Terlalu rapat. Kau menyiksa dirimu sendiri, mendzolimi hatimu.
Terkenang ucapan Jeet sahabatku.
Bukan, aku tak sedang memilih. Namun aku sedang mencari atmosfir yang pas dan nyaman untuk kuhirup.
"Kurang apa Candra di matamu, Bunga? Dia tajir, cakep, setia, tapi tetap kau bilang tak menarik?"
"Hatiku tak bergetar kala bersamanya, Jeet," dustaku.
Candra memang perfect, tapi kesukaannya terhadap bola yang menghantuiku. Aku benci bola, dan aku pun tak ingin pasanganku menyukainya. Egois memang, lantas apa aku salah?
"Dulu sebelum Candra juga kau mengatakan hal yang sama, belum cocok di hati. Sebenarnya type lelaki yang seperti apa yang kau cari, Bunga?"
Aku terdiam.
"Jangan kau bilang yang seperti belahan jiwamu itu. Dia sudah mati."
Aku membisu.
"Kau harus melupakannya jika tak ingin terus menerus hatimu terdzolimi."
Jeet beranjak dan meninggalkanku sendiri. Terpaku bersama kelebat memori satu per satu teringat. Tergambar jelas bagai film yang sedang diputar ulang.
"Tidak! Dia tidak mati."
Aku tak terima, belahan jiwaku masih ada, di sini. Sambil kusentuh dada sebelah kiriku.
*****
Senyumnya menawan, matanya tajam. Mirip. Dan yang pasti ada getar aneh meski aku cuma mendengar namanya disebut. Dia tak sekaya Candra, tak sebaik Febri, tak seganteng Yudo. Bagiku dia, menarik.
"Bagaimana? Mungkinkah kali ini kau siap membuka hatimu? Sudah saatnya kau jatuh cinta, Bunga."
Jeet yang setia, paling semangat mencarikanku pengganti belahan jiwa.
"Sepertinya," ucapku tersipu.
"Nah, gitu dong. Dunia ini indah sista, rugi jika kau sia-sia kan."
Senyumku mengembang indah, manis seperti perkenalanku dengannya. Namanya Zai, adik kelasku dulu waktu SMA. Tak menyangka saja aku bisa respect dengannya. Umurnya lebih muda di bawahku 2 tahun.
"Jadi, dia bilang mau melamarmu, Bunga?" jerit Jeet riang.
Dia melompat girang seperti baru saja menang lotre.
"Kamu harus menyiapkan segalanya dari sekarang. Aku punya kenalan fotografer yang top. Usulku kebayanya nanti warna biru saja, Bunga. Kalau putih sudah kuno. Dan... . "
"Terlalu buru-buru, Jeet. Ini juga baru rencana. Aku belum...." kugantungkan kalimatku.
"Belum apa?" kejar Jeet. Matanya sudah mulai melotot diiringi tangannya berkacak pinggang galak.
"Aku belum mandi, hihihi." kelakarku.
Aku suka menggodanya. Dia kalau marah tambah cantik. Sahabat dan kakak sekaligus pelindung terbaikku.
"Huh, pantas saja asem. Sana mandi!"
Dilemparnya handuk ke mukaku seraya mengacak rambutku dengan sayang.
"Jangan sampai Zai tahu kebiasaan burukmu yang malas mandi ini. Bisa-bisa nanti dia tak jadi melamarmu. Cewek jorok."
Aku terkikik geli dan berlari ke kamar mandi.
Jeet menggelengkan kepala.
*****
Harum bawang goreng menyeruak diantara asap dapur. Sentuhan terakhir dari mie rebus buatanku.
"Aromanya membuatku lapar. Tumben kau masak, Bunga."
Suara Jeet yang tiba-tiba sudah berada di rumah mengejutkanku.
"Special kubuat dengan cinta," selorohku.
Ya, aku ingin memberi sedikit kejutan untuk Zai. Biasanya jam segini dia baru pulang kuliah. Meski cuma semangkuk mi rebus.
"Jangan lupa segelas rindu dan sepiring kasih dibawakan untuknya, Bunga. Pasti Zai langsung klepek-klepek," teriak Jeet.
Aku tersipu dan sedikit berlari meninggalkannya sendiri. Dengan debar di dada, kubawa mi rebus penuh cinta untuk sang pujaan hati.
Kamar kost itu seharusnya sepi, tapi sore ini lumayan rame. Mungkin sedang ada tamu. Tapi....
"Permisi, Pak. Selamat sore. Apa Zai ada di dalam?" tanyaku pada orang separuh baya yang kutahu Bapak kost Zai.
"Kamu teman nak Zai?"
Aku mengangguk ragu.
"Dia baru saja dibawa polisi. Zai ditemukan over dosis di kamarnya."
Semangkuk mi rebus di tanganku terlepas. Isinya berhamburan keluar dan mangkuknya pecah. Berkeping dan tak terbentuk lagi, seperti harapanku kala itu.
Musnah.
****
"Maafkan aku belahan jiwaku. Belum ada yang menggantikan tempatmu di hatiku."
Kuusap tubuh kurus itu sekali lagi. Berbagai macam selang menempel hampir di seluruh tubuhnya. Jeet mondar-mandir dengan gusar.
Aku terisak.
"Sudahlah, Bunga. Ini bukan salahmu. Semua suratan takdir. Kau tak berhak menyalahkan dirimu sendiri," hibur Jeet padaku.
"Andi aku mau mendengarnya hari itu, pasti ini semua..."
Jeet memelukku erat sekali.
"Tidak Bunga. Itu cuma kebetulan saja."
Ya. Semuanya serba kebetulan. Kebetulan saja dia sedang menonton bola. Kebetulan saja dia bercanda dengan temannya tentang transaksi taruhan bola yang kubenci. Kebetulan saja aku mendengarnya. Dan apakah juga kebetulan jika aku marah karena keasyikan menonton bola dia jadi lupa janjinya menjemputku?
"Aku egois, Jeet. Aku tak mau mendengar penjelasannya waktu itu. Aku tak mau memaafkan kesalahannya yang terjadi baru pertama kali. Aku..."
Bahuku terguncang hebat.
"Aku pantas menerima semua ini. Di umurku yang sekarang belum juga menemukan tambatan hati."
"Sudah cukup Bunga. Berhentilah menghakimi dirimu sendiri," teriak Jeet.
Ditatapnya mataku tajam, kemudian beralih ke tubuh kurus yang tergolek lemah di ranjang.
"Dengar! Tak kasihankah kau pada Bunga? Dia mengutuki dirinya sendiri karena kau terlalu lama koma dan tak bergerak. Jika kau memang belahan jiwa sahabatku, cepat sadar, bangun dan bahagiakan dia," teriak Jeet.
Suaranya menggema sampai di koridor rumah sakit.
Tamat.
Jeet Veno_Mena Ayu.
Taiwan, 010512.
MAYDAY.
0 Suara:
Posting Komentar