Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 12 Mei 2012

SALAHKAH RASAKU,PUTRA?

Jangan ragukan kemampuan otakku untuk mengingatmu. Hanya tatkala ku tak menghirup aroma udara lagi, semua itu akan terjadi.

*****

Aku sadar, dan cukup tahu diri akan posisiku dihatimu. Hanya sebatas pelarian pengisi kekosongan. Tak mengapa, aku rela menjalaninya. Bukankah cinta sejati adalah cinta dimana kita bisa berucap, "Pergilah, aku turut bahagia untukmu." seraya tersenyum manis?

Memang kau tak pernah memintaku hadir, tapi aku yang datang sendiri. Entah darimana awalnya aku bertemu denganmu. Mungkin di sebuah pameran pothografi, hal yang amat kau sukai.

Kamu yang waktu itu datang sendirian tak sengaja menabrak aku yang ada dibelakangmu. Kejadian klasik memang, dari ketidaksengajaan tercipta perkenalan.

"Zandy Saputra, panggil saja Putra," sebutmu waktu itu. Dibarengi tangan kekarmu mengajakku berjabat.

Kuterima jabatmu dengan tak lupa menyebut namaku, "Venomena Nur Sya'bani."

Itulah awal perkenalan kita. Sudah sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu. Persisnya kapan aku lupa. Sejak saat itu namamu selalu memenuhi otakku, sampai sekarang.

Kamu tak terlalu tinggi, bahkan untuk ukuran laki-laki kamu termasuk pendek. Dengan kulit sawo matang yang terlihat coklat terbakar matahari. Hidungmu mancung sempurna diperkuat dengan wajahmu yang berbentuk persegi. Kesan manis terlihat dari bibirmu yang sensual. Dan yang membuatku luluh adalah, matamu. Mata yang setajam elang jawa, hitam dan terkesan tegas.

Ini salah satu kelemahanku, selalu mudah terkesan dengan orang bermata tajam. Bagiku selaksa hidup di alam tak berpenghuni, bebas dan lepas, jika bersitatap dengan matamu. Mata hitam elangmu.

Mungkin selama ini aku telah salah mengartikan kedekatan kita. Saat itu aku begitu sakit hati ketika kau menceritakan tentang gadismu. Tetangga sebelah rumah yang telah mencuri hatimu akhir-akhir ini. Padahal diantara kita tak ada hubungan apa-apa. Namun dadaku begitu hebat bergemuruh meski kau hanya menyebut namanya.

"Yang kusuka dari dia adalah, dia mau menerimaku apa adanya, Ven." pujimu pada gadismu.

Hatiku panas terbakar cemburu. Apa aku kurang menerimamu? Semua kelakuanmu, ingat, semuanya! Aku tak pernah protes. Meskipun itu terkadang membuatku mengelus dada. Kamu benar-benar menguji kesabaranku habis-habisan. Lantas apa aku mendapatkan predikat itu? Orang yang menerimamu apa adanya? Tidak.

Ok, kenyataan aku tak semanis Via, gadismu yang berlesung pipit itu. Aku mengaku kalah kalau dalam hal ini. Jauh bila dibanding dengan semua wanita-wanitamu. Aku bukanlah apa-apa.

Lantas aku tak mengerti arti kata-katamu, "Bagiku yang terpenting adalah hati. Asal aku merasa nyaman menjalani suatu hubungan, maka aku akan mempertahankan itu."

Tak nyamankah kau bersamaku? Sepertinya tidak. Tapi entahlah, karena disela-sela sms mu terkadang kau bilang, "Mas kangen kamu, Nduk."

@@@

Aku pernah mengatakan padamu, lebih tepatnya sering. Bahwasanya kebahagiaanmu bagiku adalah segalanya. Kau tahu, bagaimana tersiksanya aku saat kau menangis di bahuku? Kala itu kau bilang, Via, gadis manis berlesung pipitmu itu menduakanmu. Hatiku tercabik-cabik ngilu melihatmu. Ingin rasanya aku mencari gadismu yang telah membuatmu seperti ini dan memberi dia pelajaran. Apa kau tak merasa? Aku teramat tersiksa tak bisa melakukannya untukmu. Ditambah lagi saat mendengar kau bilang, "Mas lelah berkomitmen, Nduk."

Please, Mas.
Jangan dulu lelah,
Jangan dulu patah,
Jangan dulu menyerah.

Selalu ada cinta di ujung jalan, menanti untuk ditemukan.

Bagi siapa saja yang tak pernah kehilangan harapan.
Bagi siapa saja yang mencoba untuk bertahan. (soulmate.com)

Well, terlalu naif jika aku berani bilang, "Ada aku disini, Mas. Yang siap menerimamu apa adanya." Bahkan terlalu tak tahu malu. Aku cukup tahu diri mengenai hal ini. Meskipun begitu, aku jamin, akulah orang pertama yang akan terluka saat kau terdiam dengan sakit hatimu.

Jangan diam membisu, aku mohon! Makilah aku, marahilah aku andai itu bisa membuatmu sedikit lega akan beban hidup. Karena aku tak mempunyai cukup kekuatan untuk memberi pelajaran kepada orang yang telah menipumu.

Yang bisa kulakukan hanyalah berdo'a. Satu hal sepele yang selalu kulakukan tanpa kau minta. Aku terus memohon pada yang Kuasa dengan segala ratap dan tangisku. Agar Dia selalu memberimu kebahagiaan. Karena kebahagiaanmu adalah kekuatanku dalam menjalani hidup. Kau harus tahu itu.

@@@

"Vena ada kabar bahagia," katamu suatu hari.

"Apa itu? Diterimakah lamaran pekerjaanmu di Bank kemarin?" tebakku.

"Bukan, tapi ini lebih membahagiakan daripada itu."

Deg! Sejenak jantung berhenti berdetak . Sepertinya aku sudah tahu arah pembicaraanmu kali ini. Hal yang membuatmu bahagia selain impianmu bekerja di sebuah bank.

"Dia menerimaku, Nduk. Dan kita resmi jadian," ucapmu kemudian.

Tiba-tiba saja aku malas menanggapinya, bukan karena aku tak peduli, tapi...

"Dia siapa?" pura-pura kubertanya.

"Masa lupa, itu lho anak baru di bagian pelayanan. Yang namanya hampir mirip dengan namaku," terangmu

Aku tak lupa, hanya saja pura-pura lupa. Sedikit banyak aku tahu lingkungan kerjamu. Bahkan anak baru yang kau maksud juga aku sudah paham.

"Yang mana, sih?" aku masih saja berpura-pura.

"Deni Zulfa saputri," jawabmu menyebut nama.

Dan tebakanku benar. Anak yang berbakat jadi model itu yang menjadi tambatan hatimu kini. Lagi-lagi aku kalah, telak malah. Dia hampir sempurna!

"Congratz, ya. Kapan M2M tanda jadiannya, nih?" kataku. "Siapapun dia aku turut berbahagia untukmu. Semoga kalian langgeng."


Bohong! Yang kukatakan barusan bukan dari hatiku. Taukah kamu? Aku menangis semalaman karenanya. Aku berteriak pada dingin dan gelapnya. Kau tahu apa alasannya? Jangan kau pikir aku menangis karena sedih, justru aku menangis karena bahagia.

Kini kau telah menemukan wanita yang bisa memberimu senyum. Aku bahagia jika kau senang, itu nyata. Meskipun semuanya terlihat seperti kata-kata bualan. Namun Tuhan menyaksikan ketulusanku.
Mungkin semalam aku sedikit tersedu begitu menyadari kalau bukan aku wanita itu. Kenyataan aku bukan siapa-siapamu, hanya seorang yang jadi batumu untuk tersandung dan kau pergi.

Kau harus tahu kalau aku senang jika kau bahagia. Dan aku marah karena dia yang membuatmu bahagia, bukan aku. Egois bukan? lantas kenapa? Ah, sudahlah.

@@@

And than, harapanku semakin tipis. Kau semakin jauh untuk kurengkuh. Dan apa dengan begitu aku pergi darimu? Jawabnya tak mungkin, setidaknya tak bisa. Selalu saja aku ingin kembali, melihatmu tersenyum lagi bersama binar mata elangmu. Duduk di hadapanmu, mendengar semua ceritamu serta keluh kesahmu. Mengikuti segala hal tentangmu meski hanya masalah kecil. Jika kau bersedih, maka akan kugenggam erat tanganmu sebagai wakil dari kata, "Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Ada aku disini untukmu, Mas."

Selalu ingin kupersembahkan yang terbaik bagimu. Sebentar lagi ultahmu tiba, aku tak akan melewatkan moment penting itu. Kalau tidak, aku akan menyesal seumur hidupku.

Surprice kecil kurancang, memang bukan party mewah, hanya sebuah kado. Tentunya dengan kado itu, kuingin kau mengingatku selalu dan mungkin juga berpaling padaku. Licik? Bisa jadi.

Sebuah kamera terbaru untuk kebutuhanmu akan photografy yang sangat kau idamkan. Gadged terbaru itu lumayan susah payah kudapat. Berhari-hari aku memeras otak untuk menghasilkan tulisan bermutu dan dikirim ke media. Hasilnya sungguh diluar dugaan. Tuhan benar-benar memberiku kemudahan dalam hal ini, mungkin Dia tahu, semua ini tulus untukmu.

Pernah dengan begitu kau marah karena aku jadi jarang punya waktu berdua. Entah mengapa hatiku berbunga-bunga. Saat kudengar kau berucap, "Sudah lupa sama aku, ya? mentang-mentang ada orang selain aku yang memanggilmu 'Nduk', sekarang jadi menjauh."

Aku tersenyum? Jelas. Kutangkap ada kecemburuan dalam nada bicaramu, dan aku menyukainya.

"Mana mungkin aku lupa, semua tentangmu telah mendarah daging. Tak mungkin semudah itu aku menjauh," kataku menenangkanmu.

Dan saat waktunya tiba, dimana kau begitu berbinar membuka kado ultah dariku. Dari mulutmu terucap, "Nduk, makasih banyak ya. Mas selalu merepotkanmu."

Sama sekali tak merepotkan. Aku ikhlas melakukannya, apapun itu. Dan yang terjadi kemudian adalah kau mulai menganggapku ada. Yes!

@@@

Tak ada yang membuatku semangat hidup selain dekat denganmu. Bersama kita merajut impian-impian indah, yang tentunya menyangkut masa depan.

Dari sinilah nafsu mulai merajai cinta suciku untukmu. Aku ingin memilikimu seutuhnya, bukan hanya sedikit waktumu. Aku tak mau membagimu dengan yang lain, hanya ada aku dihatimu, harus!

Semakin lama kurasakan, aku kian tenggelam dalam keinginan-keinginan yang membuatku sesak nafas. Termakan cemburu, curiga tak berkesudahan, mulai merasa keharusan kau ada untukku, dan semua yang tak pantas aku tuntut darimu.

Seperti pagi ini, aku merasa jengkel yang kesekian kali. "Kenapa tak balas smsku? Juga tak angkat telfonku?" tanyaku penuh nada amarah.

"Mas sibuk, Nduk. Akhir-akhir ini Mas banyak kerjaan. Maafin Mas, ya," jawabmu memelas.

Aku menangkapnya, sinar kekecewaan dalam mata elangmu. Dan aku menyesalinya. Bukan ini yang kuharap darimu juga bukan segudang perhatianmu. Bukan pula kata-kata sayangmu yang kutunggu. Namun matamu, bila darinya memancarkan binar kebahagiaan, maka itulah yang kumau.

Aku sadar, aku terlalu dalam mengikatmu. Aku begitu terhanyut akan rasa ini. Kini kebimbangan menghiasinya, dan hanya ada dua pilihan. Kau akan menjadi milikku, atau kau akan meninggalkanku. Sehingga sebelum semua itu terjadi, aku harus berani melepasmu.

"Please, Vena. Jangan pergi! Aku tak tahu bagaimana rasanya jika kau tak ada, Nduk," ucapanmu yang membuatku merasa diatas angin.

"Aku tak kemana-mana, kok. Hanya ingin rehat. Kalau mau sering-seringlah main kerumah," pamitku padamu. "Jangan takut, Mas Adi pasti senang bila kau datang, suamiku ga pemarah kok." lanjutku.

Kau hanya terdiam dengan gurat mata yang tak dapat kuartikan.

"Dan juga, Gladys nanyain tuh. Katanya, Kok om Putra ga pernah main ke rumah lagi, Bunda? Sepertinya dia merindukan kamu." kataku.



Selesai.

Memory Jeet Veno_Mena Ayu.
Taiwan in Sofa kedamaian, 27112011. oleh Rahayoe Wulansari pada 27 November 2011 pukul 0:05

KOIBITOKU

Hari kepulanganku hampir tiba. Sebentar lagi aku akan mudik meninggalkan pengapnya ibukota. Istirahat sebentar dari rutinitas yang padat yang terkadang terasa membosankan dan membuat penat.

Aku bekerja pada sebuah Weeding Organizer milik seorang artis kawakan di Jakarta. Beberapa bulan ini, team WO kami begitu sibuk mengurusi persiapan pernikahan beberapa insan ternama. Dan setelah semua selesai, aku mendapat hak cuti beberapa minggu. Aku ingin pulang ke kota asalku, Magelang, kotanya Borobudur.

Kerinduanku terasa sudah sampai di ubun-ubun terhadap rumahku. Aku begitu tak sabar ingin cepat sampai di perumahan tempat tinggalku. Selain keluarga yang begitu kucinta, ada juga seorang yang ingin sekali kumelihatnya. Dia orang yang selama ini merajai hatiku. Dia adalah tetanggaku, sudah kuanggap seperti kakakku, sahabatku, pelindungku, dan aku berharap dia yang nantinya akan menjadi... Ah, tidak. Mas Aji itu sudah beristri.

Pagi-pagi buta aku sudah sampai di Perum PUJT Wates, Magelang. Kelelahanku akibat berkendaraan menguap seketika melihat raut muka bahagia keluargaku. Mereka mengaku terkejut melihat kepulanganku. Memang aku sengaja tidak memberi kabar, biar jadi surprise.

"Bu, gudeg Taman Bada'an masih jualan ndak, tho? Aku pingin sarapan gudeg," kataku pada Ibuku pagi itu.

"Yo masih lah, Nduk. Kalau kamu pingin sarapan gudeg, biar nanti Ibu suruh Angger adikmu pergi membeli." jawab ibuku.

"Ndak usah, Bu. Biar aku beli sendiri saja sekalian jalan-jalan." Aku menolak tawaran Ibu.

"Kamu ndak capek?"

"Ndak kok , Bu."

Gimana aku bisa capek? Seingatku kalau tidak berubah, jam-jam segini Mas Aji pasti sedang olahraga jogging di area Taman Bada'an. Dan setelah itu dia pasti mampir ke warung gudeg untuk membeli sarapan. Kalau beruntung aku bisa bertemu Mas Aji disana. Aku sudah kangen sekali pada Mas ku itu.

Kupercepat langkahku di trotoar jalan, warung gudeg tujuanku sudah nampak. Kulangkahkan kakiku lebar-lebar agar cepat sampai. Dan Dewi fortuna sepertinya berpihak padaku, karena ternyata benar, aku bertemu Mas Aji di sana. Namun yang membuatku agak sedikit kecewa Mas Aji sedang bersama-sama Mbak Eni, istriya.

Aku pura-pura tak melihat Mas Aji yang berdiri di depanku. Sedang Mbak Eni berdiri tak jauh dari suaminya. Dengan cueknya aku memesan nasi gudeg untuk dibungkus dibawa pulang. Mas Aji menoleh kebelakang begitu mendengar teriakanku yang lantang. Air mukanya nampak terkejut tak percaya melihat aku yang berdiri dibelakangnya.

"Lina, kapan pulang cah ayu? Walah, kok tambah manis saja dirimu," sapa Mas Aji yang membuatku tersipu.

Aku bisa merasakan pipiku meremang karena panas. Degup jantungku tak beraturan lagi begitu mendengar suara orang yang selama ini kurindu.

"Baru tadi pagi, Mas," jawabku tersipu. Dalam hatiku berharap semoga mukaku tak bertambah merona karna senyum itu. Senyum khas Mas Aji yang selalu memukauku.

"Dik, ini Lina, masih ingat tidak?" Mas Aji memberitahu istrinya yang sedari tadi berdiri diam disisinya.

"Lina putrane Pak Heri?" Mbak Eni bertanya pada suaminya. "Lha kok tambah cantik saja, kapan pulang, cah ayu?" lanjutnya bertanya padaku.

"Tadi pagi, Mbak. Ini langsung kemari, kangen pingin makan gudheg. Mbak Eni gimana kabar?"

"Alhamdulillah sehat, tambah cantik saja, jadi pangling aku. Tak kiro tadi cewek mana gitu," goda Mbak Eni. Dia berkata seraya membetulkan letak jilbabnya.

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Dari dulu Mbak Eni ga berubah. Tetap lemah lembut dan bersahaja. Itu salah satu alasan mengapa aku begitu segan padanya. Dia benar-benar menggambarkan muslimah sejati, yang membuat aku rela melepaskan Mas Aji dan merestui hubungan mereka. Ups stop! Apa-apaan aku ini? Mas Aji kan bukan siapa-siapa aku.

@@@

Aku memang menyukai Mas Aji dari dulu. Sepertinya aku mengidap Electracomplex, karena pantasnya Mas Aji itu menjadi ayahku. Eh, jangan ayah, terlalu tua. Mas Aji itu lebih pantas jadi Om ku karena umur kita terpaut lumayan jauh, kurang lebih sekitar 15 tahun. Namun bukankah cinta tidak kenal siapa dan tak pandang usia? Itu sebabnya aku tetap saja menyayangi sosok tetanggaku itu. Meskipun kenyataannya sekarang dia telah beristri, rasa cintaku tak berkurang sedikitpun. Oke, sekarang aku ganti bukan cinta, melainkan kagum mungkin lebih tepat.

Dari mana mulaya rasa ini tumbuh juga aku tak tahu, yang kuingat Mas Aji di mataku adalah sosok pelindung yang kudamba. Rumah kami hanya berjarak dua blok saja. Dulu, setiap sore selalu kami habiskan bermain badminton berdua di lapangan komplek. Terkadang bersepeda keliling alun-alun. Jikalau pagi, jogging bersama di Taman Bada'an. Atau kalu tidak, hanya sekedar bercanda di Studio foto milik Mas Aji. Dan masih banyak lagi kegiatan yang selalu kami lewati bersama.

Dari kebersamaan itulah muncul rasa yang tak seharusnya, yang semakin tumbuh subur hari demi hari, bahkan sampai sekarang.

Aku ingat saat aku masih ABG, kala itu Mas Aji yang membuka usaha jasa photografy dan video shooting mengajarkan padaku cara-cara menjadi editor foto yang handal. Membuat foto yang mulanya biasa saja jadi terlihat sempurna. Itu awal mula aku jadi menyukai photografy, karena Mas Aji bergerak di bidang yang sama.

"Kamu itu fotogenik, Lin. Dalam pose apapun kamu terlihat ayu kalau diabadikan dalam kamera," kata Mas Aji kepadaku.

Aku yang waktu itu sedang naksir berat dengannya seolah-olah merasa terbang melayang dipuji seperti itu.

"Jadi kalau aslinya ga ayu ya, Mas?" tanyaku pura-pura lugu. Aku ingin tahu pendapat Mas Aji tentangku.

"Yo ayu, banget malah. Beruntung lelaki yang jadi pacarmu nanti," jawabnya. "Lina udah punya cowok belum hayo?"

"Aku belum punya koibito,Mas. Takut nanti dukani Ibu."

"Apa itu koibito?"

"Bahasa jepang, Mas. Artinya sweat heart."

"Ealah, ada-ada saja kamu, Lin."

"Aku berharap Mas Aji yang jadi koibitoku."

"Hahaha, dasar anak sekarang. Paling bisa nggodain orang tua."

Mas Aji berlalu sambil mengacak rambutku dengan sayang. Hmm, aku serius Mas. Bagiku kaulah koibitoku, dan akan kubuktikan aku menyayangimu tidak main-main.

@@@

Cinta terkadang tak ada logika tak masuk dinalar tapi nyata adanya. Aku jatuh sakit hampir satu bulan lamanya ketika kuketahui Mas Aji sudah mengkhitbah teman masa SMA nya. Mbak Eni, wanita kalem berjilbab itu yang dipilih Mas Aji menjadi pendamping hidupnya.

Hancur hatiku saat itu, bahkan aku sempat pingsan saat Mas Aji begitu bersemangat menceritakan rencana pernikahannya. Tetap kujaga agar tak ada satupun yang tahu tentang rasaku ini, bahkan Mas Aji sekalipun. Biarlah cinta ini hanya milikku sendiri dan akan kubawa sampai kumati.

Keluar masuk rumah sakit menjadi langgananku waktu itu, kenyataanya dokter paling hebat sekalipun tak mengetahui persis penyakitku. Hingga suatu hari keajaiban datang padaku, Mas Aji dan Mbak Eni menjengukku di rumah sakit.

"Gimana perasaanmu sekarang, Lin. Mana yang sakit?" tanya Mas Aji kepadaku.

Aku tak menjawab pertanyaannya, yang ada aku malah menangis. Yang sakit hatiku, Mas. Dan semua ini karena kau! Terlihat begitu berani tapi kata-kata itu tak pernah terwujud, hanya tersekat di tenggorokan.

Giliran berikutnya Mbak Eni yang mendekati ranjangku.
"Lina yang sabar, ya. Tuhan kasih ujian ke umatnya itu karena Tuhan sayang hambanya," ucap Mbak Eni. Tangannya mengelus lembut pipiku.

Demi Tuhan aku ingin marah kepadanya, ingin memaki dia. Kau yang merebut koibitoku! Dan saat aku melihat wajahnya yang teduh, senyumnya yang lembut mendadak hatiku berubah. Aku tak mungkin membencinya, dia tidak bersalah. Kemudian yang ada aku tersenyum kepadanya seraya berujar. "Terimakasih banyak ya, Mbak Eni."

Akhirnya aku mau berdamai dengan keadaan. Sedikit demi sedikit aku bangkit dan kemudian sembuh dari sakit.

Namun meskipun begitu, aku masih tetap mencintai Mas Aji sampai kapanpun, tak akan berubah.

@@@

Aku berencana main kerumah Mas Aji hari ini, sepertinya kalau tak membawa sesuatu rasanya canggung. Maka aku memasak sayur yang kutahu kesukaan Mas Aji. Sayur tahu dicampur dengan daun kucai. Begitu sayur matang, aku mengantarkannya sendiri ke rumah Mas Aji.

"Assalamualaikum," Aku mengucap salam di depan pintu rumah koibitoku.

"Wa'alaikumsalam, " jawab seseorang dari dalam rumah. Dari suaranya pastilah Mbak Eni.

Tak berapa lama Mbak Eni membuka pintu, dia tersenyum manis saat mengetahui aku yang datang.

"Lina, sini masuk," katanya seraya membuka pintu lebih lebar.

Aku masuk dan langsung menyodorkan rantang berisi sayur kepada Mbak Eni. "Aku disuruh Ibu memberikan ini," kataku berbohong. Tak mungkin aku bilang kalau itu aku yang memasaknya.

"Wah jadi repot segala, makasih, ya," ucap Mbak Eni seraya menerima rantang pemberianku.

"Kok sepi Mas Aji kemana, Mbak?" aku berbasa-basi menanyakan keberadaan pujaanku.

"Di studio, Lin. Biasa sibuk dengan dunianya. Kamu cari saja ke studio. Aku tinggal ke dalam dulu ya," ujar Mbak Eni.

Aku hanya mengangguk meng-iya-kan perkataan Mbak Eni. Lantas aku pun pergi ke ruangan sebelah tempat di mana Mas Aji berada. Studio yang dulunya digubah dari garasi. Aku bisa betah berada di dalamnya ber jam-jam. Membantu meng-edit foto atau sekedar menonton Mas Aji sibuk dengan pekerjaan rutinnya.

Aku masuk ke ruangan yang lumayan luas itu. Dan kudapati Mas Aji sedang tertidur di kursi dekat meja komputer. Aku lihat komputer itu masih menyala melakukan proses capture. Suatu proses pemindahan rekaman vidio ke komputer untuk kemudian di edit. Kebiasaan Mas Aji dari dulu tak pernah berubah, apabila sedang proses capture pasti ditinggal istirahat. Karena proses ini memang memakan waktu yang lumayan lama. Kemudian proses selanjutnya adalah burning atau pembakaran. Pematangan vidio yang sudah diedit untuk dipindah ke kaset CD.

Aku suka saat Mas Aji tertidur seperti sekarang. Aku jadi bebas mengamati wajahnya dengan seksama. Wajah itu kini telah dihiasi sediki kerut-kerut usia. Aku merasa koibitoku terlihat amat kelelahan.

Ingin sekali aku menyentuh lembut wajahnya, hidungnya, matanya yang sedang terpejam, alisnya yang tebal, dan turun ke bibirnya.

Disaat jemariku menyusuri bibir Mas Aji, aku merasakan ada yang menyentuh lembut tanganku. Dan tak beberapa lama mata itu terbuka. Mas Aji memandangku dan berkata, "Lina..."

Aku membalas tatapan Mas Aji, dari mataku sepertinya keluar kata-kata, "Mas, aku kangen kamu."

Dan Mas Aji pun menjawab, "Aku juga kangen, Lina. Semakin dewasa kamu semakin cantik."

Aku tersenyum manis sekali. Senyum paling istimewa yang kupunya kupersembahkan untuk orang yang istimewa pula. Mataku terpejam menikmati sensasi ini, dimana kemudian Mas Aji menyentuh pipiku dengan lembut, menepuknya dengan sayang, pelan, pelan, dan lama-lama agak keras, hingga akhirnya aku terpaksa membuka mata karenanya. Kemudian aku tersentak kaget.

"Lin, kenapa kamu melamun disini, tho?" tanya Mbak Eni.

Mukaku langsung memerah menahan malu.



Tamat.

Taiwan in Sofa kedamaian,
28112011.
Jeet Veno_Mena Ayu.

TENTANG MAAF


Bus kota yang aku tumpangi semakin lama makin pengap kurasa. Siang ini benar-benar terasa panas. Asap rokok dan bermacam-macam bebauan bercampur menjadi satu aroma, khas bus kota. Entah mengapa aku memilih kendaraan umum satu ini, yang terpikir olehku hanyalah cepat sampai di kost itu saja. Sang kernet masih saja menaikkan penumpang meski di dalam bus sudah terisi penuh. Dia tak berpikir bahwa kita manusia, bukan kardus bekas yang bisa saja dijejalkan dalam satu tempat. Lelaki yang berdiri di sebelahku mencak-mencak kepada sang kernet.

"Hei bung! Kami manusia, bukan barang! Di dalam sini sudah penuh, masih saja kau menaikan penumpang!" teriaknya.

Aku usap peluhku yang mulai menganak sungai di wajahku. Sudah tak tahu lagi bagaimana bentuk wajahku kali ini, tak kuasa aku membayangkannya. Pastilah mengerikan. Sang kernet tak memperdulikan bentakan lelaki tadi. Dia masih terus saja menawarkan kepada setiap orang yang berdiri di pinggir jalan tentang trayek yang dituju busnya.

Di halte berikutnya beberapa pengamen jalanan menaiki bus kota yang aku tumpangi. Dua bocah tanggung itu nampak semangat melihat bus yang terisi penuh. Di wajah mereka tersirat harapan, semoga dapat banyak kali ini. Tak lama kemudian, dengan ke-PDan yang luar biasa, mereka siap memulai performance. Salah satu dari mereke menenteng gitar kecil yang senarnya dari karet. Sedang lainnya membawa bekas botol air mineral yang diisi beras, alat musik untuk pengiring lagu sumbang yang mereka bawakan.

"Selamat siang para penumpang. Izinkanlah kami bernyanyi sebuah lagu untuk menghibur para penumpang sekalian di siang hari ini," uluk salam yang diucapkan salah satu diantara mereka.

Aku mengamati keduanya sejenak. Kulit mereka yang legam terbakar matahari mengisyaratkan akan kelelahan hidup yang dijalani. Kumasukkan tanganku ke dalam kantung celana jeansku untuk mencari uang logam. Niatnya akan kuberikan kepada pengamen jalanan tersebut jika mereka telah selesai bernyanyi nanti. Dalam hal satu ini aku tak pernah perhitungan. Entah yang ngamen kreatif atau tidak aku selalu memberi 'tips' sama rata. Bagiku, dua atau tiga keping uang logam yang seringnya tak terpakai mungkin akan lebih berharga bagi mereka. Terlepas dari enak atau tidaknya suara mereka. Juga entah uang itu nantinya untuk makan atau yang lain, aku tak peduli. Yang ada di pikiranku hanyalah beramal, tidak lebih.

Satu lagu dari grup band Dewa sukses mereka nyanyikan. Untuk ukuran suara aku memberinya nilai 6, alias lumayan. Dari pada kebanyakan pengamen yang lain, yang terkadang tak memperhatikan kualitas suara mereka. Tiba-tiba, bocah tanggung yang sedari tadi bertugas memetik gitar angkat bicara.

"Untuk menambah hiburan bagi penumpang semuanya. Izinkanlah saya membacakan sebuah puisi, semoga menambah nyaman para penumpang sekalian," serunya.

Dalam hatiku heran, kreatif juga mereka. Selain menyanyi juga berpuisi untuk mengamen, hhmmm.

Bocah tanggung itu mulai berdeklamasi.

"Alam tak pernah berangan...
Mereka hanya berbakti dan setia..
Bakti angin adalah bertiup.
Bakti sungai adalah mengalir.
Bakti sua matahari pada bumi adalah bersinar....
Sementara baktiku?
Menjaga dan melindungimu layaknya bintang-bintang yang menjaga dan melindungi rembulan di malam-malam yang pekat.
Mungkin aku tergolong naif,
namun kelak kau akan percaya.
Bahwa setiap darah yang tertetes adalah pengorbanan.
Dan setiap pengorbanan yang tercecer adalah cinta..."

Deg!
Tuhan, aku mengenal puisi ini. Aku merasakan deja vu begitu mendengar kalimat tiap baitnya. Pikiranku melayang pada sosok seorang...

Tapi tak mungkin dia ada di sini. Bagaimana mungkin puisi itu bisa sampai ke pengamen ini? Aku ingat betul dulu Satya, ya dia pernah membacakan puisi ini untukku. Waktu itu Satya berniat memberikan surprise untuk nembak aku. Satya, seseorang yang dulu pernah mengisi hatiku. Waktu aku masih menetap di kota lamaku, Jogjakarta.

Dan sekarang, aku kembali mendengar puisi ini dari orang lain, seorang pengamen jalanan. Suatu hal yang mustahil bisa terjadi. Bocah tanggung ini ada hubungan apa dengan Satya? Karena aku yakin sekali, ini puisi Satya, asli karyanya bukan jiplakan atau saduran. Seperti yang Satya bilang waktu itu, "Puisi ini terinspirasi olehmu, Rena." kata-kata yang membuatku tersipu.

Tak mungkin Satya ada di kota ini. Penyiar radio yang suka sekali menulis puisi itu tak bisa pergi jauh dari Jogjakarta. Aku tahu pasti itu. Baginya, kota gudeg sudah menancap di kehidupannya. Meskipun dia tak dilahirkan di sana, namun Satya tak mungkin bisa hidup jauh-jauh dari Jogjakarta. Ah, tapi kemungkinan bisa saja terjadi, 'kan? Toh hidup sudah ada yang mengatur. Tapi di mana Satya sekarang? Dan tiba-tiba saja aku tergerak ingin mengetahui lebih lagi.

Pengamen jalanan itu mengelilingi bus kota yang penuh sesak dengan mengacungkan kaleng bekas minuman untuk tempat uang tips. Begitu dia sampai di depanku, aku memasukkan uang logam yang sedari tadi sudah ku genggam. Niat hati ingin bertanya tentang puisi yang dibacakan temannya, namun aku urungkan. Mendadak aku merasa ragu. Mungkin saja ini semua cuma kebetulan.

"Terimakasih, atas waktu yang diberikan bapak supir dan mas kernet. Terimakasih juga untuk semua penumpang yang ada di bus ini. Maafkan kami jika ada salah dalam pengucapan dan khilaf dalam bertindak. Kami do'akan semoga penumpang semuanya sampai pada tujuan masing-masing dengan selamat dan berkumpul dengan keluarga yang dicintai." Kata terakhir yang mereka ucapkan sebagai penutup performance mereka siang ini, sebelum akhirnya turun dari bus untuk mencari rezeki di tempat lain.

Dan mereka pun berlalu.

Tidak, aku tak boleh diam saja! Aku yakin bocah tanggung itu ada hubungannya dengan Satya.

"Depan stop, Bang!" teriakku seketika.

Aku harus mencaritahu, setidaknya menanyakan darimana mereka mendapatkan puisi itu. Puisi yang ditulis Satya untukku.


@@@

"Hei, Dek. Tunggu!" teriakku.

Dua bocah tanggung tadi berhenti dan menoleh. Menatap dengan ragu padaku yang berjalan cepat-cepat mendekati mereka.

"Tunggu sebentar, aku mau tanya," ulangku.

Mereka bertatapan. Ekspresi wajahnya bingung. Takut.

Aku mengatur nafas. Padahal jalan yg kutempuh tak terlalu jauh untuk mengejar mereka, namun dadaku kembang kempis memompa udara. Seperti baru lari marathon saja.

"Boleh aku tahu, kalian dapat puisi tadi dari mana?" tembakku.

Bocah tanggung yang membawa bekas botol air mineral terlihat lega. Dan yang membawa gitar kecil tersenyum. Di wajahnya seperti berucap syukur.

"Oo... itu saya diajari berpuisi oleh kak Reno," jawabnya lugu.

Reno? Bukan Satya?

Kecewa muncul mengisi sanubariku. Ternyata benar, aku salah orang. Puisi itu mungkin cuma mirip, atau aku yang terlalu terbawa deja-vu akan puisi itu? Kemungkinan ini bisa saja terjadi, 'kan? Banyak sekali hal seperti ini berlaku.

Ah, sudahlah. Aku belum beruntung.

"Mbak kenal Kak Reno?" Bocah tanggung tadi mengagetkanku.

"Eh, tidak. Aku tak mengenalnya. Hanya saja puisi yang kamu baca tadi mengingatkan aku pada temanku,"

Mereka kembali berpandangan.

"Kalau boleh tahu, siapa Reno?"

Bocah tanggung pembawa bekas botol air mineral hanya terdiam, sedangkan bocah tanggung pembawa gitar berseri ramah.

"Kak Reno adalah guru saya," lugasnya.

Guru? Satya tak mungkin jadi Guru. Dia bukan type penyabar seperti pahlawan tanpa tanda jasa. Meskipun kenyataan tak sedikit pula para pendidik yang tak sabaran.

"Dari Kak Reno pula saya belajar membaca puisi. Dan yang saya baca tadi adalah salah satu karyanya."

Plagiat!

Mendadak aku marah. Aku teramat yakin itu karya Satya. Murni hasil pemikirannya. Lantas bagaimana bisa si Reno ini mengklaim puisi tadi hasil karyanya? Aku jadi penasaran terhadap Reno. Andai bertemu dengannya, akan kumintai pertanggung jawaban karena telah mengakui hasil karya orang lain sebagai miliknya. Pembajakan karya!

"Di mana aku bisa bertemu dengan Reno, gurumu, Dek?"

Huh! Dan aku terlalu tak rela menyebut dia sebagai guru.

"Di Alun-alun, Mbak. Setiap Minggu sore jam 4. Kak Reno pasti datang mengajar kami para anak jalanan."

Oke, mulia juga Reno ini.

"Kamu tahu, Reno berasal darimana?"

Kalau ternyata satu kota dengan Satya, ada kemungkinan dia mengenalnya.

Bocah tanggung tadi menggeleng.

"Sudah lama Reno mengajar anak jalanan?" kejarku. Penasaran.

"Sudah, Mbak. Saya sudah tiga bulan ini setiap Minggu sore diajari Kak Reno. Menulis, menggambar, dan berpuisi."

Satya tak bisa menggambar.

"Hari Minggu jam 4 sore. Dan apa kamu juga ada di sana nantinya?"

Bocah tanggung pembawa gitar mengangguk.

Aku tersenyum. "Baiklah, terima kasih."

Mereka pun lega lantas berlalu dariku. Berlari-lari kecil mengejar bus kota yang baru saja melintas untuk kemudian dengan cekatan menaikinya mencari rejeki.

Baru kusadari, penjiplak itu namanya mirip denganku, Rena!

@@@

Aku duduk termenung di teras rumah kost ku. Semenjak hari itu, pikiranku kembali teringat pada sosok Satya. Runer Up Duta Wisata kota kelahiranku, Jogjakarta. Aneh saja sebenarnya. Dalam diri Satya tak mengalir darah kota sultan ini, namun dia berhasil meyakinkan dewan juri bahwa dia layak dan sangat mengenal seluk beluk kota Jogja sehingga mampu mempromosikan keindahan wisatanya. Meskipun kenyataannya, Satya harus berpuas diri di posisi ke dua saja, tapi menurutku itu merupakan prestasi yang membanggakan. Mengingat dia bukan warga pribumi. Aksa Satya Wicaksana, penyiar radio berkepribadian romantis tambatan hatiku. Dulu.

Satya dan Reno. Berlomba-lomba mengisi kepalaku. Merangsang rasa ingin tahuku. Besok adalah Minggu ke-2 setelah aku mendengar puisi itu. Minggu kemarin aku urungkan niatku pergi ke Alun-alun. Selain karena gerimis, ternyata keraguan mendadak muncul di hatiku. Untuk apa aku repot-repot pergi ke sana? Toh Satya hanya masa laluku? Tetapi kali ini lain. Ingin kupastikan keberadaan puisi itu kenapa bisa ada di tangan Reno.

Semoga besok tidak ada halangan.

Tit tit tit tit.

Sms masuk di hp ku. Saat kubuka benda elektronik itu, menunjukkan Tobey mengirim pesan padaku.

"Sore Nona cantik. Adakah waktu untuk kita nobar, besok?"

Besok? Aku mau ke Alun-alun.

"Maaf, Bey. Aku besok ada lembur."

Sent.

Tit tit tit tit. Balasan datang.

"Oke, deh Nonaku. Mungkin bisa Minggu depan. Jangan terlalu diforsir kerjanya, ya. Inget makan! Love U."

Aku rela berbohong pada Tobey? Ini hal ganjil. Apalagi hanya untuk seorang Satya, eh bukan, tapi Reno. Mengapa bisa sekuat ini kekuatan puisi itu?

"Oke. Thanks, Bey."

Sent.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, tak ada gunanya juga aku ke Alun-alun. Andai Reno tak ada hubungannya dengan Satya, pastilah aku menyesal harus mengesampingkan Tobey. Bukankah aku sudah menjadikan Satya bagian dari masa laluku? Dan ternyata kekuatan yang ditimbulkan hatiku lebih dominan mendorongku untuk tahu tentang puisi itu, atau tentang Satya?

Aku menyukainya. Satya berkulit hitam manis. Dia teramat pintar membuat wanita tak berdaya dengan kata-kata puitisnya, termasuk aku kala itu.

"Meski kau bukan yang pertama, tapi aku mohon pada Tuhan, Dia takdirkan kamu menjadi yang terakhir di hidupku," rayunya. Bertepatan dengan malam pergantian tahun.

Di lantai paling atas, di studio radio tempat kami bekerja. Ditemani berpuluh-puluh lilin yang telah dinyalakan membentuk gambar hati.

Mataku ditutup sehelai kain dan aku dibimbingnya menuju ke atas. Mendapatkan surprise kecil dini hari. Satya mengucapkan itu. Sesuatu yang aku harapkan sejak lama.

Meskipun aku cuma penyiar lepas di radio ini, tapi intensitas pertemuanku dengan Satya teramat sering. Atasan kami menyukai kekompakan kita dikala membawakan suatu program radio. Selanjutnya aku selalu dipasangkan dengan Satya. Mungkin itu merupakan faktor sehingga aku jadi mudah tergoda pada kata-kata indah. Hampir setiap hari Satya membacakanku puisi, membuat pipiku selalu merona menahan.

Layaknya pagi itu, di Tahun baru.

"Rena, I Love You," ucapnya sesaat setelah dia membacakan puisi yang sama seperti yang kudengar dua minggu lalu. Kemudian Satya mengecup lembut keningku.

Aku tertunduk malu karenanya. Lantas mengangguk, mengiyakan bahwa aku juga merasakan hal yang sama seperti Satya.

"I Love You too"

Tahun baru terindahku. dan tak akan terlupakan. Sekarang pun aku belum lupa saat-saat itu. Beserta rasa sakit setelahnya. Meskipun sudah berulang kali Satya mengucapkan maaf, tapi hatiku sudah terlanjur tak terima pengakuan Satya yang kudengar.

"Tak mungkin aku mau dengannya, lah. Rena bukan levelku. Dia terlalu standar. Terlalu mudah didapat." akunya di hadapan teman-temannya bermain musik.

Jelas sekali terdengar di telingaku.

Mulai saat itu kuanggap hubunganku telah berakhir. Kesadaran diriku memaksa untuk aku berlapang dada menerima kenyataan. Bahwasanya gadis serba pas-pas an seperti aku tak layak jika harus berdampingan dengan calon model seperti Satya.

Terkadang egoku memuncak ketika ingat, aku berhubungan dengan Satya tak sebentar. Hampir setahun kita menjalin hubungan yang biasa orang-orang menyebutnya percintaan. Sampai-sampai Ayah dan Bundaku begitu yakin aku dan Satya akan lebih Serius. Tetapi yang ada mereka kubuat terkejut dengan berita berakhirnya hubunganku dengan Satya.

Setelah itu kuputuskan menjauh dari semuanya. Pindah ke kota metropolitan untuk memulai kehidupanku yang baru. Tanpa Satya dan cinta indahku padanya.

Satya menahan kepergianku. Namun kutegaskan sekali lagi.

"Lo, Gue, End!"

@@@

Dia masih sama. Tinggi tegap dengan warna kulit hitam manis. Yang berbeda hanyalah rambutnya. Kini rambut yang dulu selalu dipangkas rapi, dibiarkan tergerai begitu saja menyentuh pundaknya. Gondrong. Dan satu lagi, dia terlihat semakin tirus dengan kacamata minus di wajahnya. Sejak kapan Satya berkacamata?

Alun-alun kota ini tak begitu ramai. Langit sore memampakkan wajah tak bersahabatnya untuk sekedar membiarkan manusia jalan-jalan. Aku yakin orang-orang lebih memilih diam di rumah menonton televisi daripada mengambil resiko keluyuran lantas akhirnya basah kuyup kehujanan. Sepertinya itu semua tak berlaku untuk anak jalanan yang ada di Alun-alun ini. Mereka tak mempedulikan langit yang sebentar lagi menangis. Bocah-bocah kurang beruntung itu tetap antusias mengerjakan apa yang guru mereka suruh.

Jaket lusuh, celana jeans robek pas di lutut, sepatu kets berwarna debu. Melekat sempurna di tubuh kurus itu. Satya tak lagi metroseksual seperti dulu.

Dia menoleh padaku yang mengamatinya dari samping kanan.

"Rena," panggilnya.

Aku bergeming. Masih tetap tak percaya yang ada di depanku adalah Satya.

"Itu Mbak yang aku ceritakan kemarin, Kak," teriak salah satu bocah . Pengamen itu.

Satya menatapku.

"Sudah lama aku mencarimu, Ren."

"Untuk apa?"

"Aku ingin minta maaf,"

Disaksikan bocah-bocah gelandangan muridnya, Satya menceritakan perjalanannya mencariku. Beserta pilihan hidupnya untuk menjadi pengajar sukarela anak-anak terlantar. Jauh dari cita-citanya dulu menjadi seorang model profesional.

"Kenapa Reno?" tanyaku.

"Karena kamu, Rena."

Aku terdiam. Dia menciptakan kembali debar di hatiku. Lewat mata hitam pekatnya. Menghanyutkan ke dunia yang aku suka. Imajinasiku tentang masa depan kita kembali menari.

"Bolehkah aku kembali, Rena?"

Aku membisu.

"Bukalah pintu maafmu untuk gerimisku. Agar kudapat menjadi air matamu."

"Cukup, Satya!"

"Menitikkan kasih di hatimu. Menghapus goresan-goresan pedih di dinding hati."

"Sudahlah, Satya. Semuanya telah berlalu," kuucapkan dengan senyum termanisku.

"Menggantinya dengan garis-garis pelangi senja."

Hening.

"Siapa dia, Rena?"

Mungkin awal wanita jatuh cinta adalah dari fisik, namun hanya yang nyaman di hati yang mampu bertahan.

"Maafkan aku, Satya."

Dia mengangguk pelan, lantas berujar lirih, "Aku terlambat."

"Aku tak akan melupakanmu."

Aku berdiri menjauh darinya, masa laluku. Kuraih handphoneku dan memencet nomor yang telah kuhafal.

"Bey, tiba-tiba aku malas lembur. Nobarnya masih berlaku ga?"


Tamat.
by
Rahayoe Wulansari

JANJI UNTUK ASTIKA

"Bunda, Gladis kangen."

Tak sengaja kudengar rintihan putriku. Gadis kecil berumur 7 tahun itu sedang terpaku menatap foto Bundanya, Istriku.

"Andi jahat sama Gladis, Bunda. Andi bilang, katanya Gladis ga punya Bunda lagi. Karena Ayah mau cari Mama baru. Gladis ga mau Mama baru, Gladis mau Bunda!"

Begitu lirih isakan dari putri kecilku hingga membuat hatiku tersayat kala mendengarnya. Ingin ku masuk dan memeluk anakku tapi aku tak kuasa. Yang kulakukan hanyalah berdiri mematung di balik tembok dengan gigi geraham yang saling mengadu. Buah hatiku itu tak tahu apa-apa, namun harus merasakan akibatnya.

Ah, ini semua karena ego!

Tanganku mengepal dan kutinju tembok di hadapanku. Bagaimana aku bisa bertahan dan terus diam saja melihat buah hatiku menangis?

"Pulanglah, Astika!"

Lalu teringat kembali pertengkaran malam itu.

"Aku ingin kau berubah!" jerit Astika masih sama seperti yang sudah-sudah.

"Aku sudah berusaha sekuat tenaga! Ini semua ga mudah, tahu!"

"Semua tergantung niatmu, Mas. Mau sampai kapan kau begini?"

Aku mendengus kesal. Lama-lama cerewet juga istriku. Banyak tuntutan.

"Kau sekarang terlalu banyak menuntut. Lihatlah, siapa dirimu? Ga usah sok alim!"

Astika mulai menangis.

"Huh! Nangis lagi. Muak aku!"

"Salahkah aku menginginkanmu berubah, Mas? Berhentilah minum alkohol, itu tak baik untuk kesehatan. Malu mas sama tetangga!"

Jiah, sejak kapan Astika peduli akan kesehatan? Seperti kader posyandu saja. Dan juga dia bilang apa? Tetangga?

"Halah peduli amat sama tetangga! Toh aku beli umben pakai uangku sendiri. Aku juga minum di rumahku sendiri. Yang penting aku tak mengganggu mereka, kenapa musti mikir omongan mereka?" kilahku.

Astika semakin terisak.

"Heh, sudahlah! Sumpek aku melihatmu bisanya cuma menangis saja. Bikin tak betah di rumah!" bentakku.

Sukses cari alasan untuk cepat berlalu. Malas terus berdebat dengan Astika, bikin puyeng!

Dan kukira semua berlalu seperti yang sudah-sudah. Astika akan baik lagi padaku, menganggap hal ini tak terjadi. Namun aku salah, ketika kusadari Astika tak kutemukan di rumah paginya begitu aku pulang.

"Kalau kamu mau merubah semua kelakuan burukmu, aku pun akan pulang. Tapi kalau tidak, jangan harap aku mau kembali ke rumah. Silahkan saja bertahan dengan egomu, kuyakin kau akan menyesal!" ancamnya lewat telfon kala itu.

Aku tersinggung? Jelas! Aku kepala rumah tangga. Tak seharusnya seorang istri mengatur untuk begini begitu. Uang belanja lancar itu sudah cukup. Dan ini sampai berani angkat kaki dari rumah, Istri macam apa dia?

Menyesal? Heh, jangan harap! Aku hanya kasihan pada putriku, setiap hari menangis menatap foto Bundanya. Padahal di depanku gadis kecilku itu tak berkata apa-apa. Sepandai itukah anakku menyimpan kepedihannya? Atau karena aku yang terlalu tak punya waktu untuk putriku satu-satunya?

"Astika, pulanglah! Kumohon!"


@@@


"Sms dari siapa, Say?" tanya Ine. Gadis hitam manis yang kini tengah dekat denganku, atau lebih tepatnya aku pacari.

"Dari Mbak Wiwin," jawabku acuh.

Tanpa kusangka, Ine merebut handphone yang aku pegang lantas secepat kilat dia mengetik balasan sms untuk Mbak Wiwin.

"Aku ga suka kau terlu dekat dengan janda genit itu!" runtuknya.

Aku tersentak. Sejak kapan dia berhak mengatur aku boleh dekat dengan siapa saja? Dia bukan istriku, kita hanya dekat karena mau sama mau.

"Hey, apa hak mu melarangku? Astika yang sah istriku saja ga pernah protes!"

Benar! Bahkan meskipun Astika tahu aku dekat dengan Mbak Wiwin lebih dari sekedar teman. Pun begitu dia tak pernah marah, juga tak berani mengecek handphoneku.

"Karena istrimu itu bodoh! Mau-maunya diinjak-injak!"

"Jaga mulutmu!"

"Kenyataan, 'kan?"

Tidak! Astika tidak bodoh. Dia hanya menjaga perasaanku. Aku tahu dia teramat tersakiti akan semua perilakuku. Namun dia hanya diam saja. Menyimpan semua sakit akibat perbuatanku di dalam hati. Aku tahu pasti itu, karena terkadang di tengah malam kumendengar isak tangisnya dalam sujud panjang. Dan terselip diantaranya do'a tulus untukku, Suaminya.


"Pilih aku atau janda genit itu!" ucap Ine kemudian.

"Loh? Kenapa jadi begini? Bukankah kita memang tak ada apa-apa? Untuk apa aku harus memilih?"

Ine mendelik marah ke arahku. Matanya yang bundar itu seperti mau keluar.

"Maksudmu?"

"Terserah aku mau sama siapa saja, tho?"

Ine mendengus kesal.

"Lantas kau anggap apa aku selama ini? Peneman tidurmu saja saat istrimu minggat dari rumah?" makinya penuh murka.

Aku tak pernah memaksa dia mau tidur denganku. Kenapa sekarang menuntut untuk dipilih? Memangnya dia siapa?

"Dapat untung apa jika aku memilih, hah?"

Ine mendesis.

"Kau benar-benar lelaki egois! Aku tak habis pikir, pakai ilmu pelet apa sehingga istrimu itu bisa betah hidup serumah selama bertahun-tahun dengan lelaki macam kau!"

"Lancang bicaramu! Aku tak pernah memakai ilmu pelet!" Aku terpancing emosi juga.

Berani-beraninya Ine mengatakan aku mengguna-gunai Istriku. Aku dan Astika itu saling mencintai, sehingga kita bisa melewati semua bahtera rumah tangga sampai bertahun-tahun

Mendadak ragu muncul di hatiku, apakah benar begitu? Kenyataan sekarang Astika pergi dariku. Mungkinkah dia sudah tak cinta lagi padaku?

Gusti, baru aku menyadari ternyata hanya Astika yang bisa mengerti aku. Dengan semua perilaku burukku. Tanpa banyak protes, tanpa segudang tuntutan. Dia hanya menginginkan aku menjadi orang baik-baik dengan cara taubat dari sifat jahiliyah. Apa itu salah, Tuhan? Namun ego mengajarkan aku untuk menyakitinya lagi.

"Astika, maafkan aku."


@@@


Hari ini perasaanku benar-benar tak enak. Ada orang tak dikenal berjalan mondar mandir di depan rumah. Dilihat dari pawakannya, ada kemungkinan dia polisi, atau bisa jadi reserse. Matanya tak pernah lepas dari rumahku. Aku terus mengamatinya dengan perasaan was-was. Mau apa dia terus-terusan mengintai rumahku? Sesekali nampak dia menelfon dengan telepon genggamnya entah menghubungi siapa dan bicara apa. Sudah barang tentu aku tak bisa jelas mendengarnya.

Keringat dingin membasahi wajah dan leherku. Jantungku begitu cepat berpacu. Bagaimana tidak? Semalam aku mendapat kabar dari Junot tentang penggrebekan bandar narkoba wanita yang selama ini dicari.

"Kamu jadi DPO, Hen," ucap Junot padaku lewat telfon.

Begitu mendengarnya aku langsung lemas seketika.

"Kenapa aku? Aku tak ikut mengedarkannya, cuma make aja. Pun itu bareng-bareng lo juga kan, Not?"

"Iya, tapi Wiwin tak tahan gertakan polisi. Dia bilang kamu yang terdekat dengannya."

Shit! Janda itu semakin menyusahkanku saja. Dulu dia yang merayuku memakai barang haram itu. Aku begitu susah lepas darinya. Dia melilitku seperti ular. Dan sekarang? Setelah dia ketangkap polisi pun bisa ularnya masih kurasakan. Aku jadi kena getahnya.

Masih kuingat jelas nasehat Astika tentang Mbak Wiwin waktu itu. Saat aku curhat bahwa antara aku dan Mbak Wiwin cuma sekedar teman bisnis. Padahal aku yakin Astika tahu hubunganku lebih dari yang kuceritakan. Namun Astika menyembunyikan kesakitan hatinya di balik senyum hangatnya untukku.

"Mas, kalaupun kau memang berniat baik dengan menjalani bisnis bersama dengan Mbak Wiwin, aku yakin Tuhan melancarkan jalanmu. Jangan takut karena Mbak Wiwin itu janda dan seperti yang kau bilang suka menggoda. Asal niatmu baik, pasti dimudahkan Tuhan."

Astika, kau begitu pintar menjaga hatiku.

"Aku percaya padamu, imamku." kata-kata Astika yang membuat bibirku kelu.

Beginikah imam yang kau ikuti, Astika? Pantaskah aku kau hormati? Sebagai kepala keluarga, aku tak pernah mau peduli cukup atau tidaknya nafkah yang kuberi untukmu. Meski begitu kau pun tak pernah mengeluh kekurangan.

Aku tahu kau menginkan aku sembuh dari sifat burukku. Minum alkohol, mabuk narkoba, bermain perempuan, judi dan semua perbuatan maksiatku. Hanya itu yang kau tuntut dariku, Astika. Dan itu semua juga demi kebaikanku. Entah mengapa aku tak bisa, atau tak mau menuruti satu permintaanmu. Hanya satu, Astika. Lantas sekarang, belum terlambatkah jika aku kembali ke jalan-Nya?

Oh, Tuhan! Masihkah Engkau mau mendengar rintihanku? Terlalu banyak dosa yang kuperbuat. Dan apa kata mereka jika seorang Hendra bertaubat? Pastilah nyinyir.

Seketika kuingat ucap Astika, "Hidup di dunia itu hanya sementara. Yang hakiki justru hidup setelah mati. Di sana nanti tak ada yang bisa menolong kecuali perbuatan baik diri sendiri."

"Astika, aku membutuhkanmu. Kembalilah!"


@@@


Aku harus berubah. Semua ini kulakukan untuk kebaikanku. Jikalau terus menerus aku bertindak tak bermoral, mungkin nasibku tak akan jauh seperti Mbak Wiwin, naas di penjara. Aku tak mau itu terjadi. Terlebih lagi aku tak mau kehilangan Astika lebih lama. Cukup dengan tak tahu kabar keberadaannya sampai sekarang pun sudah membuat aku hampir mati lemas. Jujur kuakui, ternyata aku mencintainya dan juga membutuhkannya. Tak ada orang yang mau menerimaku selapang dada Astika. Tidak Ine, Wiwin, teman-temanku bahkan keluarga besarku. Mereka hanya pura-pura mau mendukungku meski aku tahu tak ada yang tulus seperti Astika. Hanya istriku itu yang tanpa pamrih melakukannya untukku.

"Astika, aku pasti berubah. Demi kebaikan kita bersama terutama kebaikanku. Aku tak akan menyakitimu lebih lagi. Kembalilah, Astika! Akan kupastikan aku bisa menjadi imam yang kau harapkan."

Akan kutinggalkan maksiat yang melumuri hidupku selama ini. Tak perduli cemo'oh teman-temanku saat aku menolak ajakan mereka.

"Hahaha, bener mau tobat lu, Hen? Ga nyesel, lu?" cela Junot ketika aku absen dari pesta miras di rumahnya.

Kenapa aku harus menyesal? Semua kebaikan juga aku sendiri yang merasakan, bukan mereka, bukan orang lain. Toh andai aku celaka pun orang lain tak akan ada yang peduli. Malah yang ada hanya tersenyum mengejek seraya berseru, "Rasakan akibatnya. Itulah ganjaran yang harus diterima manusia bejat seperti Hendra!"

Manusia bisanya cuma mencibir dengan mulut nyinyir. Tobatkupun tak jauh dari gunjingan miring yang ketika mendengar membuat hatiku semakin ciut. "Hendra tobat itu takut digebreg sama polisi dan bernasib mengenaskan seperti gundiknya, Wiwin. Nanti kalau polisi sudah tenang tak menjadikan Hendra DPO lagi, dia juga akan balik seperti semula. Tak mungkin dia sungguh-sungguh berbah. Itu hanya pura-pura saja!"

Biarlah orang mau bilang apa. Yang ada dan yang kuyakini dalam hati adalah, aku harus tobat. Aku tak mau terus menerus terpuruk dalam jurang syaiton. Akan kubuktikan pada mereka bahwa Hendra bisa menjadi manusia berakhlaq.

Ini hanya sedikit halanganku untuk maju. Aku percaya Tuhan Maha Kuasa. Pastilah nanti aku diberi kemudahan dalam setiap jalan jika aku tetap berpegang tegung terhadap-Nya. Tuhan tak pernah tidur.

Ucapan sinis Ine pun akan selalu kujadikan semangat. "Kamu mau insyaf, Say? Semoga betah, ya! Aku yakin dalam waktu beberapa hari lagi kau akan mencariku. Lelaki macam kau mana betah hidup kesepian?"

Tidak! Aku tak mungkin kesepian. Ada Allah yang siap mendengar keluh kesahku, bahkan Dia lebih kekal dari siapapun. Dan lagi, aku akan menanti Astika kembali ke pelukanku. Karena hanya dia yang tak pernah merendahkanku meski aku manusia rendah. Walaupun Astika tak melihat kalau aku sudah berubah, tapi aku yakin hatinya merasakan semua ini. Cinta lah yang menbuat ikatan batin antara kita begitu kuat.

"Astika, akan kupastikan kau tak menemukanku yang dulu. Hendra yang lalu telah mati, berganti dengan Hendra yang siap menjadi imammu dan akan menuntunmu ke jalan yang diridhoi Allah seperti harapanmu. Meski termat susah aku akan bisa dan berusaha sekuat tenaga. Janjiku Astika, kan kubawa engkau menuju kebahagiaan yang kau impikan."

Kebahagiaan pasti akan bisa kurengkuh meskipun tanpa barang-barang yang selama ini memberiku kenikmatan semu. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya bagiku adalah tatkala aku melihat orang-orang yang aku sayangi bahagia karena perubahanku.


Tamat.
By
Rahayoe Wulansari

IBU ADA DIHATIKU

Bagi kebanyakan orang mungkin begitu mudah menggambarkan sosok seorang Ibu. Menceritakan kehangatan kasihnya, menuliskan betapa cintanya tak pernah berakhir, serta melukiskan pengorbanan seorang ibu yang tak terukur. Tapi tidak begitu denganku. Aku tak pernah bisa menceritakan kasih ibu, entah hanya menggunakan kata tak bermakna atau kalimat indah para pujangga.

Bukan berarti aku tak mencintai ibuku, namun karena aku tak tahu bagaimana kata yang tepat untuk mengisahkan tentang ibuku. Bagiku, seorang ibu lebih indah dari kata para pujangga. Ibuku adalah hatiku.

Semenjak kecil, aku tak pernah melihat wujud ibuku. Beliau wafat sesaat setelah berjuang melahirkanku ke dunia. Aku tak pernah mengenal suara ibuku, bagaimana lembut kasihnya, hangat peluknya, cinta tak bersyaratnya. Yang kurasa ibuku ada dalam hatiku, itu saja.

Terkadang aku iri melihat mereka menceritakan tentang sosok ibu. Pernah juga sakit hati karena aku tak bisa merayakan hari ibu. Mempersembahkan kejutan kecil lantas dengan sayang mencium pipi ibu sembari berucap, "Selamat hari ibu."

Yang bisa kulakukan hanya berdo'a, semoga ibuku diterima di sisi-Nya.

Ayah pernah membawaku ke pusara ibu. Aku begitu terkejut kala melihat keadaan tempat peristirahatan terakhir orang yang telah berkorban untukku. Beginikah rumah ibuku? Hanya sebuah gundukan tanah penuh rumput dan daun-daun kering tanpa nisan tanpa bunga-bunga. Sebagai penanda kalau itu makam hanyalah sepotong patok kayu yang hampir habis dimakan rayap. Tak ada nama tertera di sana, tahun meninggal atau apapun seperti layaknya pusara lainnya. Betapa gersangnya peristirahatan terakhir ibuku? Oh, Tuhan! Ini sangat memprihatinkan.

Semenjak hari itu aku selalu terbayang-bayang akan keadaan rumah ibuku. Aku berjanji dan bertekad dalam hati akan mencari uang untuk mempercantiknya. Karena meski aku tak mengenal sosok ibu, tak pernah bercengkrama dengan beliau, tapi ibuku adalah hatiku.

Singkat cerita aku bekerja sebagai Buruh Migran Indonesia di Taiwan. Setiap bulan gaji yang kudapatkan aku tabung dan kukirim ke keluarga di Indonesia. Saat itu aku berpesan pada keluargaku, "Tolong, sebelum uang ini digunakan untuk yang lain, aku minta satu persyaratan. Bangunlah pusara ibuku."

Hingga pada suatu malam perasaanku teramat gundah. Ah, mungkin keluarga di Indonesia rindu kepadaku. Tetapi rasa tak tentram ini terus menerus terjadi bahkan sampai tengah malam. Perasaan tak enak di hati terus bergelayut sampai-sampai aku susah memejamkan mata. Tak terasa menjelang dini hari aku terlelap dan bermimpi.

Dalam mimpiku itu aku merasa didatangi seorang wanita berambut panjang dengan memakai gaun warna biru. Beliau membawa payung kecil lantas tersenyum ke arahku. Aku merasa tak mengenalnya dan terheran dengan perilaku wanita itu. Dia berjalan pelan mendekatiku, mengusap keningku dengan lembut dan berujar, "Kamu sekarang kurus sekali, Nak?"

Aku hanya terdiam tanpa kata. Tak pernah lepas pandanganku dari wanita itu. Dia benar-benar aneh, namun lebih anehnya lagi aku merasa bahagia karenanya. Tanpa sadar aku pun menitikkan air mata. Tangan wanita itu terjulur mengusap butir bening di pipiku lantas menarikku dalam pelukannya. Dengan lembut dia berbisik di telingaku, "Terima kasih ya, Sayang!"

Aku terbangun.

Siapa wanita itu? Kenapa dia berterimakasih padaku? Dan juga aku begitu merasa nyaman berada di pelukannya. Aku benar-benar penasaran dan tanpa pikir panjang saat itu juga aku menelfon keluargaku di Indonesia serta menceritakan perihal mimpiku itu.

Subhanallah, aku benar-benar terkejut dan spontan menangis tersedu. Ternyata di Indonesia baru saja selesai diadakan selamatan pembangunan pusara ibuku. Setelahnya kuketahui bahwa wanita yang datang di dalam mimpiku itu adalah ibuku. Kerena tak lama kemudian Ayah mengirim MMS foto ibuku. Meski kurang jelas, aku yakin wanita dalam foto itu adalah orang yang sama dengan sosok yang mendatangiku dalam mimpi.

"Ya, Allah. Terimalah ibuku di sisi-Mu. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu, dan jauhkanlah ia dari api neraka-Mu," do'aku malam itu.

Sekarang, tak perlu lagi aku iri atau bahkan sakit hati karena tak bisa seperti mereka yang masih memiliki ibu. Bagiku, meski tak pernah bertemu, tak pernah bercengkrama, namun ibu ada di hatiku.

Tamat.
By
Rahayoe Wulansari



Biodata :
Rahayoe Wulansari adalah Buruh Migran Indonesia di Taiwan. Wanita kelahiran kota kecil di kaki gunung sindoro ini teramat mengidolakan Andrea Hirata. Tepat di tanggal 30 bulan Maret 26 tahun silam, dia mulai merasakan indahnya dunia. Menulis adalah salah satu hal yang sangat disukai selain membaca dan mendengarkan musik. Meskipun pekerjaannya sekarang teramatlah menyita waktu, namun ia tetap menyempatkan menulis, karena menulis baginya sudah seperti kebutuhan. Penyuka warna hijau tersebut mempunyai motto hidup yang simple yaitu, 'Hidup hanya sekali, namun jika dijalani dengan baik, sekali hidup pun cukup'.
Email : venoluv@gmail.com
Facebook : @Rahayoe Wulansari

Mawar Hati

Seharusnya Nenek ada di sini. Di samping jendela ruang tamu, memandang lepas ke langit jingga yang mempersembahkan senja. Dia selalu saja begitu, teduh memandang cakrawala dengan senyum tua yang tetap menawan. Tak lupa dari bibir keriputnya terkadang lirih terdengar senandung lagu mocopat * dandang gula* atau asmaradhana*.

Namun tidak dengan sanding kala* kali ini. Nenek tak lagi berlaku lembut seperti biasanya. Bersenandung lagu jawa pas menjelang maghrib dengan ditemani secangkir kopi pekat dan cerutu klembak menyan*. Sore ini Nenek duduk manis di depan televisi menyaksikan dengan khidmat drama korea yang sedang booming akhir-akhir ini. Wanita yang melahirkan ibuku itu menatap takjub tak berkedip ke layar kaca berukuran 21 inchi di ruang keluarga. Bahkan kopi pekat yang telah kupindahkan ke sampingnya pun tak disentuh sama sekali. Ini suatu hal ganjil mengingat Nenek tak pernah bosan akan kebiasaannya menikmati senja. Langit sore berwarna jingga dihiasi awan seputih kafan.

"Nek, kopinya diunjuk*," tegurku.

Tak kusangka beliau meminta suatu hal yang di luar kebiasaannya. "Tolong buatkan aku teh tubruk* dengan dua sendok teh gula."

Kusebut tak masuk akal. Dari dulu nenek selalu menolak jika kubuatkan teh. Beliau lebih suka kopi pekat dengan gula aren* peneman cerutu klembak menyan nya.

"Tumben, Nek," komentarku.

Nenek menyunggingkan sebaris senyum di bibir tuanya dan mata merona berbinar. Kupikir Nenek sedang bernostalgia dengan secangkir teh tubruk di masa lalu. Kudengar dari cerita ibu, kakek gemar sekali ngunjuk teh di pagi hari.

Tanpa banyak kata lagi, kupergi ke dapur memenuhi permintaan nenekku. Keheranan yang sempat menyeruak kutepis begitu saja. Mungkin Nenek ingin hal berbeda kali ini, batinku.

"Ini teh nya, Nek." ujarku seraya menaruh cangkir di samping Nenek.

"Itu namanya siapa, Nduk*?" tanya beliau kemudian. Tangan keriputnya menunjuk seorang aktor drama korea yang sedang tayang di televisi.

"Kirana kurang tahu, Nek. Jujur saja Kirana ga suka drama korea," ulasku.

Nenekku hanya mengangguk maklum. Meskipun ada sedikit kekecewaan dalam anggukannya, namun bibirnya tetap terlukis senyum mengembang dengan mata penuh sorot terpesona.

"Mirip," lirihnya.

Mirip? Dengan kakek kah?

"Mirip siapa, Nek?" Aku mengajukan pertanyaan tetapi hanya dijawab dengan senyuman tertahan oleh nenekku.

Aku hanya bisa menggeleng perlahan melihat ulah nenekku kali ini. Akankah beliau sedang mengenang seseorang? Atau hanya ingin mencari suasana baru saja? Aku tak tahu.


****


Delapan puluh lima tahun yang lalu beliau ada di dunia ini, Ibu dari ibuku. Tumbuh sebagai kembang desa yang cantik, cerdas dan cekatan. Tak ayal para jejaka banyak sekali yang menaruh hati pada nenekku, begitulah sedikit kisah di masa silam yang pernah kudengar. Pantas saja, meski sudah 3/4 abad lebih umur beliau, namun sisa-sisa kecantikan itu masih terpencar di wajahnya. Bentuk serta warna kulitnya yang terlihat terawat sempurna meski sekarang telah dihiasi kerut, adalah suatu bukti bahwa nenek dulu rajin merawatnya.

Banyak cinta yang menanti untuk dibalas sang dewi pujaan, ternyata kesederhanaan kakek lah yang memenangkan hati si kembang desa. Nenek pernah bertutur, tak pernah sekalipun kakek merayu untuk mendapatkan cinta nenek dahulu. Tak seperti pemuda lain yang mengobral janji setiap hari, kakek hanya berani memandang nenek dari jauh dan akan berlari sembunyi jika nenek menyadarinya.

Kesetiaan terpegang teguh sampai maut memisahkan. Nenek dan kakek seperti contoh mimi lan mintuno* buatku. Mereka tetap seiya sekata menyusuri bahtera rumah tangga hingga nyawa terlepas dari raga, saling mendukung dan saling membantu. Meskipun kakek telah lama tiada, nenek masih saja setia dengan kebiasaan yang telah mereka lakukan berpuluh-puluh tahun yang lalu. Pergi ke ladang merawat beberapa tanaman palawija, makan bersama di bawah pohon pisang sambil melepas lelah, dan ketika senja hampir tercipta berdua menyusuri pematang pulang ke peraduan sambil menikmati eloknya langit jingga.

Padahal sudah sering sekali Ibu menegur nenek, "Jangan terlalu lelah di ladang, Nenek itu sudah sepuh,* sudah saatnya istirahat."

Namun tak pernah diindahkan oleh nenek. Beliau tetap saja pergi ke ladang. Meskipun di sana nenek hanya duduk menyaksikan pemandangan burung-burung terbang dan hijaunya alam. Tak seperti dahulu ketika kakek masih hidup, mereka berdua mencangkul atau sekedar menyiangi tanaman.

"Nenek bisa merasakan kehadirannya di sini, menumpahkan rindu yang selama ini terpendam tanpa harus tahu kenyataan Kakek telah berkalang tanah," begitu jawaban nenekku saat aku menanyakan alasan mengapa ia sangat suka menghabiskan waktu di ladang.

Aku memakluminya, karena sejatinya wanita tak mudah berpindah ke lain hati seperti mudahnya membalikkan telapak tangan. Butuh waktu yang lama untuk bisa menyingkirkan posisi belahan jiwa dari hati.

Bahkan hari ini, ada setangkai mawar terjuntai di dalam vas bunga mungil di samping ranjang nenek. Aku berpikir, mungkin kakek dulu diam-diam menyukai bunga mawar, sehingga nenek berlaku begitu sekarang.

"Wah, cantik sekali bunganya, Nek?" Iseng aku bertanya.

Beliau hanya senyum dikulum, "Dia suka memberiku bunga mawar jika kita bertemu."

"Hhmm, romantis juga ya, Nek?"

"Lelaki pemberani,"

Salut aku akan keberanian kakek yang membuat nenekku mengenangnya sampai sedalam sekarang. Pastilah sangat berkesan.


****


Ada kemungkinan aku terlalu paranoid akan perilaku nenek. Di lain sisi aku bisa memaklumi jikalau dia sedang bernostalgia, namun di sisi lain aku teringat istilah jawa nganeh-anehi yaitu berlaku aneh sebagai pertanda akan meninggal dunia. Perilaku nenek sungguh di luar kebiasaan.

Layaknya pagi ini, beliau memakai kebaya kuning gading, dengan kain jarik* terbaiknya serta sedang berpatut di depan cermin berhias diri. Hanya senyum kekhawatiran yang bisa kulukis, "Jangan-jangan nenek akan..."

Apa lagi ketika tak sengaja kutangkap percakapan ibu dan nenek di kamar.

"Cantik sekali mau kemana, Nek? Bajunya juga bagus, kok aku belum pernah melihatnya?" goda ibuku.

Nenek terus saja merapikan sanggul di rambut ubannya. Meskipun sudah teramat sulit melakukannya karena rambut yang nenek miliki sudah tak sebanyak dahulu, beliau tetap berusaha membuat sanggul itu jadi sempurna.

"Hhm, bunga mawarnya juga harum. Aku tak pernah tahu kalau Kakek pencinta bunga mawar, Nek?" tanya ibuku lagi.

"Dia lelaki yang baik, selalu penuh kejutan," ujar nenekku.

Ibu berlalu dari kamar nenek untuk melanjutkan pekerjaan. Tetapi tidak denganku, ini sudah terlalu tak biasa. Firasatku ada yang lain dari nenek kali ini, semoga saja ketakutanku tak terjadi. Kenyataan yang baru saja kudengar, bukan kakek pecinta mawar itu.

"Nenek mau kemana?" tanya yang kuajukan ketika kulihat nenek telah selesai berdandan dan bergegas akan pergi.

"Mau ke ladang, Nduk," ucapnya sambil lalu.

"Ke ladang pakai baju bagus begitu?" Tegurku lagi.

Nenekku terdiam dan tetap berlalu pergi. Sebenarnya aku ingin mengikutinya untuk memastikan nenek tak melakukan hal yang rawan, namun kuurungkan niatku ketika kusadari nenek benar-benar pergi ke ladang. Karena hanya ada satu jalan ke tanah pekarangan belakang rumah yang biasa digunakan nenek untuk berkebun.

Meskipun umur nenek sudah hampir penuh se abad, tetapi ingatan beliau tak ada yang terganggu, tak seperti kebanyakan orang tua lain yang menjadi pikun. Oleh karena itu aku yakin sekali nenek tak salah mengambil baju dan tahu betul apa yang dilakukannya.

Semoga nenek baik-baik saja, batinku.

Meskipun hati tetap tak tenang karena senandung yang terucap dari bibir nenek tak lagi asmaradhana namun semacam lagu dangdut jaman dahulu. Terlalu drastis berubah.


****


Pergi ke ladang, cerutu klembak menyan, kopi pahit, bersenandung lagu jawa, sekarang ini tak pernah nenek lakukan. Beliau lebih sering asyik di depan televisi jika drama korea itu tayang. Lantas dengan seksama mengikuti tiap episodenya tanpa terlewat. Setelah selesai, nenek akan pergi ke kamar mematut di depan cermin dengan melontar senyum penuh arti kepada bunga mawar yang setiap hari diganti.

Aku pernah membicarakan kepada ibu tentang keanehan nenek, namun beliau menjawab itu hal yang wajar mengingat usia nenek sudah udzur.

"Sudah jadi hal yang lumrah, Kirana. Orang kalau sudah tua akan kembali lagi seperti anak-anak," begitu kata ibuku.

"Tapi Bu, ini lain. Kirana takut Nenek. ..." sengaja kugantung kalimatku. Aku tak ingin dicap sembrono* karena mengatakan nenek berlaku nganeh-anehi

"Sudahlah, Nduk, lebih baik kamu teruskan saja belajarmu. Maklumi saja tingkah Nenek," kata yang diucapkan ibu untuk mengalihkan perhatianku.

Sungguh aku tak khawatir jika nenek berlaku seperti hari-hari biasa. Andaikan beliau sedang mengingat seseorang di masa lalu pun aku bisa mengerti, melihat kesetiaan yang nenek tunjukkan selama ini. Semua bertambah mengkhawatirkanku ketika suatu hari nenek meminta padaku sebuah gambar sang aktor drama korea yang ada di majalah bawaanku.

"Untuk apa gambar ini, Nek?" ujarku heran. Tetapi tetap saja kuberikan kepadanya gambar itu. Aku takut beliau akan tersinggung.

Setelahnya kutahu gambar aktor drama korea itu ditempel rapi di almari nenek bersanding dengan selembar foto hitam putih. Kuamati dengan seksama, namun di dalamnya tak begitu jelas foto siapa. Aku penasaran. Diam-diam kubawa selembar foto hitam putih itu kehadapan Ayah.

"Apa ini foto kakek, Yah?" langsung saja kuajukan pertanyaan begitu sampai di depan ayah.

Lelaki tulang punggung keluargaku itu mengerutkan dahi, mengamati dengan jelas foto yang kuulurkan.

"Dapat dari mana foto ini, Kirana?"

"Dari almari Nenek," kataku jujur.

"Tak jelas ini foto siapa, tetapi Ayah yakin bukan Kakek."

"Perkiraan Kirana, lelaki ini yang dulu suka memberi Nenek bunga mawar, dan akhir-akhir ini muncul di memori ingatan Nenek. Terlalu aneh karena terkadang Nenek menitikkan air mata."

Ayah mengelus rambutku dengan sayang, "Sudah, jangan terlalu kau risaukan, Kirana. Mungkin itu cuma suatu kebetulan."

Semua orang menganggap kelakuan nenek itu sudah biasa tapi tidak denganku. Aku merasa takut dan agak penasaran tentang hal yang bisa membuat nenek tersedu seraya berucap, "Aku terlambat datang kala itu, dia menyadarinya. Mawar-mawar itu buktinya dan aku takut."

Takut? Kepada siapa?

Sungguh aku tak bisa mengatakan ini hal yang wajar dilakukan oleh orang setua nenek. Terlalu dalam untuk dianggap hal sepele.

****

Tak puas rasanya dengan jawaban yang diberi Ayah dan Ibu. Tentang lelaki bernama Atmo, yang pernah disebut nenek ketika aku menanyakan tentang foto itu.

"Atmo? Paman kurang tahu, Kirana," jawaban yang sama diutarakan pamanku ketika kutanya menyangkut orang di masa lalu nenek.

Aku pikir anak bungsu nenek ini tahu cerita tentang Atmo. Nenek bilang, "Si Kumis dulu Nenek menjulukinya."

"Apa Kakek punya kumis, Paman?"

Adik ibuku itu tertawa. "Kamu ini ada-ada saja, Kirana. Kakekmu tidak pernah memelihara kumis setahu Paman. Apa Atmo itu berkumis?"

Aku mengangguk mantap. "Perkiraanku begitu."

Hanya gelengkan kepala heran ketika kukatakan kepada paman akan firasatku dan segala macam keanehan tingkah nenek. "Percaya saja sama Allah. Jodoh, mati, rejeki itu sudah ada yang mengatur. Mungkin saja Nenek benar-benar bernostalgia," tutur paman.

Lagi-lagi aku harus menelan kecewa karena tak ada yang mengidahkan firasatku, juga karena tak ada yang tahu siapa Atmo itu. Padahal aku yakin ini ada hubungannya dengan mawar-mawar yang kian bertambah jumlahnya.

"Sudahlah, Kirana, jangan berpikir yang bukan-bukan. Selalu berdo'a saja, agar apa yang kamu pikirkan tak terjadi," tegur pamanku.

Ada benarnya juga. Kemungkinan aku yang terlalu berlebihan menyikapi perilaku nenek. Bukan apa-apa, hanya saja aku trauma pada kehilangan, meskipun hal itu pasti akan terjadi.

"Anggap saja Nenek mulai berlaku seperti orang tua lain yang sudah pikun," lanjut pamanku.

Aku mengangguk kecil, "Yah, meskipun seharusnya tak sedrastis ini perubahannya." batinku.

"Iya, Paman. Mungkin Kirana terlalu berlebihan,"kata yang akhirnya kuucap. Walaupun dalam hati masih terus saja was-was.

Ya, Allah. Lindungilah Nenekku.


****


Fajar mulai merekah melahirkan semburat merah di ufuk timur. Sang Raja hari menampakkan diri keluar dari persembunyiannya. Ketika udara masih berbau embun basah, aku menyaksikan nenek seperti terburu-buru ingin pergi. Lengkap dengan sanggul hampir sempurna di rambut ubannya, baju kebaya berenda hitam, serta kain jarik yang telah diwiron* di bagian ujung. Mustahil jika beliau hanya ingin ke ladang.

"Nenek mau kemana? Sekarang masih terlalu pagi untuk ke ladang," cegahku.

Beliau hanya memandangku sekilas, "Nenek mau minta maaf."

Penuturan yang singkat seketika membuatku tersentak.

"Minta maaf sama siapa, Nek? Apa nenek telah berbuat salah?" kejarku. Perasaanku yang sudah agak tenang kemarin kini bergejolak lagi.

"Semoga dia mau memaafkanku." Dan Nenek pun berlalu.

Kali ini aku tak mungkin menganggap ini hal wajar. Dari pancaran bola matanya, beliau nampak serius dengan apa yang diucapkan. Dan tak mungkin pula aku bisa tenang, menganggap nenek bertingkah kekanak-kanakan karena faktor usia.

Tanpa pikir panjang lagi aku mengikuti beliau dari belakang. Siapakah gerangan yang membuat nenekku begitu resah ingin segera minta maaf? Laju langkahnya menuju ke suatu tempat yang sudah ku hafal. Makam keluarga besar kami.

Di tempat yang sunyi dan cukup luas itu, kulihat nenek berjongkok pada pusara tanpa nama. Sedikit menaburkan bunga dan berdo'a dalam hati.

Aku mengamati dari jauh. Sebenarnya makam siapa itu? Bahkan Ayah dan Ibu juga tak mengetahui siapa yang dimakamkan di situ.

Nenek berdiri kemudian setelah mengusap lembut patok tanpa nama penanda makam itu. Dahulu patok itu menjadi bahan pertanyaanku kepada ayah, "Kok patoknya jelek, Yah. Seperti bukan keluarga kita," ucapku lugu.

Aku yang waktu itu masih duduk di bangku sekolah dasar penasaran, mengapa makam ini tak ditaburi bunga seperti yang lain? Bahkan keadaannya juga mengenaskan.

Dan sekarang nenek menyambangi makam itu. Meski hanya sebentar lalu beranjak dan melangkah menuju makam kakek.

Perlahan aku mendekati nenek yang kini sedang menangis di samping makam suaminya. Lirih kudengar beliau bertutur, "Maafkan aku, Kek. Aku mengingatnya lagi. Mawar itu tak bisa gugur dari dalam hati. Tapi aku janji ini yang terakhir, aku tak akan menemuinya lagi."

"Nek?" Panggilku.

Beliau mendongak dan agak sedikit terkejut mendapati aku telah berada di hadapannya.

"Kenapa Kirana ada di sini?"

Aku berjongkok di depan pusara kakek, "Tadi Kirana mengikuti nenek. Kenapa nenek bilang ingin minta maaf? Kepada siapa?"

"Kepada kakekmu," jawab nenek singkat.

"Makam tak bernama itu sebenarnya punya siapa, Nek? Baru kali ini Kirana melihat makam itu ditaburi bunga. Biasanya juga tidak pernah. Apa yang dimakamkan di situ masih keluarga kita, Nek?"

Nenekku terdiam sejenak lantas berujar, "Itu makam Atmo."

Bersama dengan menitiknya butiran bening dari sudut mata nenek, beliau melanjutkan penjelasannya.

"Atmo dan Kakek dulu adalah sahabat baik. Tapi nenek melakukan kesalahan. Mawar-mawar itu saksinya. Tanpa bisa dihindari, telah bersemi di hati nenek cinta terlarang untuk Atmo, Si Kumis."

"Lantas apa Kakek marah?" tanyaku.

"Tidak, Kakek tidak marah. Dia hanya sedikit curiga pada mawar-mawar itu. Hingga ajal menjemput Nenek tak berterus terang padanya. Dan itu membuat Nenek merasa bersalah karena telah mengkhianati cinta suci kami."

Hening tercipta kemudian.

"Maafkan aku, Kek."

Aku berdiri lantas kupeluk nenekku yang bergetar menahan isak. "Nenek, Kirana yakin Kakek sangat mencintai Nenek. Dan Kakek akan memaafkan Nenek bahkan sebelum Nenek minta maaf. Karena Kakek adalah orang tersabar dan terbaik yang pernah Kirana kenal."

Cinta suci itu bukan yang tanpa adanya onak dalam perjalanan menuju sakinah. Tapi justru cinta suci adalah yang bisa saling mengerti dan menggenggam erat jemari pasangan yang melukai diri dengan onak itu baik sengaja ataupun tidak.



Yang bertanda *
-mocopat : lagu bahasa jawa
-dandang gula : salah satu judul mocopat
-asmaradhana : salah satu judul mocopat
-sandhing kala : waktu mendekati maghrib
-klembak menyan : bahan pembuat rokok
-diunjuk : diminum
-teh tubruk : teh yang diseduh bersama daunnya tanpa disaring
-gula aren : gula jawa dari sari pati aren
-nduk : panggilan untuk anak perempuan jawa
-mimi lan mintuno : Hewan laut yang slalu hidup barsama tidak pernah terpisahkan. Dan bila ingin memakannya pun harus keduanya kalau tidak akan beracun. Mimi lan mintuno ini sering digunakan sebagai simbol kesetiaan dan kerukunan dalam budaya Jawa.
-sepuh : tua
-jarik : kain panjang yang digunakan sebagai pengganti rok
-sembrono : kurang ajar
-diwiron : dilipat di bagian ujung untuk memberi kesan manis

TAMAT.
Jeet Veno_Mena Ayu.

Rabu, 30 November 2011

Waroeng-koe: Jangan Tanya Orang Yang Tidak Suka Membaca

Waroeng-koe: Jangan Tanya Orang Yang Tidak Suka Membaca: Kesalahan ini kerap dilakukan calon penulis atau penulis pemula. Bertanya pada orang yang tidak suka membaca soal kebagusan karya mereka? H...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites