Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 14 Mei 2012

Belahan jiwaku



Terlalu rapat. Kau menyiksa dirimu sendiri, mendzolimi hatimu. 

Terkenang ucapan Jeet sahabatku. 

Bukan, aku tak sedang memilih. Namun aku sedang mencari atmosfir yang pas dan nyaman untuk kuhirup. 

"Kurang apa Candra di matamu, Bunga? Dia tajir, cakep, setia, tapi tetap kau bilang tak menarik?" 

"Hatiku tak bergetar kala bersamanya, Jeet," dustaku. 

Candra memang perfect, tapi kesukaannya terhadap bola yang menghantuiku. Aku benci bola, dan aku pun tak ingin pasanganku menyukainya. Egois memang, lantas apa aku salah? 

"Dulu sebelum Candra juga kau mengatakan hal yang sama, belum cocok di hati. Sebenarnya type lelaki yang seperti apa yang kau cari, Bunga?" 

Aku terdiam. 

"Jangan kau bilang yang seperti belahan jiwamu itu. Dia sudah mati." 

Aku membisu. 

"Kau harus melupakannya jika tak ingin terus menerus hatimu terdzolimi." 

Jeet beranjak dan meninggalkanku sendiri. Terpaku bersama kelebat memori satu per satu teringat. Tergambar jelas bagai film yang sedang diputar ulang. 

"Tidak! Dia tidak mati." 

Aku tak terima, belahan jiwaku masih ada, di sini. Sambil kusentuh dada sebelah kiriku. 

***** 

Senyumnya menawan, matanya tajam. Mirip. Dan yang pasti ada getar aneh meski aku cuma mendengar namanya disebut. Dia tak sekaya Candra, tak sebaik Febri, tak seganteng Yudo. Bagiku dia, menarik. 

"Bagaimana? Mungkinkah kali ini kau siap membuka hatimu? Sudah saatnya kau jatuh cinta, Bunga." 

Jeet yang setia, paling semangat mencarikanku pengganti belahan jiwa. 

"Sepertinya," ucapku tersipu. 

"Nah, gitu dong. Dunia ini indah sista, rugi jika kau sia-sia kan." 

Senyumku mengembang indah, manis seperti perkenalanku dengannya. Namanya Zai, adik kelasku dulu waktu SMA. Tak menyangka saja aku bisa respect dengannya. Umurnya lebih muda di bawahku 2 tahun. 

"Jadi, dia bilang mau melamarmu, Bunga?" jerit Jeet riang. 

Dia melompat girang seperti baru saja menang lotre. 

"Kamu harus menyiapkan segalanya dari sekarang. Aku punya kenalan fotografer yang top. Usulku kebayanya nanti warna biru saja, Bunga. Kalau putih sudah kuno. Dan... . " 

"Terlalu buru-buru, Jeet. Ini juga baru rencana. Aku belum...." kugantungkan kalimatku. 

"Belum apa?" kejar Jeet. Matanya sudah mulai melotot diiringi tangannya berkacak pinggang galak. 

"Aku belum mandi, hihihi." kelakarku. 

Aku suka menggodanya. Dia kalau marah tambah cantik. Sahabat dan kakak sekaligus pelindung terbaikku. 

"Huh, pantas saja asem. Sana mandi!" 

Dilemparnya handuk ke mukaku seraya mengacak rambutku dengan sayang. 

"Jangan sampai Zai tahu kebiasaan burukmu yang malas mandi ini. Bisa-bisa nanti dia tak jadi melamarmu. Cewek jorok." 

Aku terkikik geli dan berlari ke kamar mandi. 

Jeet menggelengkan kepala. 


***** 

Harum bawang goreng menyeruak diantara asap dapur. Sentuhan terakhir dari mie rebus buatanku. 

"Aromanya membuatku lapar. Tumben kau masak, Bunga." 

Suara Jeet yang tiba-tiba sudah berada di rumah mengejutkanku. 

"Special kubuat dengan cinta," selorohku. 

Ya, aku ingin memberi sedikit kejutan untuk Zai. Biasanya jam segini dia baru pulang kuliah. Meski cuma semangkuk mi rebus. 

"Jangan lupa segelas rindu dan sepiring kasih dibawakan untuknya, Bunga. Pasti Zai langsung klepek-klepek," teriak Jeet. 

Aku tersipu dan sedikit berlari meninggalkannya sendiri. Dengan debar di dada, kubawa mi rebus penuh cinta untuk sang pujaan hati. 

Kamar kost itu seharusnya sepi, tapi sore ini lumayan rame. Mungkin sedang ada tamu. Tapi.... 

"Permisi, Pak. Selamat sore. Apa Zai ada di dalam?" tanyaku pada orang separuh baya yang kutahu Bapak kost Zai. 

"Kamu teman nak Zai?" 

Aku mengangguk ragu. 

"Dia baru saja dibawa polisi. Zai ditemukan over dosis di kamarnya." 

Semangkuk mi rebus di tanganku terlepas. Isinya berhamburan keluar dan mangkuknya pecah. Berkeping dan tak terbentuk lagi, seperti harapanku kala itu. 

Musnah. 

**** 

"Maafkan aku belahan jiwaku. Belum ada yang menggantikan tempatmu di hatiku." 

Kuusap tubuh kurus itu sekali lagi. Berbagai macam selang menempel hampir di seluruh tubuhnya. Jeet mondar-mandir dengan gusar. 

Aku terisak. 

"Sudahlah, Bunga. Ini bukan salahmu. Semua suratan takdir. Kau tak berhak menyalahkan dirimu sendiri," hibur Jeet padaku. 

"Andi aku mau mendengarnya hari itu, pasti ini semua..." 

Jeet memelukku erat sekali. 

"Tidak Bunga. Itu cuma kebetulan saja." 

Ya. Semuanya serba kebetulan. Kebetulan saja dia sedang menonton bola. Kebetulan saja dia bercanda dengan temannya tentang transaksi taruhan bola yang kubenci. Kebetulan saja aku mendengarnya. Dan apakah juga kebetulan jika aku marah karena keasyikan menonton bola dia jadi lupa janjinya menjemputku? 

"Aku egois, Jeet. Aku tak mau mendengar penjelasannya waktu itu. Aku tak mau memaafkan kesalahannya yang terjadi baru pertama kali. Aku..." 

Bahuku terguncang hebat. 

"Aku pantas menerima semua ini. Di umurku yang sekarang belum juga menemukan tambatan hati." 

"Sudah cukup Bunga. Berhentilah menghakimi dirimu sendiri," teriak Jeet. 

Ditatapnya mataku tajam, kemudian beralih ke tubuh kurus yang tergolek lemah di ranjang. 

"Dengar! Tak kasihankah kau pada Bunga? Dia mengutuki dirinya sendiri karena kau terlalu lama koma dan tak bergerak. Jika kau memang belahan jiwa sahabatku, cepat sadar, bangun dan bahagiakan dia," teriak Jeet. 

Suaranya menggema sampai di koridor rumah sakit. 


Tamat. 


Jeet Veno_Mena Ayu. 
Taiwan, 010512. 
MAYDAY.

Brownise




Pilih selain brownise, kue itu terlalu mudah dibuat. Alasan yang dikemukakan Om Fery padaku siang itu.

"Tapi Om, Rena ingin sekali mahir membuat brownise," rengekku. 

"Brownise itu sudah membumi. Banyak orang yang sudah bisa membuatnya sendiri." 

Om Fery benar-benar menolak mengajariku. Adik laki-laki ibuku itu usaha kue online nya cukup laris. Pastilah hal sepele jika hanya meluangkan waktu sebentar untuk membocorkan sedikit saja rahasia resep kue buatannya. 

"Sudah kau pikirkan kue yang lain, Rena?" tanyanya mengejutkanku. 

"Masih tetap brownise, Om," jawabku takut-takut. 

Om Fery beranjak mengambil setumpuk buku resep di atas rak buku dan mengangsurkan padaku. 

"Baca saja cara membuatnya di sini. Tak perlu aku turun tangan." 

Lantas Om Fery berlalu. 

Aku kesal. Belum pernah kutemui Om Fery seketus ini. Toh apa susahnya hanya mendampingiku membuat brownise? Kalau disuruh baca buku resep tak perlu aku susah-susah datang ke rumah eyang untuk berguru pada Om Fery. 

"Huh! Peliiittt!" 

***** 

"Enak nggak, Eyang?" 

Eyang Putri memejamkan mata, menikmati setiap gigitan kue brownise buatanku penuh penghayatan. Seperti iklan-iklan di tivi. 

"Mantaab," puji Eyangku. Dua jempolnya teracung ke atas menilai eksperimenku. 

Aku tersenyum riang, ternyata tanpa bantuan Om Fery pun aku mampu membuat brownise. 

"Eyang boleh tanya sesuatu?" 

Eyang Putriku mengangguk-angguk. 

"Kenapa Om Fery pelit banget berbagi rahasia resepnya? Kemarin dia menolak mengajariku membuat brownise. Atau jangan-jangan dia nggak bisa membuatnya ya, Eyang?" 

Eyangku menelan kue yang tersisa di mulut dan menjawab, "Begitukah? Jangankan hanya brownise, Ren. Beribu jenis kue, Om kamu paling jago membuatnya." 

"Atau mungkin sedang capek ya Eyang?" 

Wanita berambut hampir putih semua itu menggedikkan bahu. 

"Om kamu jika sudah di dapur mana ada kata capek? Andai ada gempa pun dia tak akan perduli. Kalau sudah berkutat dengan tepung dan kawan-kawannya dia akan lupa diri." 

Aku tersenyum geli. Tapi aneh, mengapa hanya brownise yang mudah pun tak mau dia mengajarkanku? 

**** 

Pokoknya Om Fery harus mencicipi hasil buatanku. Supaya saat aku pulang nanti dan memberi surprice untuk Mama hasilnya tak mengecewakan. 

"Ayo dong Om, dicicipin meski sedikit. Aku ingin komentar Om tentang brownise buatanku." 

Adik laki-laki ibuku itu hanya melirik sekilas tanpa menyentuh atau bahkan memakannya. 

"Kamu harusnya memilih dark chocolate agar warnanya tak pucat seperti ini dan juga kamu mengukusnya menggunakan api sedang, sehingga warna yang dihasilkan bukan karena gosong." 

Aku mengangguk paham, "kalau rasanya, Om?" 

"Membuat brownise bukan hanya rasa dan tampilan yang jadi tujuan utama. Buatlah dengan penuh cinta maka brownise buatanmu akan terasa lembut di lidah dan di hati," 
ulasnya. 

"Aku ingin merasakan brownise buatan Om. Satu kali ini saja Om, please." 

Dia mebisu. 

**** 

Waktuku tak banyak lagi, aku harus bisa memaksa Om Fery membeberkan rahasianya padaku meski hanya sekali. 

Kumasuki kamar Om Fery ketika dia tak ada. Dan aku menangkap keanehan di meja dekat ranjang tidurnya. Kusentuh bingkai foto itu perlahan. 

"Dia yang membuatku tak bergairah lagi menyentuh brownise." Tiba-tiba Om Fery sudah berdiri di belakangku. 

Aku belingsatan sendiri merasa tak enak hati. 

"Maaf, Om. Tapi siapa wanita itu?" 

Om Fery menghempaskan nafas, "Dia cinta yang memberiku warna di brownise ku. Berhari-hari aku berekserimen membuat brownise yang berbeda. Aku ingin memberi 
kejutan di hari ultahnya. Akan tetapi dia membuat usahaku semua sia-sia." 

"Apa dia menyakiti Om?" 

"Tidak, dia tak pernah menyakitiku. Justru sebaliknya dia membuatku bangga." 

Aku bingung, lalu apa alasan yang membuat Om Fery tak mau 
lagi menyentuh brownise? 

"Dia hanya sedikit berlaku curang. Mencuri resep andalanku dan mengklaim ke khayalak ramai jika itu hasil buatannya. Dan kini usaha kue online nya sangat maju." 

Aku mengangguk mahfum. 

Tamat. 
Taiwan, 100512.

Kelereng Merah Nenek




Semangkuk kelereng merah terhidang di meja. 

"Ah, makan ini lagi, Nek?" 

Nenek mengangguk mantap. Dalam hati aku menggerutu bosan. Hampir tiap hari kelereng merah ini mengisi perutku. 

"Kalau tak suka jangan dimakan. Biarkan saja di meja," ujar nenek. 

Aneh. Nenek suka sekali membuatnya. Membentuk bulatan-bulatan kecil dengan telaten. Dari adonan tepung beras ketan diwarnai merah. 

"Apa ga sayang nek? tiap hari membuang makanan. Lantas tujuan dibuat kelereng merah ini untuk apa?" kejarku. 

"Tang yen. Namanya tang yen. Bukan kelereng merah." Nenek menegaskan padaku. 

Aku terkikik geli. Sudah sejak dulu aku tahu nama Tang Yen, tapi untuk menggoda nenek aku selalu menyebutnya kelereng merah. 

"Apa ga capek nek?" 

Nenek menggeleng. Kalau dikerjakan dengan penuh cinta pekerjaan apapun akan terasa ringan katanya. 

"Boleh aku bantu, nek?" tawarku basa-basi. Dalam hatiku sebenarnya malas. 

"Kamu selesaikan saja pekerjaanmu," ucap nenek. 

Lumayan memang, aku tak harus membantu membuat kelereng merah. Namun di hatiku ada rasa penasaran. Ada apa di balik peristiwa nenek dan kelereng merah ini? 

Maka tak hentinya aku bertanya untuk menyelidiki. Asal muasal kelereng merah ini. 

"Penuh memory," kata nenek sembari tersenyum. Manis. 

"Kutebak dulu kakek suka sekali makan tang yen. Sehingga nenek rajin membuatnya." 

Nenek menggeleng. 

"Lantas apa dong?" 

Nenek menghentikan aktivitasnya. Matanya menerawang jauh, tangannya diam memilin-milin kelereng merah. Mukanya mendadak serius. 

"Eh, maaf nek," ucapku takut-takut. 

"Ibu nenek suka sekali tang yen. Tapi tidak dengan nenek." 

Aku jadi merasa tak enak hati. Mata nenek berkaca-kaca. 

"Nenek menyesal karena tak menyukainya." 

"Tiap orang berbeda-beda makanan favoritnya, Nek." kataku. Hanya untuk menenangkan nenek supaya tak bersedih lagi. 

"Tapi ibu nenek sakit." 

Walah, mungkin kebanyakan makan kelereng merah batinku. 

"Dia meminta nenek membuat tang yen. Namun karena aku tak mahir membuatnya kutolak permintaan ibuku. Sampai dia meninggal tak sempat tang yen itu terhidang." 

Dan nenek terisak. 

Spontan aku menutup mulut dan langsung berkata, "hari ini aku mau makan kelereng merah, nek. Yang banyak." 


Tamat. 
Taiwan, 120512.

Sabtu, 12 Mei 2012

DAN KAU ADALAH ARDIET ZIE




"Huh, dia OL lagi! Apa ga pernah tidur itu manusia, ya?" runtukku. 

Ardit Zie, satu nama yang menjadi momok bagiku di dumay. Menghantuiku tiap hari, membuatku merasa malas berseluncur ke dunia maya. Tapi kalau aku ga buka internet, pastinya tak mungkin. Aku punya tanggung jawab pada group kepenulisan online yang kuasuh. Dan tak mungkin aku meninggalkannya begitu saja. Tidak hanya satu group yang aku handle, melainkan tiga. 

Padahal sudah kututup chatbox ku setiap kali aku online, namun sepertinya 'jin Zie'_ begitu aku menyebutnya, mempunyai indra ke enam. Atau bahkan dua kali lipat dari indra manusia biasa, jin Zie punya indra dua belas huuft. Buktinya? Dia tahu kapan aku online dan juga dia tahu apa saja tentangku. Bahkan hal terkecil dariku. Tidak cuma di dumay dia tahu kegiatanku, di dunia nyata pun tak luput dari pengamatannya. 

"Hhmm, Ardit Zie. Siapakah gerangan dirimu?" tanyaku pada profil bergambar anak panah itu. 

Kenyataannya beginilah anak jaman sekarang, nulis nama di Fb selalu alay. Meskipun Ardit Zie bukan nama alay, tapi aku yakin itu bukan nama asli. Karena aku tak tahu sama sekali siapakah sebenarnya jin Zie ini. Informasi profilnya minim sekali, hanya ada nama, gender, dan alamat rumah. Wonosobo, kota kecil nan dingin di kaki gunung Sindoro, tempat kelahiranku. Dan foto? satu-satunya picture yang dia pasang adalah gambar anak panah ga ada yang lain. 

Ardit Zie. 
"Hellow cantik, udah makan belum, nih? Sekarang jadwalnya curhat menulis, kan?" 

Inbox dari jin Zie. Nah, tho... Dia tahu sekarang aku sedang diberondong tentang bermacam-macam pertanyaan seputar menulis. Tentang ide lah, tema lah, plot, write block, mood, dan beragam pertanyaan lainnya. 

Yuri Jeet. 
"Udah makan nasi kok, tapi lagi pingin makan orang. Rese!" 

Puas aku setelah ku klik send untuk membalas inboxnya. Tapi dasarnya jin Zie itu muka badak, maka meski aku maki-maki tetap saja dia inbox aku. Terkadang nyolek, atau nulis di dindingku, dan yang paling membuat jengkel, dia nge'like' semua yang bisa di like. Hadeh, menuh-menuhin notification. 

Ardit Zie. 
"Jangan galak-galak dong, nanti ditempelin ulet bulu warna ijo, loh" 

Tuh contohnya. Jin Zie tahu aku paling takut sama ulet bulu, apalagi yang warna hijau, hyiii 

Yuri Jeet. 
"Mending ditempelin ulet bulu daripada liat muke elu, amit-amit!" 

Pedes memang jawabannya, tapi sebodo amat! 

Ardit Zie. 
"Ih, imut deh kalo marah. Jadi pingin beli'in boneka spongebob" 

Satu lagi fakta yang tepat. Sebenarnya siapa jin Zie ini? Dia juga tahu aku penggemar berat tokoh kartun bawah laut spongebob. Kyaaaaa 


@@@ 

Niat hati mau refresh otak dengan buka facebook, tapi malah terkadang tambah bete karena Fb ku sekarang ada pengganggunya, dia adalah Jin Zie. 

Aku ingat-ingat lagi, dulu jin Zie yang pertama nge-add aku. Salah aku juga ga selektif confirm pertemanan, jadi beginilah akibatnya. Bisa saja aku block jin Zie dan semuanya beres. Akan tetapi saat aku iseng lihat info profilnya, disitu telah ditambahkan SMAKANZA sebagai educationnya. Itu kan sekolahku dulu? Alhasil aku cancel lagi niat memblokir jin Zie. 

Ardit Zie. 
Jika mawar telah berguguran kelopak bunganya 
Dan pula telah berjatuhan daun-daunnya 
Maka hanya duri-duri tajam yang tersisa darinya 
Onak yang hanya akan mengoyak siapapun yang menyentuhnya 
Namun, aku masih berdiri di sin 
Menatap dengan segala kekaguman hati 
Dan bahkan jika harus terluka karena menyentuhnya 
Itu akan jadi luka terindah yang pernah aku rasakan. 

5minute ago. 
1 like coment wall to wall remove 

Puisi di pagi hari dari jin Zie. Tak kusangka, makhluk halus satu ini pintar juga berpujangga. Sebenarnya ingin sekali aku coment, tapi aku urungkan. Bisa-bisa cuping hidung jin Zie kembang kempis karena merasa kuperhatikan. 

Tunggu dulu, aku sepertinya kenal puisi itu, tapi dimana? Aku berusaha kuat untuk mengingatnya, namun tetap tak kutemukan kapan dan di mana aku pernah membacanya. 

"Ayolah jin Zie, jangan buat aku makin penasaran." ucapku gemas. Wedew, tidak mungkin. Aku bukan mulai peduli, ya. Tapi cuma ingin tahu saja orang di balik jin Zie ini. 

Atau aku tanya saja no hpnya lewat inbox Fb, lantas aku telpon dia dan setidaknya dari suaranya ada sedikit petunjuk tentang jin Zie ini? Oh, tidak! Aku tak mungkin melakukan itu. 

Alright, jin Zie. Pagi ini kau sukses membuatku makin penasaran. Eh, bukan, tapi membuatku makin benci terhadapmu. Karena sampai sekarang pun aku tak tahu siapa kau! Halah, ga beda jauh. Intinya aku kepikiran jin Zie. 

@@@ 

From : +6281319XXX 
To : Ndek ku dewe 
Ayu, lebaran thn ini plg g? mo ada reunian. 

From : Ndek ku dewe 
To : +6281319XX 
Cp nieh? reunian di mana? yg jelas kek inpohnya :-P 

From : +6281319XXX 
To : Ndek ku dewe 
Sori non, lupa. q binar ingt g? kt dlu 1 kls di 3Ak2. Besok lbran ke-5 mau ada reuni akbar SMAKANZA, dtg y... ;-) 

From : Ndek ku dewe 
To : +6281319XXX 
Ealaaah binar no ak ingt lahh... 
piye kbre jenk? insya4JJI ak dtg :-) 

From : +6281319XXX 
To : Ndek ku dewe 
Sip, kbrq apk buanget. kbtln q jd pntia. bnrn dtg y... 
Pndftrn noban, dpt sticker 5 snack. acr jam 9pg. Ada hbrnnya jg loh, bkln nyesel klo g dtg! 

From : Ndek ku dewe 
To : +6281319XXX 
Iye bu bos... tak usahain dtg wis. hbrnnya apa? nek ndolalak jotek ak :-D 

From : +6281319XX 
To : Ndek ku dewe 
hbrne embleg! wkwkw 
bkn ding, tmn sekelas kita dl yg nymbg band nya wat nyanyi. Viska, km pstnya inget dong... secara ehm ehm... 

From : Ndek ku dewe 
To : +6281319XXX 
Hhhm, viska mantan ku kah? @_@ dtg ga y... :-D 
jd ragu, takut dia CLBK kalo ktmu lg ma ak wakakakak 

From : +6281319XXX 
To : Ndek ku dewe 
iya dech... cp sih yg ga kesengsem sama ayu... :-P 
pokoknya dtg, kudu! 

From : Ndek ku dewe 
To : +6281319XXX 
sip! insya4JJI 
:-* 


Yes! Kesempatan datang juga. Karena sekolahku mau mengadakan acara reuni akbar tentunya ada peluang membuka kedok jin Zie. Tapi, dia angkatan tahun berapa ya? Sampai sekarang pun aku belum tahu apa-apa tentangnya. Bahkan dia teman sekelasku dulu atau bukan juga aku ga tahu. Setiap kali dia inbox yang ada cuma saling ejek mengejek, meski kebanyakan aku yang ngejek, sih. Atau kalau tidak, aku selalu tak pernah balas ajakan chatingnya, malas. Sekarang baru ngerasa kuciwa, kenapa waktu itu ga nanya? 

Atau, haruskah ku inbox duluan? Oh, no no no! Lain kali saja, dia pasti inbox aku, itu pasti! 


@@@ 

Sudah ada satu minggu aku tidak membuka Fbku, pasti sudah banyak sekali notificationnya. Di dunia nyata aku sedang sibuk launching buku baruku di radio-radio. Ternyata aku bisa kangen juga sama Fb. Malam ini, ada sedikit waktu senggang untukku, dan aku langsung berselancar ke dunia maya. Sudah barang tentu jin Zie online. Namanya saja jin, dia ga pernah tidur! 

Ardit Zie : Cantik, sukses ya acara promo bukunya. 
Yuri Jeet : Alhamdulillah, kok tahu? 
Ardit Zie : Tahu dong... :-) 
Yuri Jeet : Hhmm... 
Ardit Zie : Lebaran pulang ga nich? 
Yuri Jeet : Insya Allah... 
Ardit Zie : Berarti bisa dateng ke reuni akbar SMAKANZA dong... 
Yuri Jeet : Insya Allah... 
Ardit Zie : Bisa ketemuan dong... 
Yuri Jeet : Insya Allah... 
Ardit Zie : Hhmm... :-P 
Yuri Jeet : Emang kamu mau dateng? 
Ardit Zie : ga bisa T.T 
Yuri Jeet : Kenapa? 
Ardit Zie : Ya ga bisa aja lah... 
Yuri Jeet : Bilang aja takut. 
Ardit Zie : Takut? maksutnya? 
Yuri Jeet : Takut ketemu aku dan kedokmu terbongkar lah... 
Ardit Zie : Hahaha, iya juga ya? 
Yuri Jeet : Hhmmm. 
Ardit Zie : Tapi ada yang lebih aku takutin. 
Yuri Jeet : Apa? 
Ardit Zie : Takut tambah sayang ama kamu. 
Yuri Jeet : Cuih, gombal! 
Ardit Zie : Lah, beneran kok. Coba diinget, berapa cowok di SMAKANZA dulu yang nembak kamu. 
Yuri Jeet : Tiga eh empat. 
Ardit Zie : Itu yang nembak, kalau yang kagum buuanyaak non. Hampir semuanya malah. 
Yuri Jeet : Lebay! 
Ardit Zie : Dibilangin ga percaya, rata-rata begitu kok. Tapi jarang yang berani ngungkapin. 
Yuri Jeet : Kenapa? 
Ardit Zie : Minder lah. Kamu cantik, smart, ramah, berprestasi. Terlalu indah untuk diraih. Terlalu cemerlang. 
Yuri Jeet : Bintang kalee 
Ardit Zie : Lebih bercahaya dari bintang, lebih terang dari rembulan. 
Yuri Jeet : LOL! udah ah, mau off. 
Ardit Zie : Okey dech cantik. Bye-bye. 
Yuri Jeet : Bye. 
Yuri Jeet : Offline 

Jadi makin penasaran dengan makhluk satu ini. Ayolah jin Zie, tunjukkan wajahmu! 



@@@ 


Bertemu teman-teman masa SMA rasanya seperti kembali remaja lagi. Dimana masa paling indah adalah masa SMA, masa transisi dari ABG ke dewasa. Di masa inilah kita membutuhkan pengakuan "Jangan anggap aku anak-anak lagi, aku sudah dewasa sekarang. Aku sudah SMA." mungkin hampir begitu ucapannya. 

SMK N 1 Wonosobo sekarang banyak yang berubah, tambah bersih, peralatan tambah kumplit, dan tentunya tambah maju. Tak menyesal aku dulu pernah menuntut ilmu di sini. Sekolah yang memberiku segudang pengalaman, dan tentunya turut andil dalam membentuk diriku menjadi seperti yang sekarang ini. Tak lupa juga karena peran guru-guru di sekolah ku tercinta ini. 

Aula Krida Loka belum teramat ramai, namun sudah hampir penuh terisi alumni yang akan menghadiri reuni. Setelah kuselesaikan regristrasi, aku mencari-cari teman-teman sekelasku dulu dan bergabung dengan mereka. Ternyata banyak sekali kejutan yang kudapat. Kebanyakan profesi atau bahkan nasib teman-temanku dulu teramat mengejutkan. Di sini lah aku tersadar, bahwa semua yang ada di dunia ini adalah takdir Tuhan. Tak ada yang tahu akan seperti apa kita nantinya. Akan bagaimana nasib kita kedepan, semua adalah misteri. 

Acara reuni berlangsung dengan meriah. Perform demi perform berjalan lancar. Seperti yang Binar bilang, Viska ikut tampil dalam memeriahkan acara. Cowok yang dulu pernah mengisi hatiku itu tak banyak berubah. Masih tetap cakep, baik dan penyabar. Sejak dulu begitulah sifatnya, itu yang membuat aku menerima cintanya. Meskipun membutuhkan waktu yang amat panjang, Viska teramat sabar dan telaten meraih hatiku. 

Selesai perform, Viska menghampiriku. Cowok bermata indah itu menyapaku. 

"Hai, Ayu. Apa kabar? Denger-denger sekarang jadi penulis hebat, ya?" tanyanya padaku. 

Aku berusaha menjawab senormal mungkin. Aku tak ingin dia tahu bahwa... Tidak, dia tak boleh tahu. Viska sudah jadi masa laluku dan kini kita teman biasa. 

"Baik, kamu sendiri gimana kabar? Sibuk apa sekarang?" 

"Baik juga, Yu. Aku bantu-bantu Papa aja di kantor. Sudah berapa banyak buku karyamu, Ayu? Ternyata impianmu terkabul, ya." 

Ya, Pak Goenawan. Beliau dulu tak merestui hubungan kami, dan Viska adalah anak yang teramat penurut kepada orang tuanya. Sudah barang tentu dia lebih memilih menuruti perintah papanya dari pada mempertahankan hubungan kita. 

"Alhamdulillah, semua berkat kerja keras," jawabku. "Bagaimana kabar keluargamu, baik kan?" 

"Baik, Yu. Cuma Mas Zildan yang sedang sakit." 

Aku terkejut mendengar perkataan Viska barusan tentang Zildan. Dia adalah kakak kandung Viska. 

"Mas Zildan sakit apa, Vis?" 

"Kecelakaan, Ayu. Dan terpaksa kakinya harus diamputasi." 

"Aku turut sedih mendengarnya." 

"Terimakasih. Oya, mumpung pulang ke Wonosobo, main ke rumah, yuk. Sepertinya dapet kebanggaan tersendiri didatengi tamu penulis terkenal." 

"Ah, kamu bisa aja. Aku tetep sama kaya dulu, kok. Ga ada yang berubah." 

"Jadi, mau ga nih main ke rumah?" 

"Boleh, sekalian mau jenguk Mas Zildan." 

Aku menyetujui ajakan Viska. Aku pikir ga ada salahnya bersilaturohmi. Sudah lama juga aku tak mengunjungi rumah Viska. Sesampainya di rumah mantanku, aku disambut hangat oleh mamanya. Wanita paruh baya itu masih tetap cantik. Meski rambutnya sudah dihiasi beberapa helai uban, tapi dia masih terlihat anggun. 

"Nak Ayu, lama tak ketemu. Sekarang jadi orang sukses, ya?" sapanya ramah kepadaku. "Mari masuk, Nak," lanjutnya. 

"Iya, Bulek.Terimakasih." 

Aku memasuki rumah yang dulunya sering ku kunjungi. Keadaannya tak berubah, masih sama seperti dulu tetap bersih dan rapi. Viska mempersilahkan aku duduk di ruang tamu dan aku menurutinya. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Tak sengaja mataku menatap beberapa buku yang sangat kukenal, sepertinya itu buku karyaku. 

"Itu buku koleksi kak Zildan, semua karya-karyamu. Dia penggemar beratmu, makanya dia pasti seneng banget kamu datang ke rumah ini. Itung-itung ketemu idola." Viska berujar. Sepertinya dia mengetahui keherananku. 

"Oya?" 

Aku mengambil salah satu buku, kubuka bagian depannya dan aku langsung terkesima membaca tulisan yang ada di dalamnya. 

Namanya Cinta 
Selalu bikin hati penasaran 
Coba disentuh dia malah menjauh 
Sedikit menghindar dia malah mengejar 
Namanya juga cinta, kalau ga bikin deg-deg an rasanya ga sempurna. 

by : Ardit Zie. 




Tamat. 

Taiwan in Sofa kedamaian 
28112011 
Jeet Veno_Mena Ayu.

GARIS TANGAN TUHAN




"...Mom, please tell him, I'm here..." 


What? Imposible! Nggak akan mungkin aku lakukan. Apa kau pikir itu hal mudah? Memberitahukan kepada semua orang keberadaanmu? Lalu bagaimana masa depanku? 

Ringan sekali kau bilang itu, karena kau tak merasakannya. Telingamu tak akan pernah mendengar nyinyirnya orang bicara. Matamu tak akan melihat secara langsung muka orang yang memandangku dengan jijiknya. Dan hatimu tak akan merasakan sakitnya dihakimi tanpa bisa membela diri. 

Ini salah siapa? Oke, salahku karena tak bisa menjaga hal ini terjadi. Sekarang lihat, pakianku rapat, sholat tak pernah alpha, mengaji pun rutin. Solehah, itu sudah melekat sebagai image-ku, tapi ini masih saja terjadi padaku. Aku tak mengundang syahwat mereka, bahkan aku menghindarinya. Kenyataannya masih saja hal ini menimpaku. Dan kau lihat, wanita-wanita yang membuka aurat itu, yang memamerkan tubuhnya setiap waktu, yang sholat pun tak pernah bahkan tak kenal huruf hijaiyah. Kenapa bukan mereka saja? Adilkah? 

Malam itu aku pulang mengaji, menimba ilmu Tuhan. Belum terlalu malam untuk ukuranku, sekitar jam 8 petang. Dan kejadian naas itu terjadi. Aku dihadang 2 orang preman yang sedang mabuk alkohol. Mereka dengan ganasnya merenggut kesucianku, seperti hewan melahap mangsanya. Asal kau tahu, aku tidak diam saja saat itu. Aku meronta, menjerit sekuat tenaga, meminta pertolongan pada siapa saja. Namun tak ada yang peduli. Bahkan para biadab itu meninggalkanku begitu saja tanpa sehelai benangpun di lorong gang sempit. 

Dan kemudian aku hanya bisa menangis tersedu. Aku sudah tak mampu lagi berteriak, tak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang kulakukan hanya memeluk lututku untuk menghalau dinginnya malam, sambil mengumpulkan sisa-sisa tenagaku untuk bangkit. Untukku berdiri lagi dan berjalan meninggalkan lorong biadab ini. Dan selanjutnya, aku harus melangkah menghadapi garis takdir Tuhan di kemudian waktu. Serta meninggalkan semua kelu yang baru saja kurasakan. 

@_@ 

Kemudian setelah hari itu, aku tak pernah tenang menghadapi semuanya. Aku gelisah, aku rapuh, aku galau, kau tahu kenapa? Aku trauma. Setiap malam aku dihinggapi mimpi buruk, mimpi yang sama, perasaan yang sama. Aku takut kalau itu terjadi lagi dan lagi. Bahkan untuk keluar kamar pun aku tak mampu. Bukan aku tak punya tenaga, namun aku tak bisa. Dalam pikiranku, biadab-biadab macam mereka pasti banyak berkeliaran di semua tempat. Tak perduli di tempat yang ramai, atau pun sepi. Di tempat yang aman maupun rawan. Makhluk bengis itu selalu ada dan tak kan pernah hilang. Namun semuanya telah terjadi padaku, aku harus berani menghadapinya sendiri. Meskipun kalau boleh jujur, aku butuh perlindungan. 

Dan kau hadir setelahnya. Saat aku begitu kalut menghadapi trauma. Kau tumbuh dengan sempurna dan nyata. Mungkin bagi sebagian orang kau buah cinta, tapi aku? Pantaskah kau kusebut begitu? Dan tanpa belas kasihan kau memberiku beban yang lebih berat lagi. Mempertahankanmu, membiarkanmu mengenal dunia yang kutahu itu adalah hak mu. Ini semua tidak mudah. 


@_@ 


Baiklah, kau perlu tahu ini. Saat ayah dan ibuku tahu aku mengalami perubahan, mereka menanyakan apa yang terjadi padaku, dan aku ceritakan semuanya. Berikutnya aku jadi merasa bersalah. Ayahku marah besar, dan ibuku menangis tersedu. Di wajahnya tersirat kemarahan dan bercampur kekecewaan yang entah ditujukan kepada siapa. Mungkin juga ditujukan untukku. Aku anak gadis satu-satunya. Di pundakku lah harapan meraka nantinya diletakkan. Dan kini semua sirna dalam sekejab. Tak ada lagi yang bisa mereka banggakan dariku, tak ada sesuatu yang bisa mereka harapkan dariku . Tak ada sama sekali. Apa dengan begitu aku harus diam saja? Hatiku pedih karenanya. 

Keadilan. Untuk hal ini juga kau perlu mengerti. Orang tuaku melapor ke pihak berwajib minta kasusku diusut tuntas. Setidaknya manusia berwatak hewan yang telah mengotoriku itu bisa diberi ganjaran setimpal. Katakan saja lima atau sepuluh atau mungkin hanya tiga tahun penjara. Namun, oknum yang diharapkan menjadi tempat perlindungan itu meminta hal yang teramat mengecewakan. Mereka minta barang bukti, hasil visum yang mengatakan semua ini terjadi karena paksaan, bukan suka sama suka. Jelas saja aku tak punya barang bukti. Tak ada saksi mata waktu hari naas itu terjadi. 

Oya, penegak keadilan itu menyayangkan tindakanku yang tak segera melapor setelah kejadian. 

Gila! Para pelindung masyarakat itu berpikir, seharusnya setelah biadab-biadab itu puas menggagahi aku, maka aku harus segera mengumpulkan barang bukti berupa sperma pelaku. Entah dilap pake tissu atau kain atau apapun. Kemudian pergi ke kantor polisi dan melapor kepada petugas yang jaga bahwa, 

Pak, saya baru saja diperkosa! Ini buktinya. 

Bukan seperti tindakan bodoh yang kulakukan, menangis memeluk lutut mengumpulkan sisa-sisa kekuatan untuk mencoba bangkit dan bertahan. 

Lain ceritanya kalau aku mati kala itu dan meninggalkan surat wasiat bahwa aku korban pemerkosaan. 


@_@ 


Banyak faktor mengapa aku menginginkanmu pergi, sebagai contoh : 

Pertama masa depanku. Umurku masih belia, belum genap 17 tahun. Dan aku masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Andai kau kupertahankan, bagaimana dengan sekolahku? Bisa jadi aku berjuang mengeluarkanmu sedang teman-temanku berjuang mengerjakan UNAS. Setelah mereka lulus, akan dihiasi kebahagiaan dan berlomba-lomba meraih universitas impian. Sedangkan aku? Akan berkutat dengan popok dan ASI eksklusif. 

Yang kedua. Jauh sebelum yang pertama terjadi. Andai aku menikah untuk menutupi adanya dirimu. Yang jadi pertanyaan adalah, adakah orang yang mau menerima keadaanku? Dengan kejamnya dunia saat ini, orang yang mau menikahiku pun minta bayaran uang. 

Lantas yang ketiga. Andai opsi yang kedua dibalik. Aku tidak menikah dan nekat membesarkanmu sendiri. Apa kata orang nantinya? Cap buruk pasti akan menempel di kehidupan kita selamanya. Ingat! Selamanya. Tidak hanya saat kau masih dalam perut atau saat kau sudah lahir, namun ketika kau telah tumbuh besar pun cap buruk itu akan terus ada. Anak haram, akan selalu melekat di dirimu. Tak ngeri kah kau mendengarnya? 

Oke, yang keempat. Mempertahankanmu itu tidak mudah. Mengandungmu selama 9 bulan itu melelahkan. Melahirkanmu ke dunia itu menyakitkan. Taruhannya nyawa. Dan membesarkanmu itu yang paling sulit. Tidak hanya memberi makan, tapi memberimu kehrdupan yang layak. Lantas mendidikmu kepandaian dan menjadikanmu pribadi yang baik itu juga teramat susah. Kau tahu? Semuanya nanti dimintai pertanggung jawaban oleh sang pencipta manusia. 

Dan masih banyak alasan-alasan lain yang melatar belakangi keinganku agar kau tak ada di hidupku. Yang tak mungkin kujabarkan satu per satu di sini. 

Sekarang dengan mudahnya kau bilang, "Aku mohon, Bunda. Biarkan aku ada." 

Baiklah jika kau memaksa. Sebutkan satu alasan, cukup satu saja mengapa aku harus mempertahankanmu. Dimulai dari sekarang. 


@_@ 


Sore itu aku berada di alun-alun kota. Suasana tak begitu ramai, pas sekali untuk orang-orang yang ingin ketenangan sepertiku. Aku duduk di bangku bagian pinggir alun-alun. Tak jauh dari tempatku berada, ada seorang wanita. Aku lihat dari wajahnya kisaran umur 35 tahunan. Wanita itu duduk termenung dengan mata menerawang entah kemana. Dan untuk selanjutnya kulihat wanita itu mulai menitikkan air mata. Entah mengapa aku jadi terharu melihatnya, maka kuberanikan diri mendekatinya dan menawarkan tissu yang kubawa. 

"Mbak kenapa menangis?" 

Dia menatapku sekilas dan menerima tissu yang kuulurkan. 

"Terimakasih," jawabnya singkat. 

Kubiarkan dia tenang dan puas menumpahkan air mata. Aku hanya terdiam di sebelahnya. Tak berapa lama setelah tangisnya reda, wanita itu mulai bertutur kepadaku. 

"Aku dicerai suamiku, Dik." Katanya memulai cerita. "Aku bukan wanita sempurna." 

"Mbak itu cantik, diluar sana banyak orang yang mau menerima Mbak apa adanya, itu pasti." Aku mencoba menghibur. 

Aku tak tahu apa kata-kata yang tepat untuk membesarkan hatinya, aku sendiri juga sedang galau. 

"Kecantikan itu tak ada arti," kata wanita itu. 

Aku mengerti perasaannya, dia sekarang sedang merasa teramat putus asa. Aku bisa maklum karena aku juga sedang mengalami hal yang sama, meski berbeda kasus. 

"Semua orang punya kekurangan dan kelebihan, aku yakin Mbak bisa melewati ini semua." 

Sebenarnya aku tak yakin pada kata-kataku sendiri. Apa aku juga bisa melewati semua? 

"Kau tahu kenapa suamiku menceraikanku?" Wanita itu bertanya padaku. Tentu saja aku mengggeleng. 

"Tidak." 

"Aku bisa mencapai segalanya, Dik. Karirku cemerlang, uang tak jadi masalah dalam keluarga kami. Aku juga wanita setia, begitupun suamiku. Tapi..." Wanita itu terdiam, dia tak melanjutkan kata-katanya. 

"Tapi apa, Mbak?" aku mulai penasaran. 

"Tapi aku bukan wanita sempurna. Aku tak bisa memberikan suamiku keturunan. Aku tak bisa hamil," katanya. 

Semuanya terdengar begitu mengejutkan bagiku. Wanita itu tak bisa hamil? Mandulkah? 

"Andai bisa bertukar tempat, aku ingin berada di tempat itu. Di dalam diri wanita yang bisa hamil. Karena itu adalah hal yang menyempurnakan kita sebagai wanita." Dia melanjutkan ucapannya lagi. 

Dari sini aku sudah tidak bisa berpikir jernih. Mataku mulai meremang. 

"Kau tahu? semua harta, jabatan, bagiku tak ada arti. Aku hanya ingin bisa hamil, bisa melahirkan dan mempunyai keturunan untuk aset di masa tua. Aku ingin punya anak. Bisa menggendongnya, memeluk tubuh mungilnya." Wanita itu masih terus bercerita. 

Aku sudah tak sanggup lagi mendengarnya. Air mataku mulai menetes. 

"Bisa mendengar tangisnya, mengajaknya bercanda. Aku merindukan hal itu, Dik. Aku ingin di dalam perutku ini ada bayi tumbuh," lanjutnya lagi. 

Tidak! Aku menggeleng kuat. Aku tak kuasa mendengarnya lagi. Rasa bersalahku muncul bersamaan dengan tanganku meraba perutku yang masih rata. 

"Please forgive me, honey. Kita hadapi semua bersama, ya. Bunda pasti melindungimu," bisikku pada dirimu. 

Selesai. 

Taiwan in Sofa kedamaian. 
29112011. 
Jeet Veno_Mena Ayu.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites