Memang Restu cantik semua orang tau itu. Bahkan orang buta sekalipun bisa merasakan kecantikannya. Tapi entah kenapa hatiku tak tertaut kepadanya. Ada yang lain di penampilannya.

"Ram, kamu harapan Papa satu-satunya. Papa harap kamu tak mengecewakan Papa kali ini"

Tiba-tiba ada perasaan lain di hatiku. Perasaan bersalah yang teramat dalam.

"Ya, Pa kali ini akan Rama coba" kataku untuk menenangkan hati Papaku.

Bukan karena kecantikan Restu tak menarik hatiku tapi aku merasa sayang saja dan juga cemburu. Andai tubuh molek itu terbungkus gamis rapi, mungkin akan tenang aku melihatnya. Aku ngeri membayangkan betapa kemolekan tubuh calon istriku sering dinikmati oleh berjuta pasang mata secara gratis pula.

"Kapan terakhir kamu menelfon Restu, Ram. Papa harap dalam sebulan ini kalian sudah semakin dekat" Perkataan Papaku membuyarkan lamunanku

"Dua hari yang lalu Rama menelfonya, Pa"
kujawab pertanyaan papaku

Ya aku masih jelas mengingatnya. Telfon singkatku untuk Restu. Hanya ingin mencoba sedikit perhatian dengan mengingatkan dia agar jangan lupa sholat, belum selesai aku bicara telfon sudah di matikan. Bahkan salam ku pun gugup dijawabnya

"Bagus, papa berharap banyak pada hubunganmu kai ini, Ram. Jangan kecewakan papa"

Perkataan papaku membuatku menepis pikiran burukku tentang Restu, 'Astaghfirullah jangan suudzon, mungkin waktu itu lowbat' batinku menenangkan

"Iya Pa, Rama nggak akan kecewakan Papa. Rama akan berusaha lebih dekat dengan Restu."

Aku menyerah kali ini. bukan aku kalah, tapi lebih banyak karena perasaan tak enak hati. Andai bukan karena kebaikan Pak Subagyo orang yang ada di depanku kini, mungkin aku masih jadi gelandangan hidup di kolong jembatan. Tidak seperti sekarang hidup serba kecukupan.

"sering-sering lah kalian berkomunikasi, agar lebih dekat. Semoga yang kali ini tak kau tolak, Ram. Papa sudah tua ingin segera menimang cucu" ucap beliau.

Aku tersenyum simpul mendengar perkataan papaku. Kupandangi wajah lelah Pak Subagyo yang berwibawa ini. Sungguh pun aku tak ada maksud mengecewakan orang budiman ini, andai ada pilihan calon lain yang menutup auratnya, mungkin aku akan langsung menerimanya.

"He he he. Papa cucu terus yang dipikirkan"

"Papa sudah tua Rama, sudah saatnya istirahat.Papa ingin masa tua papa tetap ramai dengan adanya cucu-cucu. Maka cepat-cepatlah menikah dan mempunyai anak. Papa akan merasa lega karenanya"

"Iya Pa, Insya Allah"

Aku mengangguk kali ini, dalam hati aku berdo'a 'Tuhan andai Restu itu jodoh yang Engkau berikan untuku, aku ikhlas menerimanya. Aku tak ingin membuat Papaku ini selalu gelisah memikirkanku di masa tuanya. Orang yang sudah berbaik hati memungutku 30 tahun silam'

"Baiklah kalau begitu Pa. Rama kembali ke kamar lagi ya, tadi belum selesai baca Qur'annya" pamitku.

Pak subagyo mengangguk dan tersenyum simpul

"Ya, pergilah Nak"

Rabu, 28 September 2011

Fiksi Seksi ¤G.A.L.A.U¤ by Restu.

Aku tak menyangka Yoga bisa berpikir sedemikian mudah. Aku pikir dia mencintaiku begitu dalam hingga mau berkorban apa pun untuk ku. Tapi kenyataannya jauh. Kembali kuteringat percakapanku dengan Yoga di cafe tadi siang.

"Menurutku begitu lebih baik, Res" kata Yoga. Diteguk kopi pesanannya dan dia melanjutkan ucapannya.

"Kamu sudah hampir menikah, dan Aku sudah berjanji untuk tidak lagi mengganggumu"

"Tapi aku tak mencintai Rama, Ga. Aku mencintaimu dan ini anakmu."

"Aku tau ini berat, Res. Tapi apa kamu ingin hidup kita kelak sengsara selamanya?. Itupun kalau aku belum dibunuh oleh Ayahmu karena menghamilimu.

Yoga menyandarkan tubuhnya. Dibuangnya pandangan ke jendela seperti dia mau membuangku.

"Ga, sudah finalkah keputusanmu. Sampai di sini kah perjuanganmu akan cinta kita"

"Cukup Res, kita sudah janji waktu itu bahwa hari naas itu pertemuan kita yang terakhir."

Aku merasa tersinggung saat itu. Kuambil tas ku dan lalu kuberanjak meninggalkan cafe itu. Aku masih mendengar Yoga berteriak memanggilku namun tak kuhiraukan. Aku mulai muak atau bahkan sudah benar-benar muak. Aku muak pada laki-laki. Semuanya sama. Bangsat.

Yoga yang aku tau mencintaiku ternyata picik. Dia memintaku merahasiakan kehamilanku ini. Dan nanti saatnya tiba aku harus berpura-pura bahwa ini anak suamiku. Setidaknya calon suamiku Rama.

"Ah, dimanapun laki-laki itu sama" Teriak ku pada bayanganku di cermin.

Aku terdiam melihat pantulan wajahku. Kuamati dengan seksama, aku merasa tak ada yang aneh dengan wajahku dan terbilang sempurna. Cantik.

"Tit tit tit" Handponeku berdering, terlihat di layarnya "Rama calling". Surprice juga aku di buatnya.

"Hallo"

"Assalamualaikum" Rama mengucapkan salam.

Deg. Sudah lama sekali aku tak mengucapkan itu. Ada keraguan menyeruak di dadaku untuk menjawab tapi panggilan Rama mengejutkanku.

"Assalamualaikum, Res. Kok tidak di jawab"

"Wa.. wa.. walaikumsalam"

"Nah, gitu dong. Kalau ada ucapan salam bagi sesama muslim itu wajib hukumnya menjawab"

Jiah mulai deh Rama berda'i ria. Malas aku mendengarnya. Kutanyakan ada apa maksud dia telfon malah ceramah panjang lebar yang kudengar.

"Klik" kumatikan telfon saat itu juga sebelum Rama semakin panjang berceramah.

"Sok suci lo." Makiku kepada handphone ku kali ini. Aku benar-benar muak digurui.

Kubaringkan tubuhku di ranjang putihku, seperti rumah sakit memang tapi aku suka. Karena putih itu suci.

"Hah, Suci" Aku membatin.

"Sucikah aku?"

Kuelus perutku yang masih rata, sebentar lagi perut ini akan mengembang dan makhluk mungil berada di dalamnya. Yang entah benih siapa. Entah Yoga atau yang lain. Aku lupa.

"Dingin" kataku pada diriku sendiri. Kuamati AC dalam kamarku, berada di titik normal tapi aku merasa kedinginan.

"Oh please, jangan sekarang" batinku

Kuacak-acak dalam tas ku mencari sesuatu tapi tak ku temukan. Kuobrak abrik laci pun tak ada.

"Sialan. Kenapa harus sekarang" Runtukku.

Aku benar-benar merasa dingin, tubuhku mengginggil, tulang-tulangku serasa remuk. Aku butuh barang itu. Sekarang.

Kuraih handphoneku.
Aku harus menghubungi Andra, sebelum aku mati.

"Halo, Ndra"

"Res, ada apaan?"

"Gue mau barang ndra, ada nggak?"

"Ada uang ada barang."

"Ndra please. Gue butuh banget"

"Sori Res, kali ini gue nggak bisa bantu. Gue lagi butuh duit buat bayar kuliah"

"Ndra, kali ini aja bantu gue. Besok semua gue bayar. Gue sakaw, Ndra"

"Bukannya gue nggak mau bantu, Res. Tapi barang gue tingggal dikit. Kemarin udah gue buat pesta ama anak-anak. Atau gini aja, gue punya kenalan dia punya barang banyak dan bagus"

"Iya dech Ndra tolong bantu gue"

Terdengar Andra bercakap-cakap dengan seseorang, tapi aku tak begitu jelas mendengar. Aku terlalu sakit untuk mendengar lebih jelas lagi. Tulangku bagai ada yang menusuk-nusuk. Linu dan Dingin. Sakit.

Setelah sekian lama

"Halo, Res. Lo masih ada disitu" kata Andra kemudian

"Iya. Halo" jawabku semakin lirih

"Ada barangnya, Res. tapi ada syaratnya" Kata Andra kepadaku.

Demi mendengar barang yang kubutuhkan tersedia, sontak timbul sedikit semangatku.

"Syarat apapun gue setuju, Ndra"

"Dia minta lo tidur ama dia semalem"

"Anjrit, apa lo bilang?! Lo pikir gue apa!!"

"Ya gue cuma bantu lo aja, kalau lo keberatan nggak maksa juga."

Dadaku bergemuruh, tapi rasa ini begitu menusuk-nusuk. Berasa mau terlepas nyawa ini dari raga. Dengan berat hati aku berkata.

"Ok. Gue setuju" menetes air mataku, entah karna nasibku yang harus terjerumus dalam belenggu narkoba atau menangis karna sakaw yang ku alami ini.

Kusetujui sebuah tempat untuku bertemu dan bergegas aku menuju kesana.
Dalam pikiranku saat itu hanya satu. Ternyata semua laki-laki sama saja. Membuatku muak!



Tunggu edisi selanjutnya, ya! ^_^

Fiksi Seksi ¤G.A.L.A.U.¤

Kuhidupkan sebatang rokok yang sudah keberapa kalinya aku lupa menghitung. Kuhisap nikotin itu dalam-dalam dan kuhempaskan asapnya ke udara. Menyembul bersama kegelisahanku malam ini. Aku berharap ini cepat-cepat berakhir. Andai waktu bisa disulap aku tak ingin hari naas itu ada.

"Bodoh bodoh bodoh" Makiku pada diri sendiri.

"Arrgghh, kenapa bisa jadi begini?" Teriak ku memaki.

Kujambak rambut kepalaku yang membuatku pusing. Kepala yang menaungi otak ku yang kotor dan penuh nafsu.

"Diaancuuk tenaann"

Sebenarnya tak boleh aku seperti ini, sebagai laki-laki aku harus kuat. Tapi bahwasanya aku juga manusia yang penuh kekurangan. Aku butuh bantuan dan aku mulai takut.

Kuraih handphone ku dan kupencet tombolnya menghadirkan nomor sahabatku. Semoga dia belum tidur atau setidaknya mendengar panggilanku pagi ini.

"tuut tuut tuut" Terdengar nada menyambung dan tak berapa lama diangkat olehnya

"Halo" Suara serak orang bangun tidur terdengar di telingaku. Ada tersembul rasa bersalah sebenarnya, tapi aah aku butuh.

"Nin, lom tidur lo?" Ku ajukan pertanyaan bodoh yang jawabannya sendiri sudah bisa kutebak.

"Hhhmm" Jawabnya masih dengan mengantuk.

"Sori Nin, gue pingin curhat" Kataku selanjutnya.

Perasaan bersalah kembali muncul karna tlah mengganggu istirahat Nina sahabatku. Tapi apa daya, aku butuh seseorang untuk ku berbagi penat.

"Yaa, ada apa menelfon pagi buta gini, ga? tanya Nina sahabatku.

"Gue bingung, Nin." Aku ragu mengatakannya mungkin juga takut.

"Udah nggak usah bingung, gih ngomong aja. Apa gerangan yang membuatmu tega membangunkanku pagi buta begini" Kata Nina.

Dia memang paling tau sifatku. Tak mungkin kutega merecoki tidurnya kalau tak ada hal gawat.

"Restu, dia" Aku terdiam.

"Restu kenapa. Dia minggat dari rumah?

"Bukan itu Nin, ini bener gawat. Gue takut."

"Wedew, seorang Yoga takut? apa kata dunia?" Nina mencoba mencairkan suasana. Dia tau betul kalau aku sedang kalut.

"Hei, berhentilah merokok. Asapnya bikin sesek tau." kata Nina kemudian. Masih dihafal nya kebiasaanku kalau sedang bingung.

"Restu, dia"kataku terbata.

"Iya, gue tau Restu. Gue kenal dia kok, dia mantan cewek elu kan, yang cantik, sexy dan anak juragan dealer motor. Lantas ada apa dengannya. Minta diantar ke spa pagi buta begini?"

"Bukan itu Nin, dia tadi telfon gue."

"Jiah cuma telfon kok gawat, itu mah biasa kali, Ga."

"Kalo nggak gawat gue nggak mungkin masih melek jam segini, Nin."

"Iya, gue tau. Lantas hal apa yang buat elu melek? apa Restu mau bunuh diri atau minta kawin lari? ha ha ha" Nina berkelakar. Tapi aku tak menanggapinya seperti yang sudah-sudah. Aku sedang tak berselera. Rasanya dunia mau kiamat.

"Helloow, ga. Elu masih idup kan? kok diem"

"Gue bingung, Nin"

"Oke oke. Kayaknya ini benar-benar gawat. Tarik nafas dulu ga, lalu keluarkan pelan-pelan. Kalau udah tenang mulailah"

Aku mengikuti saran Nina menarik nafas. Ada kelegaan memasuki rongga dadaku yang sedari tadi terisi penuh nikotin.

"Restu tapi telfon gue, dia bilang kalau dia" aku terdiam.

"Huum trus?"

"Dia hamil, Nin"

"Haah, apa?"

"Hamil"

"Anak mu kah?"

Aku mengangguk yang sudah barang tentu Nina tak bisa melihat. Namun aku yakin Nina tau jawabanku.

"Ga, elu nggak bercanda kan? upz sori maksud gue kok bisa? sudah berapa bulan? bokapnya tau?"

"Baru jalan 2 bulan, bokapnya nggak tau. Bisa mampus kalau dia tau"

"Kenapa bisa seceroboh itu sih? trus rencana lu?"

"Justru itu Nin, makanya gue telfon elu pagi-pagi gini. Gue nggak tau mesti gimana, menurut lo?"

"Bentar, gue atur nafas dulu. Kaget sumpah gue dengernya"

"Apa digugurin aja kali ya"

"Jangan, dosa"

"Trus gue mesti apa?"

"Tenang sob, pasti ada jalan keluar. Gini aja, andai lu bilang ama Restu kalau suruh diem aja pura-pura nggak tau, gimana?"

"Maksud lo?"

"Gini, maksud gue kan Restu bentar lagi merit so pasti abis itu mereka bulan madu, to?

"Hu'uh trus?"

"Ya abis itu Restu suruh ngaku hamil lah, kan setahu suaminya itu anaknya."

"Gitu ya."

"Lagian lu bawel sih, udah aku bilang lupain Restu, bentar lagi dia jadi istri orang dan carilah penggantinya. Ini malah enggak, berlagak minta ketemu yang terakhir kali segala, eh sampai hamil pula"

"Aku juga nggak tau bakal jadi gini Nin, waktu itu kita terbawa suasana."

"Terbawa suasana apa lu yang sange' hahaha"

"Sialan lu. Jadi gitu aja Nin, pura-pura nggak tau"

"Iya lah, daripada lu ngaku ama bokapnya restu kalau udah menghamili anak semata wayangnya, bisa di 'dor' lu. Orang pacaran aja kagak boleh"

"Nasib jadi orang nggak punya, Nin"

"Hahaha bukan jodoh lu aja."

"Iya, kalau miskin dan kaya memang tak berjodoh"

"Udah nggak usah ngaco, percaya aja ama Tuhan. Dia tau yang terbaik buat elu, gih tidur gue udah ngantuk lagi."

"Yup, makasih ya Nin"

"Sama-sama. Jangan ngrokok terus ya, bye-bye"

"Bye"

Kututup telfon pagi itu, satu jalan keluar telah ada lega rasanya. Makasih sobatku.

Senin, 26 September 2011

Fiksi Seksi ^^Pangeran Kodok vs si Ndut^^ bag. 3 (habis)

Sudah dua hari ini Nocturno mendiamkan Giffa. Berkali-kali Giffa mencoba menelfon Uno tapi tak pernah diangkatnya. Pun dengan sms tak ada satu yang dibalas. Saat istirahat siang, Uno menyempatkan membuka Fb sekedar ingin update status. Ada pemberitahuan massage di sana, diklik nya ternyata dari Giffa.

"Uno yang baik, kenapa nggak pernah mau angkat telfon aku? maaf jika aku buat salah. Tapi please No, jangan diemin aku gini. Bilang kalau kamu marah. Dan tolong seandainya semua ini harus berakhir, aku ingin akhir yang baik-baik saja."

Dibaca berulang kali inbox dari Giffa dan Uno pun membalas.

"aku nggak marah kok Non, cuma kecewa. Ternyata ucapanmu, puisi-puisimu, perhatianmu, kata sayangmu semuanya nggak konsekuen. Nggak ada nyatanya, cuma bualan saja."

Ada kepuasan di hati Uno setelah membalas inbox Giffa. Uno bukan marah, hanya ingin tau sebesar mana perhatian dan sayang Giffa padanya. Akankah sama dengan apa yang dirasakannya.

Satu minggu berlalu semenjak kejadian 'gencatan sejata' antara Uno dan Giffa terjadi. Dan malam ini Uno membuka YM nya untuk mengusir suntuk. Ternyata pas giffa juga sedang Online.

Facute : Alhamdulillah, akhirnya OL juga. Hai cakep ;)
Nocturno : Hai.
Facute : Gimana kabar, Aa'?
Nocturno : Baik.
Facute : Ich garing banget sik. ;-(
Nocturno : Hee
Facute : Masih marah yak?
Nocturno : Nggak kok.
Facute : Uno yang caem, aku minta maaf yak... ^^ jangan marah lagi key
Nocturno : Kita ketemuan, Fa.
Facute : Wadow, kapan?
Nocturno : Terserah.
Facute : enaknya kapan ya? *kedip kedip
Nocturno : Jangan mainin aku terus, Fa.
Facute : Lah, siapa yang mainin?
Nocturno : Kamu.
Facute : Plis Uno sayang, aku nggak mainin kamu.
Nocturno : Kalau gitu kita kopdar, aku siap kalau harus ke Semarang.
Nocturno : Gimana?
Nocturno : Hellooww, Fa
Giffa : Ups, sori dipanggil nyokap ^^
Nocturno : Hmm.
Giffa : Ok deh, kita kopdar.
Nocturno : Kapan?!
Giffa : Minggu depan.
Nocturno : Siap, alamatnya?
Giffa : Aku aja yang ke Jogja.
Nocturno : Bener g bo'ong?
Giffa : Yupz.
Nocturno : Ketemu dimana?
Giffa : Di cafe xxx
Nocturno : Ok, di cafe xxx
Giffa : Tapi kamu harus janji.
Nocturno : Apa?
Giffa : Kamu g boleh menyesal dan g boleh marah.
Nocturno : Aku janji! Aku yakin kamulah yang aku ingin.
Giffa : Semoga.
Giffa : Whooaam, ngantuk.
Nocturno : Ya udah, bobo sana. Miss u soon
Giffa : bye bye.


Satu minggu terlewati.


Di cafe xxx tak terlalu penuh pagi itu, Uno menunggu dengan gelisah kedatangan Giffa, sesekali diliriknya bungkusan untuk diberikan ke Giffa. Semoga dia Senang. Berkali-kali Uno melihat ke arah pintu, dan tak sengaja dia melihat sosok yang amat dikenalnya. Sasty.

"Sasty" Panggilnya.

Merasa namanya dipanggil, dia menoleh ke arah suara. Ada Uno disana. Takut-takut Sasty mendekat.

"Hai, No." Sapa Sasty

"Kamu ngapain disini, duduk gih" Uno mempersilahkan Sasty duduk.

Sasty menarik kursi di seberang meja Uno dan duduk. Ia tak berani menatap Uno sedikit pun.

"Heh, ndut. Mukamu aneh, sakit perut yak?" Uno mencoba mengajak bercanda seperti biasa, tapi Sasti hanya tersenyum simpul.

"Udah lah sas, nggak usah takut gitu. Aku nggak gigit, kok" kata Uno

"Ma..mak..sud kamu?"

"Aku udah tau kok. kamu yang ada di balik ini semua, kamu Giffa kan?" kata uno kemudian.

"No, maafin aku. Darimana kamu tau?" Sasty semakin menundukkan kepalanya. Dia benar benar merasa bersalah.

"Malam itu saat di Angkringan, aku telfon nomor Giffa dan di tas mu Hp itu berbunyi. Kenapa, Sas?" tanya uno

"Aku tau tlah salah No, tapi ini tak seperti yang kamu pikirkan, aku" Sasty tak meneruskan kata-katanya.

"Sudahlah, nih" Uno menyodorkan bungkusan yang tadi dibawanya. takut takut Sasty menerimanya

"Apa ini?" Sasty bertanya sambil membuka bungkusan itu. Ternyata isinya jam tangan yang diidam-idamkan Sasty selama ini

"Kamu suka kan?" tanya Uno.

Sasty berubah sumingrah
"suka banget " Dengan penuh binar sasty langsung memakai jam itu

"Makasih ya, No. Berarti kamu nggak marah kan" kata Sasty kemudian.

"Lain kali nggak boleh begini lagi ya, Fa. Eh Sas. Tanpa kamu jadi orang lain pun aku sayang kamu kok"ujar Uno.

"Makasih ya, No" Sasty lega Uno tak marah padanya karena kebohongan yang dia lakukan selama ini.

"Nggak mau di rubah nih?" Tanya Uno

"Apa?" Sasty tak mengerti

"Dari Sahabat jadi Cinta" Uno menggoda Sasty sambil main mata ke arahnya.

Degan senyum malu-malu Sasty pun mengangguk tanda setuju.
"Hu'uh"

"Ndut hihi"

"Pangeran kodok xixixi"




Happy Ending. Pinisngan

Fiksi Seksi ^^Pangeran Kodok vs si Ndut^^ bag. 2

Giffa. Gadis ayu nan lucu. Anaknya enak diajak candaan, jarang marah, mana pengertian lagi. Nggak pernah bikin bosen suasana selalu ada saja yang dibicarain. 'Kapan aku punya cewek kayak dia ya?' batin Uno.

Suatu siang sebelum istirahat makan, Uno berniat untuk menelfon Giffa sekedar untuk mengingatkan dia makan, tetapi ternyata nomor Giffa sedang sibuk. Dicoba berulang kali tetap nada sibuk yang terdengar.
"sedang telpon sama siapa dia jam segini, yak?" gumam Uno.
Tanpa sepengetahuannya ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak tadi.

"Hayo!" Sasty mengagetkan Uno dari belakang.

"Sialan kamu ndut, bikin kaget saja."

"Jangan banyak melamun di siang bolong, nanti jadi perjaka tua"

"Filsafat dari mana tuh, ngarang banget."

"Dari mak Sasty hiihihii" kekeh Sasty menirukan tawa Mak Lampir dalam film.

"No, laper nih. makan yuk"

"Ogah!" jawab Uno sewot.

"Ya udah, satenya aku makan sendiri nih. kamu ogah, kan?" Sasty memamerkan sebungkus sate dihadapan Uno.

"He he he, laper ah" kontan Uno menyambar sate makanan kegemarannya.

(**)

Malam minggu Uno yang menjemukan. Dia tak melakukan apa-apa malam ini, nggak ngapel karna nggak punya cewek, nggak juga sms an atau chating sama Giffa. Dihatinya ada timbul rasa kangen. Ups jangan-jangan sudah ada rasa lain?
Ingin sekali uno menghubungi Giffa untuk sekedar bertanya kabar, namun belum sempat Uno memegang Hp, benda itu sudah berderik ada telfon masuk. Dari Sasty mengajaknya nongkrong di Angkringan.

Di Angkringan langganan.

"Woy jelek! nglamun mulu" Sasty teriak ditelinga Uno

"Apaan sih, nggak usah tereak-tereak napa" jawab Uno ogah.

"Dih, sensi amat Pangeran Kodok. Lagi PMS, ya?" goda Sasty.

Uno hanya menyunggingkan senyum simpul. Dia sedang tak bersemangat malam ini. Pikirannya sedang melayang-layang di udara. Serta sedang mengevaluasi kedekatannya dengan Giffa.

"Jiah, nggak asyik banget Pangeran Kodok malam ni." kata Sasty

"Apaan sih ndut?" Uno menjawab masih dengan ogah.

"Huh bete, aku mau ke toilet aja." Sasty berujar sambil ngeloyor pergi.

Uno benar-benar penasaran ingin tau aktifitas Giffa malam ini, apakah sedang di rumah atau sedang diapelin. Diputuskannya untuk telfon saja memastikan sedang apa cewek itu.

"tuut tuut tuut." terdengar nada menyambung. Lama Uno menunggu, tak ada jawaban. Dicobanya sekali lagi, tetap tak ada jawaban. Uno merasa ada yang aneh, kok di tas Sasty ada yang berdering ya.? Dipastikannya sekali lagi, Uno memencet nomor Giffa dan bersamaan dengan bunyi di tas Sasty.

Hari demi hari berganti, bulan pun berlalu. Hubungan uno dengan Giffa semakin dekat. Sepertinya benar ada rasa di antara mereka. meskipun Uno belum pernah bertemu muka dengan Giffa, namun dia yakin Giffa cewek yang dicari selama ini. Giffa selalu beralasan nggak ada waktu libur dan jarak yang lumayan jauh sehingga tidak bisa untuk mereka kopi darat. Dan malam ini mereka sedang asyik YM an ria.

Nocturno : Giffaaaa
Facute : Yuhuu
Nocturno : Kamu kangen g ma aku? ;)
Facute : Kagak :-P
Nocturno : Jelek, aku off aja ;-(
Facute : Upz, jangan dong, aku kan masih kangen.
Nocturno : Naa jujur aja napa. G usah pura pura.
Facute : Aku kan memang g bakat bo'ong ;)
Nocturno : Makanya g usah bo'ong terus, g capek apa, gih kapan ngaku.
Facute : Maksudnya? *bingung
Nocturno : Nevermind ;)
Non boleh aku minta sesuatu?
Facute : Apa? bilang aja jangan sungkan.
Nocturno : Kamu mau g jadi cewek ku, aku udah lelah berkelana.
Facute : Upz, nembak nich ceritanye :-P
Nocturno : Gimana, mau g? tawaranku cuma sekali lo.
Facute : Emang kamu suka aku?
Nocturno : Suka.
Facute : Suka karna apa?
Nocturno : Susah dijelasin. Pertanyaanku lom dijawab ;-(
Facute : Emm *sedang mikir
Nocturno : Jangan kelamaan mikir, nanti aku keburu diembat orang :-D
Facute : Yah, sedih dunk ;-(
Nocturno : makanya, jawab aja iya atau g. Aku bener bener sayang kamu non, ingin hub kita ini lebih dari temen.
Facute : Kamu beneran bilangnya nich?
Nocturno : Bener. *muka serius
Facute : Mukamu jelek kalo serius :-D
Nocturno : jawab aja Yes or No.
Facute : Kyaaa Uno serius banget *nahan ketawa
Nocturno : Serius!
Facute : *jlep pakem. Tapi kita kan lom kopdar.
Nocturno : Aku dah yakin ma kamu.
Facute : Kalau aku ternyata jelek gimana?
Nocturno : G peduli.
Facute : Beneeer....
Nocturno : Yupz!
Facute : Asyiik *lompat lompat.
Nocturno : Jawabnnya.
Facute : *garuk kepala bingung
Nocturno : Aku tau kamu cuma mempermainkan aku. ;-(
Facute : Bukan gitu no, tapi
Nocturno : Offline.
Facute : Uno!!
Nocturno : Offline.


Masih bersambung lagiiii :-D

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites